Powered By
widgetmate.com
Sponsored By
Digital Camera

“Kendali sepenuhnya ada di tangan Anda!” Kabar apa lagi itu?

Saya punya teman yang selalu bicara soal kemiskinan. Setiap tulisan di mana saja (termasuk facebooknya), selalu saja dia berkutat seputar masalah ini. Seputar mak-mak penjual sayur yang digusur Satpol PP, yang tak tahu dimana harus berjualan lagi, karena lapaknya sudah dimusnahkan. Tentang sohibnya Udin (bukan temannya Afdel dan Temon, lho), yang tengah dicarinya, karena si Udin ini tidak tidur lagi di emper-emper kaki lima dimana dia biasanya tidur. Tentang Pak Karto yang mati, akibat tak punya uang untuk mengobati sakitnya karena banyak berjemur ketika mengemis. Wah.. Hidup ini benar-benar berat baginya! Kemana pun dia memandang, yang ada cuma kekurangan!


Temanku yang lain justru sebaliknya. Dia selalu menulis atau bicara soal keberlimpahan anugerah yang Tuhan karuniakan untuknya, untuk keluarga dan teman-temannya. Tentang udara yang gratis yang jumlahnya tak berbatas, yang membuat setiap insan merasakan nikmatnya hidup. Tentang kesehatan prima yang membuatnya mampu menunaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk sempurna di muka bumi. Tentang anak-anaknya yang lucu yang bertumbuh membanggakan dan membahagiakan. Tentang cinta dan kasih sayang yang tulus yang terlahir dari hati yang terus dibersihkan, yang mengalir di setiap pori-pori sang kehidupan yang di percayakan Sang Pencipta kepadanya. Tentang rasa syukurnya yang tak terhingga karena sampai saat ini Sang Khalik selalu bersamanya menemaninya dalam suka duka kehidupannya, mengabulkan setiap lafaz doanya, dan terkadang menundanya untuk kebaikannya. Pendek kata, kemana pun mata si teman ini memandang yang ada di sana hanya keindahan. Ada cakrawala yang berhiaskan pelangi! Ya, pelangi sehabis hujan yang menyejukkan.

Kontradiktif, bukan? Meski pun mereka tinggal di kota yang sama, dengan keadaan perekonomian yang relatif tak jauh berbeda. Sama-sama baru mulai “kehidupan”, dan latar belakang keluarga yang sangat mirip – sama2 punya anak dua, sama-sama sarjana (yang pertama S2, yang kedua justru S1), dan sama-sama guru, malah yang pertama sempat tinggal di benua yg lain – tapi sayangnya yang mereka lihat adalah realitas kehidupan di sekitarnya yang bertolak belakang. Lalu saya membatin (sebagai pengamat yang selalu terpana), “Siapa sejatinya yang benar?”

Dari cerita di atas saya menjadi ingat kisah dua orang napi yang memandang ke luar melalui jeruji besi sel mereka, mereka merenung, karena minggu depan mereka sama-sama akan dibebaskan. Napi yang satu memandang lumpur yang kotor dengan hati yang miris, penuh dengan kesedihan menghadapi kenyataan hidup yang mungkin akan dihadapinya nanti di luar penjara. Yang lainnya memandang langit yang biru dengan awan putih yang begitu cerah, hatinya bergelora dengan rasa syukur yang tak terhingga, menanti hari yang bersejarah dalam hidupnya. Kebebasan! Ya, kebebasan!

Menurut Anda napi yang mana yang kemudian menjadi ustad dan siap yang kemudian masuk lagi penjara karena kasus yang sama?

Ada yang menasehati saya seperti ini, “You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.” (Anda bisa mengeluh karena mawar ada durinya, atau Anda bisa bergembira karena duri ada mawarnya).

Nah, jadi berbahagia sajalah, karena hidup adalah masalah pilihan, life is just a matter of choices! Pandang lumpur atau pandang langit dari jendela rumah kehidupan Anda, semuanya sama-sama tersedia dihadapan Anda, dan kendalinya sepenuhnya ada di tangan Anda. Kedua kondisi ini sama-sama nyata. Itu adalah realitas yang tak tersangkalkan yang sedang terjadi di depan mata. Yang mana yang fakta? Kedua-duanya! Yang mana yang realitas? Ya, kedua-duanya. Persepsi saja yang berbeda. Persepsi akan bermuara pada ucapan dan perilaku. Ucapan dan perilaku yang berulang akan memformat habitus dan lalu menjadi nilai-nilai (values) kehidupan, yang pada gilirannya akan mempertemukan kita dengan Sang Nasib.

Baik, lupakan saja sang nasib tadi. Perkenankan saya mengulangi kalimat, “Kendali sepenuhnya ada di tangan Anda!” Kabar baikkah itu? Tentu saja itu kabar baik, walau kadang kebanyakan teman-teman saya (mungkin saya juga) tidak menyadari ini, dan akhirnya melepaskan kendali pada stimulan dan kondisi di luar diri. Kita menjadi responsif, bukan proaktif. Kita menjadi objek, bukan subjek, kita menjadi victim Sang Nasib, lalu dengan jengkel mencari si Nasib Simarmata (ini kawan kuliahku) untuk disalahkan!

Ah, mari menjadi subjek saja. Bagaimana? Mari menjadi raja atas hati dan jiwa kita. Mari menjadi penentu nasib kita. Tak bosan-bosannya aku mengingatkan diri tentang ini. Ya, tak bosan-bosannya kata-kata ini keluar dari mulutku, yang seperti tak mau diam! Semoga ketidakbosanan ini lalu memformat nasib! Nasib, tapi bukan Nasib Simarmata, teman kuliahku di Fakultas Hukum, dulu.. sudah lama. Ya, cukup lama aku tak bersua dia.[]

Read More......

Coba berhenti sejenak. Renungkanlah. Anda dan saya adalah satu. Apakah ini kabar baik bagi kita, atau sebaliknya?

Seperti yang Anda ketahui, bahwa apa pun yang ada di semesta raya ini tersusun oleh energi. Energi vibrasi yang dikenal dengan sebutan quanta. Ini merupakan bahan dasar dari partikel, yang kemudian membentuk atom, dan atom lalu menjadi molekul, yang kemudian menjadi benda-benda apa pun yang ada di muka bumi ini, termasuk Anda dan saya, termasuk tulisan yang ada di depan Anda saat ini.

Energi quanta, yang bergerak sangat cepat kemudian menjadi segala sesuatu yang tak kasat mata, yang tak bisa kita amati dengan lima indera manusiawi kita. Tapi energi kuanta yang gerakan lambat akan membentuk Anda, saya, tulisan yang tengah Anda baca ini, dan semua yang nampak oleh panca indera kita.

Energi kuantum ini adalah energi ilahi, yang sangat luar biasa, yang dasyatnya melebihi segala sesuatu, yang kekuasaannya mampu mengakhiri bumi ini, yang bisa memulai dan mengakhiri semuanya, dan abadi. Saya berasumsi inilah alasan mengapa kita manusia tak luput dari penglihatan dan pengamatan Tuhan, karena energinya berada dimana-mana, bahkan ada diujung rambut kita. Kita memang tak bisa bersembunyi dari matanya yang Arrahman dan Arrahim. Dengan jelinya Seng Maha Kuasa mengamati ulah kita, mengamati kenaifan dan kadang kekonyolan kita. Yang acap membuat dia tersenyum, bahkan mungkin saja, sekali lagi mungkin saja terpingkal-pingkal. Maaf, bukan saya mau berbicara tentang Agama, namun semakin dalam pemahaman dan pengungkapan fakta-fata ilmiah dari para ilmuwan dunia tentang bumi dan semesta raya ini, semakin nyata bahwa Tuhan itu sungguh ada dan Maha Kuasa.

Tapi baiklah kita tak akan berbicara soal itu sekarang. Yang ingin saya sampaikan adalah saya menyayangi Anda. Saya menghormati Anda. Saya berbahagia bahwa kita ditakdirkan untuk saling berhubungan melalui tulisan ini. Anda membaca pemikiran yang saya tuangkan di dalam blog ini. Saya sangat berterimakasih. Itu artinya apa? Itu artinya saya membaca pemikiran saya sendiri. Saya menyayangi diri saya sendiri. Saya berterima kasih pada diri saya sendiri. Disaat yang bersamaan Anda juga memikirkan pemikiran Anda sendiri. Anda mencintai diri Anda sendiri, dan Anda membaca blog ini karena Anda menghargai diri Anda sendiri. Anda paham, maksudku?

Maksudnya adalah kita ini satu. Anda adalah saya, dan saya Adalah Anda, karena kita ini sebenarnya menyatu. Kita dihubungan energi yang sangat luar biasa. Energi Ilahi. Apabila saya tak suka kepada Anda, sejatinya saya tak suka kepada diri sendiri. Apabila saya membeci Anda hakikatnya saya membenci diri saya sendiri, atau bila saya menyintai Anda siapa pun Anda, maka saya menyintai diri sendiri. Mengapa? Karena alasan yang tadi itu, saya adalah Anda. Anda – di mana pun tulisan ini dibaca – adalah saya. Anda adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri saya. Bagian yang tak terpisahkan, yang semakin diperkuat dengan aksara yang tengah Anda sematkan ke relung jiwa Anda ini.

Intinya, mengapa harus ada perang, mengapa harus membunuh, mengapa harus mencuri, mengapa harus menipu, mengapa harus mencaci, padahal itu sesungguhnya kita lakukan kepada diri kita sendiri. Ah, betapa naifnya! Mengapa tidak saling menyayangi saja? Mengapa tidak saling menyintai saja (dengan difinisi cinta yang melampaui batasan tentang cinta yang dikenal oleh kebanyakan manusia). Mengapa tak berbagi saja, bukan sebaliknya, berebut. Berebut untuk sesuatu yang sebenarnya berlimpah, tapi sayang mata kita tertutup oleh awan prasangka tak sehat (biasanya karena terjadi lateralisasi fungsi dua belahan hemisfir otak, kecenderungan dimana otak kiri yang mondominasi, atau tidak koherennya antara otak kiri dan kanan dalam memberi respons terhadap stimuli di luar diri).

Orang semua ingin menjadi yang nomor satu. Orang selalu ingin menjadi pemenang dengan segala cara. Orang ingin mengalahkan dengan telak yang lainnya. Padahal sungguh ini pembunuhan diri sendiri. Harusnya masing-masing sadar bahwa ada takdir yang memainkan peranan dalam kehidupan manusia. Kita memiliki peran masing-masing yang tak tergantikan? Cobalah memainkan peran kita dengan sebaik-baiknya, semualia-mulia, sehebat-hebat yang kita mampu. Demngan cara mengalir saja. Mengalir dengan keyakinan bahwa Sang Maha Kuasa akan membimbing kita. Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah, bukan karena dia memperebutkannya, namun karena memang Beliau punya kualitas luhur, seperti siddiq, amanah, fatonah, tabligh. Bukan karena beliau melakukan segala cara untuk mendapat gelar yang mulia itu. Tidakkah demikian?

Biarkan kita menjadi pemimpin di setiap lini dan jenjangnya secara alami, bukan dengan mengalahkan dan menyudutkan apalagi memfitnah orang lain. Kita menjadi sesuatu karena kita memang dianggap pantas oleh sesama kita. Mandat diberikan sepenuhnya kepada kita karena memang kita memiliki kualitas. Bukan karena akal-akalan. Saya tidak mengingatkan siapa-siapa, saya hanya mengingatkan diri saya sendiri.

Pemahaman kita akan hal ini membuat kita mampu memaknai profesi apa pun sesuai dengan fitrahnya, hakikatnya. Percaya atau tidak, apa pun yang ada dimuka bumi ini harus dipahami secara sempurna. Proses penelitian yang dilakukan oleh para peneliti terkemuka di dunia, pada galibnya untuk mencari hakikat dari kehidupan ini. Karena pemahaman kita pada hakikat sesuatu akan membawa kita pada kualitas hidup yang menyempurna.

Tulisan ini bagi orang-orang tertentu, tak ada gunanya sama sekali, hanya seonggok kata yang tak ada pesan yang berarti. Tapi bagi Anda yang mencoba memahami hakikat dari membaca, ini akan menjadi bermakna, kalau bukan sangat bermakna. Mengapa? Karena Anda mengerti, karena Anda memahami diri Anda, paling tidak mencoba memahami diri.

Sampai disini, mudah-mudahan kita mulai terinspirasi. Coba berhenti sejenak. Renungkanlah. Anda dan saya adalah satu. Apakah ini kabar baik bagi kita, atau sebaliknya?

Read More......

Surat Dari Pak Sultan Saladin

Assalamualikum Warrahmatullahi wabarakatuh

Pak Dani,

Masih ingatkah Anda kepada saya? saya Sultan, yang pada tanggal 26 September mengirimkan sms kepada Anda.... Maaf, email Saya ini agak terlambat datangnya. Langsung saja, Pak Dani, membaca buku Anda THE POWER OF EMOTIONAL & ADVERSITY QUOTIENT FOR THEACHERS membuat saya sangat terkesan. Buku Anda mencakup banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan. Semua yang Anda tulis telah merubah cara pandang saya terhadap kehidupan, ke arah yang lebih baik. Saya jadi mengerti bagaimana sangat berartinya hidup saya jika saya mau berpikir positif.

Bagi saya, banyak sekali kosakata baru yang saya temukan dalam buku Anda. Salah satunya adalah istilah "benang merah" yang Anda gunakan, yang terdapat di beberapa kalimat dalam bab tertentu. Bahasa Anda indah sekali, pak!

Terima kasih. Dan akhirnya saya di sini ingin mengajukan satu pertanyaan saja, boleh?. "Maukah Anda menjadi sahabat pena saya?" Sukses selalu buat pak Dani.
Wassalamualikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Sultan

Read More......

Kita Adalah Raja atas Hati dan Pikiran Kita

(Tulisan ini, aku dedikasikan untuk semua orang yang menjadi “Angin Utara” bagiku, termasuk penelpon gelap tadi pagi yang hendak menipuku (0817820749), yang akhirnya karena tidak berhasil, dia mencaci-makiku dengan kata-kata kotor, sehingga kuping kita bisa terbakar mendengarnya, aku tidak membalasnya dengan kata2 yg sejenis, tapi aku mensugesti jiwanya sehingga mudah2an dia tersadar, walau akhirnya terjadi perang antara dua dukun dari aliran yang berbeda.. hahaha.. gak apa2, hitung2 belajar menghipnotis secara gratis..[smile]).


Let’s start!

Kita [spiritual] Adalah Raja Atas Hati [emosional] dan Pikiran [intelektual] Kita!

Apa pun yang terjadi sesungguhnya adalah kesempatan bagi diri kita untuk melakukan pembelajaran, untuk terus bertumbuh. Saya selalu mengatakan kepada banyak orang, jangan pernah membiarkan kejadian mempengaruhi suasana hati Anda yang nyaman. Perasaan Anda yang nyaman adalah masalah pilihan. Anda dengan sadar memilihnya, karena kendali ada pada diri Anda. Setiap kejadian, apa pun itu akan mendorong Anda selangkah lebih maju mengejar asa mulia yang Anda patrikan dalam hati Anda. Ya, setiap kejadian adalah anak tangga bagi Anda untuk menuju posisi yang lebih tinggi.

Jaga setiap anak tangga itu dengan penuh kearifan, dengan penuh terima kasih, dengan penuh kasih sayang, karena tanpa itu semua, kita tidak akan pernah berada di posisi kita saat ini.

Terbuat dari apakah anak tangga itu? Anak tangga itu terbuat dari setiap peristiwa baik yang menyenangkan, mau pun yang tidak menyenangkan dalam hidup kita. Anak tangga itu bisa berbentuk sikap orang-orang, baik yang tidak menyukai mau pun yang menyukai kita. Fitnah, cacian, kata-kata yang menyudutkan, bahkan pujian adalah anak tangga kita sehingga hidup kita meningkat dan selangkah lebih maju.

Kearifan dan niat baik kita untuk memperlakukan semua itu sebagai sarana bagi kita untuk lebih bersikap progresif dan proaktif membuat diri dan jiwa kita lebih tenteram. Kita akan terus menyempurna menuju fitrah kita sebagai makhluk yang sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Bukankah fitrah kita adalah makhluk sempurna? Bagaimana menurut Anda?

Sungguh, banyak yang terjadi dalam hidup ini, yang sebenarnya tidak kita inginkan, namun itu tetap saja terjadi. Dia tidak meminta persetujuan kita terlebih dahulu untuk terjadi. Peristiwa-peristiwa itu tiba-tiba tanpa di duga-duga datang dalam kehidupan kita. Datang dan menghantam kita dengan tidak berperasaan.

Kita ibarat kapal layar yang diterpa angin kencang, dan menghambat laju kapal kehidupan kita. Berhentikah kapal kita? Mundur dan balik arahkah kita? Lalu mengurungkan niat kita menuju tanah impian? Tentu saja tidak, bukan? Karena kita punya layar yang bisa diatur posisinya.

Dengan memutar layar bahtera kehidupan kita sekian derajat, “angin Utara” yang tadinya menghambat, justru membuat laju kapal kita lebih kencang ke arah Selatan yang di tuju. Itulah seni kehidupan ini. Maka tersenyumlah melihat semua peristiwa? Karena angin dari mana pun arahnya akan membuat biduk kehidupan kita kian cepat merapat ke pulau impian. Sayangi dan hargai setiap angin yang datang.

Tuhan menghadirkan “angin” ke dalam hidup kita bukan tanpa alasan, dan tidak terjadi begitu saja. Sejatinya tak akan ada yang terjadi dalam hidup kita tanpa izin Sang Maha Penggenggam Takdir. Bukankah setiap hal lalu menjadi anugerah. Percayalah anugerah Tuhan tak selamanya berbentuk sesuatu yang kita inginkan. Tapi yang pasti sesungguhnya itulah yang kita perlukan.

Adakah “angin Utara” yang menerpa Anda hari ini, sahabat? Ingin rasanya mendengar cerita Anda, karena pasti itu merupakan “angin” pembelajaran untuk saya. Terima kasih! (tapi mudah2an bukan angin yang satu itu ya.. hahaha..)

Read More......

Paduka

"Maaf.. maafkan aku, hati ini terlalu rapuh. Paduka, ampuni aku, ampuni aku... sampaikan maafku untuk semua, karena aku adalah semua dan semua adalah aku! Karena aku di sini sekaligus di sana.. dan jangan Paduka membiarkan aku limbung dalam rasa... yang tak berwujud ini.. Paduka, aku tak akan pernah bosan meminta cinta dan ampunMU"



Read More......

Pembelajaran Dari Sang Waktu

“Takdir sang waktu adalah berlalu. Ini hukum alam. Takdir dari setiap peristiwa dalam hidup ini juga [harusnya] begitu, berlalu. Ikhlas saja untuk membiarkan semuanya berlalu sebagaimana adanya, karena mekanisme alam memang seperti itu. Orang yang bisa memahami dan menghayati pesan alam melalui cara kerja sang waktu ini, akan mampu mengharmonisasikan energi kehidupannya dengan energi keilahian, yaitu energi yang menyatukan semesta raya. Di situlah kebahagiaan dan keindahan yang sesungguhnya. Di situlah letak kehakikian makna kehidupan manusia.”


Setiap hari kita dicoba. Setiap hari kita diuji. Setiap hari pemahaman kita tentang hal ini di‘kuat’kan oleh kenyataan hidup kita. Dan waktu akan menempa dan mematangkan jiwa kita melalui diversitas persoalan yang terjadi. Bersamaan dengan waktu, pola berpikir kita – yang mentransendensi melalui pesan tersirat dari mekanisme waktu – akan menuntun kita pada serangkaian kata-kata (words) dan perilaku nyata (behavior) yang kemudian membentuk sebuah kebiasaan (habit). Kebiasaan ini memformat nilai-nilai (values) diri (jati diri) kita. Lalu nilai-nilai tersebut akan mengukir segala kebaikan yang tak diduga-duga, semacam serendipitas yang terkondisikan.

Hidup ini adalah media pembelajaran yang luar biasa. Setiap detik kita belajar. Setiap saat banyak hal yang bisa kita serap untuk memperkaya hati dan jiwa kita. Kondisi mengalir (flow) yang dipopulerkan oleh Czikszenmihalyi, akan kita rasakan. Ini inti kebahagiaan sejati. Saya yakin syarat utama ‘proses mengalir’ adalah kapabilitas kita untuk memahami ini. Pemahaman kita pada pesann Sang Waktu yang dengan ikhlasnya berlalu.

Aku selalu mengibaratkan hidup itu seperti kita melakukan a journey. Dalam melakukan perjalanan, tentu saja, kita akan menggunakan jenis kendaraan yang kita sukai. Kalau saya, kendaraan favorit saya adalah motor. Maka keahlian kita dalam mengendarai motor ini harus terus ditingkatkan sampai ke tahap alam nirsadar (bawah sadar) kita. Setiap saat kita memiliki kesempatan untuk memperhalus cara kita mengendarai motor kesayangan kita. Semahir dan selihai apa pun kita dalam berkendaraan, masih saja ada celah-celah penghalusan, dan peningkatan skill ini.

Ini sungguh kenikmatan. Kian halus skill kita di bidang apa pun yang kita geluti, termasuk “hidup” itu sendiri, semakin nikmatlah kita dalam melakoninya. Dan kebahagiaan menjadi bagian yang otomatis akan kita rasakan.

Kehidupan memang harusnya disikapi seperti itu. Kendaraan yang kita miliki dalam arena yang bernama ‘kehidupan’ adalah penguasaan kita pada setiap unsur dalam kehidupan, termasuk berlimpahnya pesan alam. Salah satunya adalah pesan halus (yg hanya terdengar dari kehalusan jiwa terdalam manusia) dari sang waktu tadi. Kemampuan kita menyerap pesan-pesan kehidupan dengan kejelian mata hati akan membuat perjalanan hidup kita lebih halus, lebih nyaman, lebih indah dan lebih berkualitas. Mau hidup berkualitas? Teladani saja mekanisme waktu. Ia terus melaju tak peduli apa pun aral yang merintangnya!

Ada yang berpendapat lain?

Read More......

Izinkan Aku Menjadi Pecinta

Tuhan, izinkan aku menjadi pencinta. Pecinta segala sesuatu. Pecinta apa pun, karena aku percaya bahwa segala sesuatu punya jiwa, semuanya memiliki kekuatan untuk merasakan getar cinta di hatiku. Aku tahu bahwa kunci dari ketenangan, kesuksesan, kesehatan dan kebahagiaan hidup adalah menyintai. Cinta yang ikhlas yang melampaui makna segala batasan tentang cinta yang dikenal manusia.

Tuhan izinkan aku menjadi pencinta sebagaimana ratapku di setiap doa-doaku pada-MU. Tuhan, perkenankan aku menjadi pecinta-Mu dan pecinta segala sesuatu yang Engkau takdirkan terhubung denganku, tanpa syarat apa pun! Ya, tanpa syarat apa pun!

Read More......

Happiness?? Buku Oh Buku...

Hari ini dari pagi aku membaca buku yang barusan aku beli. Semakin jauh halaman-halamannya kubaca, semakin aku menyadari betapa "tinggi hati"nya sang penulis buku ini. Sebenarnya aku belajar banyak dari penulis yang bertipe seperti ini, yaitu sebagai penulis (apalagi pemula seperti saya) harusnya mampu dengan penuh kasih menyapa setiap pembaca kita. Bak kita sedang berbicara langsung dengan mereka. Dan kita memosisikan mereka sebagai orang-orang yang benar-benar kita cintai. Yang rasa hormat kita melebihi hormat bahkan kepada diri kita sendiri. Layaknya kita sedang jatuh cinta kepada mereka.

Pernahkah Anda jatuh cinta dengan seseorang dalam kehidupan Anda? Saya yakin pasti Anda pernah mengalaminya. Saya bahkan berulang-ulang. Banyak gadis-gadis yang aku cintai dalam kehidupanku, namun sebanyak itu pula yang menolak cintaku. Ada beberapa yang sempat menjadi kekasihku, tapi lebih banyak yang menolakku dengan cara mereka masing-masing.

Waktu SMA, aku mencintai adik kelasku. Rambutnya yang panjang mengingatku pada gadis-gadis klasik di belahan bumi yang lain. Tatapan matanya sampai membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Ada banyak kata yang hendak kuutarakan, namun tak sanggup terucapkan. Banyak puisi yang terlahir dari rasa cintaku ini, namun hanya tersimpan dan tak sempat dikirimkan. Kata-kata yang keluar dari hatiku seperti punya jiwa. Kata-kata yang membuat aku bak seorang pujangga.

Setiap pagi ketika Ia melewati rumahku selalu saja membuat hatiku berpacu. Langkahnya gontai bagai sekelebat tarian nan anggun. Senyum yang semeringai membuat alam ikut berseri. Tawa renyahnya bagai alunan musik merdu yang terus bergema di telingaku.

Bayangkan, kekuatan yang begitu dasyat akan menggerakkan energi kemanusianku untuk menulis dan menciptakan sebuah karya. Tajmahal pasti dibangun oleh rasa seperti ini. Kalau kita mengondisikan diri seperti ini, pasti buku kita akan terangkai dengan kata nan indah dan renyah. Pasti akan langsung masuk ke jiwa yang membacanya. Tidak seperti buku yang aku baca saat ini. Meski pun demikian aku harus berterimakasih kepada penulisnya. Mengapa? Mungkin Anda bertanya-tanya. [Harga buku ini cukup mahal untuk buku dengan kemasan seperti ini, Rp. 72.500,-].

Ideku yang paling penting adalah:
1. Penulis harus berani merendahkan hatinya ketika menulis. Jangan menulis kalau hanya ingin menjatuhkan orang lain. Di buku ini dia menyinggung banyak orang, beberapa di antaranya Julia Perez dan Tukul. Mereka dianggap oleh sang penulis seperti orang yang tak ada apa-apanya. Bahkan menjadi contoh yang memberikan sumbangsih terhadap sampah-sampah di pikiran kita. Dia sungguh merasa seperti malaikat yang bebas dari kekurangan (padahal malaikat pun punya kekurangan). Kalau memang pikirannya sudah bebas dari sampah-sampah (terminologi yang dipakainya), pasti ini tak akan dia tuliskan. hal ini Kalau pun dia ingin mencontohkan, pasti dia mengambil dari sisi yang lain, atau paling tidak dia tak menyebut nama. Ini perlu kearifan.
2. Merasa pintar dari hampir setiap orang. Sungguh ini pelajaran yang berharga bagiku, bukan hanya sebagai penulis (pemula) tetapi juga sebagai manusia. Jangan pernah merasa pintar dari orang lain, karena akhirnya kita pasti tak banyak belajar.
3. Dia banyak menyalahkan orang. Ini juga perlu dijadikan pembelajaran bagi kita. Mengapa? Karena ini adalah ciri hidup “below the line.” Mencari kesalahan dari pihak luar hanya membuat kita tak tercerahkan, dan tak akan pernah mendapatkan jalan keluar terhadap permasalahan yang tengah kita hadapi.
4. Dia merasa seperti pakar kebahagiaan, tapi mengapa justru bukunya ditulis tatkala dia [sepertinya] tengah tak berbahagia (Maaf, saya seperti punya sixth sense, yang mampu membaca perasaan seseorang melalui tulisannya, saya yakin banyak juga teman-teman yang mampu melakukan ini di luar sana. Seorang yang biasa menulis, pasti akan peka merasakan ini).
5. Sudut pandangnya terhadap topik yang dia bicarakan tak terlalu dalam. Karena pasti banyak orang yang mampu menguraikan topik ini secara lebih lengkap lagi, yang lebih menginspirasi dan memampukan!

Namun, saya tetap berterima kasih kepadanya, paling tidak dia telah memberi contoh yang membuatku terbuka mata terhadap dunia kepenulisan. Tapi tetap saja aku merenung, “Mengapa ya buku ini laku?” Ada yang bisa menolongku menjawabnya? Ah..

Read More......

Buku Seni Mengajar dengan Hati (dengan Isi & Perwajahan Baru)

Klik Untuk memperbesar
Awal bulan Juli 2009, buku, “Seni Mengajar dengan Hati,” edisi revisi dengan kemasan dan isi yang lebih berkualitas, akan diterbitkan oleh ALTI Publishing Palembang. Pemesanan langsung dapat dipesan pada no. 0818-676-711, tanpa dipungut biaya kirim. Harga Rp. 45.300,- Untuk pemesan dari Palembang akan mendapat diskon 15%.

Read More......

Mental Kepiting

Pada postingan kali ini, saya akan bercerita sedikit tentang Mental Kepiting. Konon untuk menangkap kepiting, orang tidak perlu tempat menyimpan kepiting yang ada penutupnya. Cukup ia kumpulkan kepiting lebih dari satu di tempat tersebut. Kepiting-kepiting itu tidak akan bisa keluar dari tempatnya, walau pun tempat tersebut tidak ada penutupnya. Mengapa? Karena kalau satu kepiting mencoba naik untuk keluar, yang lain akan menariknya ke bawah. Begitu pun yang lain. Mereka akan saling menarik, sehinggatak satu pun dari mereka yang selamat. Semuanya jadi santapan gurih manusia. Padahal mereka sebenarnya bisa keluar dengan selamat satu persatu, apabila mereka dengan ikhlas melihat yang lain naik lebih dulu. Tapi dasar kepiting. Mereka tak punya akal, tidak seperti kita manusia. Tapi ada juga lho manusia yang mentalnya tak lebih dari mental kepiting.. hehehe.. Mau bukti, begini ceritanya:

Beberapa waktu yang lalu sohib saya pernah bekerja di sebuah instansi. Kebetulan dia cukup bisa membuat website. Untuk tidak terlalu berpanjang-panjang cerita. Dia akhirnya diminta oleh pemimpin instansi tersebut untuk membuat web, dan alhamdulillah berhasil. Web yang dia buat menurut Bapak pemimpin sangat memuaskan, bahkan lebih bagus dari web-web kebanyakan. Namun, Anda bisa bayangkan betapa irinya karyawan-karyawan yang lain (mereka lulusan dari universitas-universitas ternama). Mereka kasak kusuk mencari kelemahan-kelemahan dari web tersebut yang akhirnya membuat Sang pemimpin mencari orang lain untuk membuat dan mengganti web yang telah teman saya ini buat. Akhirnya hubungan kerja pun terputus. Dan belakangan mereka minta akses untuk mengobrak-abrik web tersebut mungkin untuk dipelajari. Cukup lucu, bukan?

“Sekarang pertanyaannya mental kepitingkah kita? Mudah2an tidak ya. Dan percayalah, manusia-manusia yang bermental kepiting tidak akan pernah sukses. Kalau Anda tidak bermental kepiting, namun belum sukses saat ini, percayalah Anda akan sukses lambat atau cepat! Itu hukum alam yang tak terbantahkan. Karena dengan bermental senang melihat “kepiting” yang lain naik, akan membekali Anda untuk mencari cara untuk naik juga!”

Read More......

Perenunganku

Sahabat, suka atau tidak, banyak sekali hal yang tak lagi menggembirakan hati yang kerap terjadi dalam hidup ini. Namun itu bukan berarti tidak ada gunanya. Kadang suasana seperti ini justru mengajari kita untuk lebih JELI dan TAJAM MENGHADAPI HIDUP. Sering sekali orang hanya menghargai perasaan nyaman. Dia lupa bahwa perasaan tidak nyaman justru menempa kita untuk bersikap lebih arif dalam hidup ini. Kalau orang merasa hidupnya harus satu warna saja, maka lambat atau cepat ia akan bosan dengan kehidupannya. Justru perasaan yang "kurang disenangi" sebenarnya makanan lezat bagi jiwa untuk berkembang kearah yang lebih "menembus" atau "melampaui".

Jujur saja, misalnya saat ini Anda merasa bahwa kehidupan Anda terasa tak nyaman. Tidak seperti biasanya, pikiran Anda selalu positif, namun entah mengapa, beberapa hari ini tiba-tiba Anda merasa semuanya serba salah. Tenang, sahabat, itulah sebenarnya "GIZI" bagi diri kita untuk bertumbuh ke arah yang lebih BESAR dan BAIK! Karena tak ada yang lebih mampu mengajari kita sesuatu selain kenyataan hidup! Bagaimana, Anda setuju?

Read More......

Lama aku tak mengisi blog ini. Tiba2 perasaan rindu di hati ini begitu menggebu untuk bersilaturahmi dengan blog yg seperti tak pernah ramai ini. Aku sadar kesepiannya sudah berada diujung batas kesanggupannya. Ia diabaikan. Ia tak dipedulikan, bukan saja oleh orang lain, bahkan oleh tuannya sendiri. AHh...




Namun kerinduanku ini, tak aku buat-buat. Di tengah kesibukkanku yang tak menentu, aku hadir kembali kesini. Mengguratkan suara hati, direlung-relung blog yang hampir kehilangan ruh ini. Aku elus jiwanya. Aku berikan senyumanku yang hampir tak pernah dilihatnya beberapa bulan ini.

Aku ciptakan puisi, yang hanya di dengarnya dengan telinga hatinya. Ya, HANYA TELINGA HATINYA.

Read More......

Beberapa hari yang lalu, atas undangan Kadisdikpora (Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) Palembang, Pak Hatta Wazol, saya memberikan ceramah ilmiah di SMA-4 tentang “Seni Mengajar dengan Hati,” dihadiri oleh guru-guru dan Kepala Sekolah yang sedang melangsungkan BIMTEK KTSP (Bimbingan Teknis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Wah, responsnya sangat positif. Kadang rindu juga ya melakukan kegiatan seperti ini. Bercengkerama dengan guru-guru, berbagi pengalaman dan yang pasti, menyatukan hati!


Pulangnya peserta minta tanda tangan untuk di buku yang aku bagikan. Sayangnya buku tersebut tidak ada hubungannya dengan guru. Judulnya, “Menyibak Tabir Hidup,” maklum buku “Seni Mengajar dengan Hati” sudah habis di pasaran. Mudah2an dalam waktu dekat ini diterbitkan lagi (ini perlu kerja sama saya dengan pak Hatta Wazol). Wah, thanks, Guru Indonesia, mari tingkatkan kualitas kita agar bangsa ini memiliki generasi yang unggul. Sukses selalu ya!

Read More......

Caleg, Oh, Caleg (Curhat di akhir Januari)

Cerita apa yang bisa kita diskusikan diakhir Januari ini? Oh, ya, mungkin ada baiknya kita masih cerita seputar caleg. Karena ini masih benar2 current issue. Nah.. ada apa lagi tentang calon legislatif kali ini? Baik kita akan bahas sedikit.
Kemarin, seperti biasanya aku berjogging-ria start dari rumah (di seputaran kampus utama Bina Darma) ke salah satu sarana olahraga yang tergolong mewah di kota ini (Jaka Baring Sport Stadium). Aku memilih rute ini karena memang udaranya pada sore itu lumayan bersih dan sejuk, karena habis hujan.

Di sepanjang jalan khususnya di Jl. Gubernur Achmad Bastari, banyak sekali spanduk2, banner2 yang mengampanyekan caleg. Gambar2 orang yang sebelumnya tak dikenal tiba2 bermunculan di mana2.

Dengan kata-kata yang “luarbiasa” sekaligus barangkali perlu untuk kita highlight. Ada yang menulis besar-besar di atas gambarnya, “Mari Bung rebut kembali!” Ada juga yang menulis, “Serahkan pada pemuda.. Pasti!” atau ada yang dengan yakinnya mengedepankan kalimat “Muda, Cerdas dan berwawasan!” di atas photonya, yang membuatku tercenung adalah ada seseorang ibu2 dengan over confidence mengklaim, “Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!” Wah, wah…

Aku terus mengayunkan langkahku menuju sport stadium, tempat para pahlawan bola kaki kita kerap berlatih (yang pada saat tulisan ini dibuat, Sriwijaya FC dan Pelita Jaya sedang bertanding).

“Ah, ternyata banyak juga ya orang yang ingin mengurus rakyat di kotaku?” Aku membatin di dalam hati. Kata-kata yang tertulis di spanduk, banner dan baliho mereka membuatku terus ngomong sendiri di dalam hati.

Kira-kira suara hatiku berbunyi begini;

“Mari bung rebut kembali!”
Ah, kawan yang satu ini mengibaratkan jabatan legislatif bak sebuah benda yang kalau terlepas harus direbut lagi. Memang tak banyak orang yang cukup arif memberikan kesempatan pada yang lainnya untuk menduduki sebuah posisi, tatkala dia pernah berada di situ. Mungkin dia berpikir jabatan itu sesungguhanya secara premordial merupakan miliknya. Hak milik yang harus direbut dari tangan-tangan orang lain yang menurutnya bukan pemilik yang syah! Ibarat invasi yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain. Ini (barangkali) menurutnya tak lebih dari pertarungan harga diri! Atau bisa saja disebabkan karena lagu favoritnya “Halo halo Bandung”? Ya, Bisa saja.

*****

“Serahkan pada pemuda… Pasti!”
Nah kalimat ini benar-benar sulit dipahami. Khususnya bagi kita-kita yang right hemisphere (otak kanan)nya belum terlalu terlatih. Banyak di antara kita (termasuk saya) bertanya-tanya, kalau umpamanya aku memberikan atau menyerahkan suaraku kepada anak muda ini, pasti akan apa ya? Karena dia cuma mengatakan “pasti!” Wah, mungkin “pasti” kacau, “pasti” hancur atau “pasti” bingung.. wah, yang jelas pasti bingung kayaknya!!

Kalimat ini sungguh sangat bersayap, semuanya bisa saja terpikirkan, tergantung sepenuhnya kepada kemampuan seseorang untuk berimajinasi (domain otak kanan). Untuk orang-orang yang beraliran positif (positivism), pasti dia akan berpikir yang positif, tapi bagi kawan-kawan yang beraliran negatif (negativism) – yang masih dianut oleh mayoritas kita – pasti mereka akan skeptis, dan tak berhusnuszhon, sementara bagi teman-teman lainnya yang tak memiliki aliran (positif tidak, negatifpun bukan), pasti akan nyegeh bae! (Untuk pembaca yang bukan orang Palembang, artinya kira2 “Menyengir saja”).

*****

“Muda, Cerdas dan berwawasan!”
Rakyat jelas tidak butuh ini. Tidak butuh orang2 yang hanya muda usia, hanya cerdas dan berwawasan secara intelektual (IQ). Rakyat butuh orang-orang yang bisa merasakan beban hidup yang mereka rasakan. Rasa empati terhadap penderitaan. Ikut menangis ketika mereka menangis dan ikut pilu ketika mereka merasa pilu, bukan orang-orang yang tak pernah mengasah ketajaman nuraninya, yang hanya melatih dan mengedepankan intelektualitasnya, dan tak pernah tahu betapa rakyat disini harus berkelahi antar saudara hanya untuk sesuap nasi. Menebalkan muka meminjam uang kesana-kesini hanya untuk bayar sekolah. Sementara dia ke sekolah mana pun di seantero dunia tinggal tunjuk saja.

Kawan, aku melihat orang yang harus ribut dulu hanya untuk makan pagi, tepat di depan terali pintu kamarku. Kemarin, anaknya yang bungsu menyelinap ke pintu sebelah rumahku, untuk meminjam uang. Aku dengar percakapan mereka, “Kak, minjam duet Rp 50 ribu kata Bapak, untuk bayar sekolah..” Aku tak tahu apa diberi pinjaman atau tidak… tapi kulihat tak berapa lama, anak tersebut berlari-lari membawa kantong hitam yang berisi makanan. Lalu dari rumahnya yang tak jauh dari pintu kamarku kulihat mereka sekeluarga bergembira menyantap makanan yang dibawa oleh anak yang membawa kantong hitam tersebut. Lalu bertaburanlah mereka dengan berseragam sekolah melangkah dengan penuh semangat menuju ke sekolahnya. Bayangkan, bagaimana mereka belajar dengan perut yang kosong, kalau seandainya dia tak diberi pinjaman oleh tetanggaku..

Ah, kawan.. Anda boleh cerdas, Anda boleh muda dan berwawasan, namun tolong asah kepekaanmu.. Rakyat kita tak banyak yang bernasib sepertimu, yang semuanya serba tersedia. Mereka merintih.. mereka menjerit di dalam hati.. (air mata kerap menitik melihat semua ini).. kalau jabatan hanya untuk ajang pamer kekuasaan dan kesempatan emas untuk menumpuk harta, atau hanya ingin melestarikan kekuasaan yang turun temurun, sudahlah, berhenti sajalah. Sekali lagi hentikan sajalah niatmu, karena rakyat sudah sangat tak butuh itu lagi!

*****

“Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!”
Sekarang kita mengulas sedikit kata-kata dari seorang caleg yang berbunyi, “Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!” Wah, ini benar2 perlu ada pelurusan. “Ahli”, kapan seorang dianggap ahli? Kapan seorang berhak untuk menyebut dirinya “Ahli”. Sebenarnya kata-kata ini sangat berbahaya. Mengapa berbahaya? Ini ada kesombongan di dalamnya, ujub dan sangat tak memberdayakan! Sekali lagi mungkin ada yang bertanya, “Mengapa tak memberdayakan?”

Seorang yang merasa “ahli” biasanya tak mau mendengar pendapat dan masukan dari orang lain (yang dianggapnya tidak atau kurang ahli darinya). Harga dirinya terlalu tinggi. Dia enggan dikoreksi! Ada harga diri yang tercabik-cabik kalau ada orang yang memberikan masukan, feedback atau apa pun namanya. Dia biasanya sangat dogmatis, kaku dan antiperubahan. Ini sebenarnya musuh progresivitas. Orang seperti ini akan tergerus oleh laju zaman, akan termakan oleh gelarnya “ahli” tadi. Itulah mengapa kusebut orang yang merasa ahli seperti ini laten. Apalagi orang yang menyebut dirinya sendiri “ahli!” itu sudah maha laten.

Coba simak kata2 Syunriyu Suzuki, “Dalam benak pemula ada banyak sekali kemungkinan, sebaliknya dalam benak seorang ahli (pakar) hanya sedikit saja.”

Saya juga menulis di salah satu buku saya, yang berbunyi seperti ini, “Sebanyak apa pun pengetahuan kita tentang sesuatu hal, milikilah selalu sikap seorang pemula. Karena di diri seorang pemula segalanya serba mungkin, segalanya serba kesempatan, segalanya serba peluang, segalanya menjadi proses pembelajaran! Ini akan membawa diri kita pada taraf hidup yang lebih berkualitas!”

Nah, sungguh kontradiktif, apa yang dituliskan oleh teman-teman kita ini dengan apa yang rakyat inginkan. Namun bagaimana pun juga teman-teman kita ini punya hak untuk melakukannya, itu syah-syah saja. Dan saya juga syah-syah saja melanjutkan jogging saya… udah ya, sampai ketemu di bilik pemilihan nanti ya…

*****


Read More......

Caleg, Oh, Caleg.. (Asah Nuranimu!)

Postingan kita kali ini adalah tentang CALEG (calon Legislatif) yang sedang marak-maraknya saat ini. Kemana pun pandangan mata kita tertuju, ketika sedang berada di jalan-jalan raya (khususnya di kota Palembang) pasti kita akan mendapati gambar orang-orang yang berharap bisa terpilih menjadi legislator.

Sadarkah kawan2 kita ini bahwa menjadi legislator bukanlah perkara yang mudah. Asal ada duit saja, atau asal anak pejabat atau asal putra-putri tokoh masyarakat saja. Sadarkah mereka tanggungjawabnya amat sangat besar dan luar biasa?

Tiba-tiba aku membatin sendiri, “Hey, Dan, coba renungkan seandainya kamu salah satu di antara mereka. Hal2 apa saja yang ingin kamu lakukan untuk negeri ini, propinsi ini, atau kota ini, atau paling tidak untuk konstituenmu?”

“Mungkinkah Engkau mampu mengayomi dan mewujudkan keinginan dan aspirasi mereka? Aspirasi orang-orang yang telah bersusah-payah memilihmu? Apakah tugas2 yang akan diberikan padamu mampu engkau tunaikan dengan penuh tanggung-jawab? Sudah tulus dan luruskah niatmu?”

“Dani, bila sebagian pertanyaan tadi tak bisa kamu jawab dengan sebaik dan semulia-mulianya, maka ada baiknya kamu jangan coba-coba. Kasian rakyat yang telah memilihmu. Kasihan mereka yang yang telah menaruh harapan besar di pundakmu!”

*****

Kawan, mengapa kita mau menjadi wakil rakyat, tatkala kita sendiri tak memiliki keunggulan untuk mampu menyuarakan hati nurani mereka? Bahkan kita sendiri mungkin tak pernah mengasah gergaji kepekaan dan kecerdasan nurani kita?”

Bagaimana mungkin kita tahu derita rakyat, manakala kita sendiri tak punya kualitas untuk berempathy? Tak tahu betapa mahalnya harga kebutuhan hidup sehari-hari? Tak pernah merasa betapa nyerinya lambung yang sedang lapar? Tak pernah melihat betapa rakyat yang kita wakili harus menghutang sana-sini untuk bertahan hidup?

Bagaimana mungkin kita tahu keluh kesah mereka, manakala sebagian dari kita sejak terlahir sudah tidur di kasur yang empuk dan ranjang yang mewah di dalam rumah yang megah(*), sementara rakyat yang kita wakili, tak jarang harus menggigil karena tidur di atas papan yang kasar, di bawah atap rumahnya yang bocor, dengan dinding yang hampir roboh?”

Tidakkah kita merasa berdosa karena nun jauh di kedalaman diri kita tahu bahwa sesungguhnya kita tak cukup kompetensi dan integritas untuk menjadi the agent of changes bagi mayoritas rakyat kita yang terpuruk?”

Ah, kawan, tidakkah kita sedikit merasa bersalah ketika ada bisikan halus di diri kita yang berbisik malu-malu, “Inilah kesempatanku untuk menjadi makmur, untuk menguras sebanyak2nya materi, untuk menjadi hebat dan untuk memiliki status terhormat di masyarakat!”

Ah, kawan, luruskan niat kita! Itu saja pesanku untukmu dan untukku bila kita ingin menjadi wakil rakyat! Itu saja, tidak lebih, tidak kurang!”

---------------------
(*) Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar caleg itu anak pejabat atau anak orang kaya.

Read More......

Kita & Hukum Alam

“Jangan pernah berhutang kepada semesta, karena semesta akan menagihnya.” Mungkin ada yang bertanya, “Apa maksudnya?” Baik akan kita coba bahas.
Anda berjanji kepada teman Anda, kenalan Anda, saudara Anda, atau bahkan kepada diri sendiri, alam mencatatnya sebagai hutang yang harus anda tunaikan.

Anda mengambil sesuatu yang bukan hak Anda, universe akan menghitungnya sebagai pinjaman yang harus Anda kembalikan. Bahkan Anda membuang sampah sembarangan pun, Anda pun telah berhutang kepada alam, yang tentu saja berkonsekwensi harus dibersihkan.

Bila tidak, maka jangan terkejut, alam/universe akan menagih pinjaman Anda ini berikut dengan bunganya pada waktu yang kadang tak terduga-duga, yang kerapkali harus dibayar lebih besar dari pinjaman pokoknya.

Semesta diciptakan Allah Swt untuk membuat kehidupan manusia nyaman. Namun tentu saja ada hukum alam yang harus dijunjung dan dipatuhi. Kepatuhan kita kepada hukumnya akan menjadi orkestrasi indah yang akan memberdayakan diri dan hidup kita. Mengapa demikian?

Hukum alam, membuat kita sebagai manusia harus mampu berpikir dan bertindak. Dengan berpikir dan mengambil aksi maka kita akan menemukan cara agar hidup kita selaras dan harmonis. Hukum alam, seperti gravitasi, atau setiap makhluk akan menjadi tua dan mati, dan lain-lainnya akan menjadi sumber inspirasi bagi kita yang mau berpikir, berkontemplasi dan mengambil aksi.

Tak kurang dari orang-orang sekaliber Isaac Newton, Edison, Einstein sampai ke Ghandi, adalah orang-orang yang paham benar hakikat hukum Alam ini, sehingga mereka mampu mengubah peradaban, mampu membuat kehidupan ini menjadi lebih baik, dunia menjadi tempat yang lebih nyaman untuk di diami manusia. Berhutangkah kita pada dunia hari ini?

Read More......

Aku Menulis Suatu Yang Tak Tertuliskan!

Setelah sibuk utak-atik software di komputerku, edit sana edit sini, hapus sana hapus sini, akhirnya aku kembali ke blog ini dalam rangka mengasah ketajaman menulis.

Aku tak mengerti apa2, tapi keinginanku untuk terus menyuarakan hati begitu besar akhir-akhir ini. Aku seperti terpanggil untuk menulis dan menulis (Walau tak semuanya kutuangkan di sini). Aku tetap saja menulis, meskipun aku tak punya ide sedikit pun untuk ditulis. Bahkan aku menuliskan ketiadaan-ide ini. Aneh bukan?

Bagi seseorang seperti aku (yang bukan sastrawan, apalagi pujangga), itu cukup aneh, menuliskan ketiadaan yang dijadikan ada. Itu tentu saja bukan mengada-ada. Itu sekadar pemancingan ide yang sebenarnya ada namun terbungkus oleh ketidakadaan dipermukaannnya, yang terpendam dalam di lembah jiwa yang bermisteri.

Aku tembus ketiadaan itu agar menjadi ada. Seperti tulisan ini sendirii yang pada awalnya tidak ada kemudian ada dengan sendirinya, akibat aksara yang terangkai menjadi kata. Kata lalu terkumpul dan menghasilkan makna yang kemudian membentuk sebuah topik yang mungkin di luar pridiksiku, siperangkai kata.

Itulah upaya menembus batas-batas ketiadaan. Aku tak mengatakan bahwa ini hanyalah bualan dari orang yang tak bersentuhan dengan inti ide yang ada dibenaknya, namun sekali lagi ini proses penggalian sesuatu yang “mahal” yang tersembunyi jauh di kedalaman dirinya.

Sesuatu yang mahal itu hanya bisa digali dengan cara terus menerus menggali. Tanpa lelah. Tanpa takut hasil yang hampa. Upaya pantang surut yang dibalur oleh keyakinan bahwa sesuatu yang mahal ini akan terurai lambat atau cepat, justru inilah cangkul ajaib yang akan mampu mengangkatnya kepermukaan.

Sesuatu “yang mahal” yang terkubur, akan tetap hidup di dalam kuburannya, sampai ia digali. Tak akan pernah ia mati, selama siempunya belum mati. Dia akan terus ada dipusaranya meski tak pernah diketahui dimana dia disemayamkan oleh Sang Mahapencipta.

Takdir yang merupakan muara antara siempunya dengan sesuatu yang mahal itu adalah ketidakmenyerahannya pada kenyataan! Ya, pada kenyataan betapa kerasnya lahan yang harus digalinya. Lahan yang akan membawanya pada kesejatian dirinya! Pada sebuah kualitas paripurna yang dimiliki oleh seorang makhluk yang berlebell MANUSIA! Ah, lagi-lagi aku terkesima!

(Maaf, aku menulis apa ya?)

Read More......

Aku Menulis dari LP ke LP!

Setiap orang harus membiasakan menulis. Apa pun cerita dan temanya, menulis harus dijadikan sarana untuk mengasah hati dan jiwa. Tak ada yang mudah, pada awalnya, namun yang tak mudah itu kemudian akan menjadi mudah, apabila sudah menjadi kebiasaan, atau bagian dari diri kita.

Sejatinya menulis harus dijadikan bagian dari kehidupan keseharian kita, kalau kita tidak mau tergerus oleh laju perubahan zaman. Budaya lisan adalah budaya lama. Budaya yang dikenal manusia sejak zaman primitif/prasejarah, sebelum dikenalnya aksara. Namun dengan perkembangan zaman yang luar biasa ini, menulis juga harus dimaksimalkan agar kita tetap "survive."

Motto "Tiada hari tanpa menulis" harus benar-benar termanifestasi dalam kehidupan keseharian kita. Tulis apa saja. Luangkan sedikit waktu untuk menulis apa pun. Pemikiran, perenungan, bahkan uneg-uneg di hati kita. Ini sangat menyehatkan baik mental mau pun fisik kita (Anda bisa baca di blog ini tentang itu).

Dulu waktu saya memberikan pelatihan bahasa Inggris di salah satu perusahan karet terkemuka di kota saya (PT Badja Baru Trad. Co'y), ada semacam adagium management (atau apalah istilahnya) yang berbunyi "Do what you write and write what you do!" Saya yakin itu tidak hanya berlaku bagi sebuah perusahaan sekaliber itu, namun juga perusahaan kecil, bahkan sampai ke kehidupan pribadi.

Betapa beruntungnya kita yang dikaruniai Tuhan blessing untuk melek huruf. Kemauan untuk membaca dan skill untuk mengekspresikan pikiran dan suara hati kita dalam bentuk tulisan.

Lihat saja sampai saat ini kebanyakan orang, bahkan teman-teman saya masih memegang teguh budaya lisannya. Mereka mengalami illiteracy yang akut (Illiteracy dalam arti, “ignorance resulting from not reading”, bukan yang maksudnya “an inability to read”, alias buta aksara). Membaca dan menulis menjadi sesuatu yang sangat berat bagi mereka. Yang mereka lakukan hanyalah berbicara dan berbicara, tanpa banyak mengalokasikan waktunya untuk mendengar, membaca apalagi menulis.

Hal ini sungguh tak berkontribusi banyak terhadap perkembangan kematangan jiwa dan kemajuan hidup seseorang, karena budaya lisannya yang sangat dominan, sehingga sulit baginya untuk berkembang secara maksimal. Tak mudah baginya untuk mengaktualisasikan segala potensi kecerdasan yang dia miliki. Tak ada kesempatan untuk mengisi relung2 pusat pikirnya. Dari hari ke hari yang dia lakukan hanyalah cuap sana, cuap sini, kritik sana, kritik sini, gosip sana, gosip sini. Perbuatan yang sia-sia dan kerap tak berkualitas.

Mengapa segala pemikiran dan kritikannya tak dituliskan saja? Ada banyak hal yang terjadi pada saat kita menuliskan segala yang hendak kita ceritakan kepada orang lain. Ada proses retrospect yang membuat kita menjadi lebih aware pada sesuatu yang hendak kita ekspresikan itu. Ada proses yang luar biasa yang tak kita dapati pada saat kita langsung lisankan itu. Ada pemerkayaan, ada pemurnian, ada penyadaran dan ada juga perenungan yang membuat jiwa kita lebih cerdas dan kaya. Anda tidak percaya? Saya sering mengalaminya.

Pernah suatu ketika saya "marah", pada cara teman-teman saya mengajar, baik untuk teman-teman saya di LP (Maksudnya Lembaga Pendidikan, bukan LP yang lain lho!) di mana saya bekerja (LIA Kebayoran Baru), mau pun ke teman-teman saya yang bekerja untuk saya, kebetulan saya juga punya kursus bahasa Inggris. Kekesalan saya ini lebih banyak tak tersalurkan, khususnya ke teman2 saya yang seprofesi, karena memang saya guru biasa, bukan supervisor, apalagi Direktur, bahkan ironisnya supervisor pun tak mengerti bagaimana seharusnya proses belajar mengajar itu diselenggarakan di kelas. Pemikirannya tak sampai ke inti persoalan.

Akhirnya pemikiran dan kekesalanku ini kucurahkan ke halaman demi halaman kertas, yang pada gilirannya kurangkaikan dalam sebuah buku yang kuberi judul, "Seni Mengajar dengan Hati (Don't Be A Teacher Unless You Have Love To Share!" Sudah pernah membacanya? Buku ini akhirnya sempat menjadi buku literatur di Akta 4, dan banyak institusi2 pendidikan lainnya memakai sebagai sarana untuk mencetak para guru.

Nah, kalau saya saja bisa memetakan kemarahan, kekesalan dan uneg-uneg hati ke dalam bentuk tulisan, mengapa Anda (dengan segala keunikan Anda) tidak bisa? Saya sungguh yakin dengan kemampuan dan potensi Anda, seperti juga saya yakin dengan kemampuan dan potensi para pembelajar saya di kelas.

Saya sangat percaya pada kenyataan bahwa ras kita "Manusia" adalah makhluk yang diciptakan luar biasa oleh Sang Maha Pencipta. Ini bukan basa-basi (seperti iklan rokok saja nih), tapi ini sudah didukung oleh fakta ilmiah yang tak tersangkalkan yang dikemukakan para pakar di bidang ini (Tony Buzan, Gregory Lozanov, dkk).

*****

Bagaimana? Belum cukup memberikan enlightenment? Baik akan saya ilustrasikan dengan cerita saya yang lain.

Sekitar di tahun 2000, terjadi percakapan yang serius antara aku dan temanku. Dia bercerita banyak tentang kehidupan. Pemikiran-pemikirannya bagiku saat itu sangat luar biasa. Dia mengulas sebuah topik tentang diri dan manusia dengan sangat baiknya. Lalu aku berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib di sana.

Setelah sekitar 6 tahun di Jakarta akhirnya aku dipaksa oleh takdir untuk kembali tinggal dan menetap di tanah kelahiranku Palembang, melalui sebuah kecelakaan fatal yang menghabiskan “biaya” yang sangat-sangat mahal, bahkan hampir mengorbankan nyawaku.

Kemudian, pendek cerita, aku dan temanku ini bertemu lagi, tentunya setelah aku pulih. Kami bercerita banyak tentang pengalaman hidup yang sama-sama kami lalui. Teman saya ini sudah mengalami kebangkrutan. Usaha pendidikan yang dia jalankan sudah tak beroperasi lagi. Kami ngobrol lagi seperti beberapa tahun yang lalu.

Topik pembicaraanku sudah mulai agak (sekali lagi, agak) sedikit kaya dan berwarna. Aku sudah menulis 4 buku. Temanku ini, kembali bercerita dengan menggebu2, karena memang lebih dari 7 tahun kami tak bertemu. Apa yang dibicarakannya? Anda bisa tebak? Ya, dia berbicara persis seperti dulu di tahun 2000.

Topik yang dulu aku anggap hebat itu ternyata mulai memudar kehebatannya. Aku melihat ada perspektif yang lebih komplit tentang hal itu.

Apa yang terjadi? Harus ada analisa yang lebih dalam tentang ini. Ya, inilah budaya lisan. Budaya yang tidak akan mengalami 'pemerkayaan'. Budaya yang akan ditinggalkan zaman, apabila tak diseimbangkan dengan budaya membaca dan menulis. Anda punya pendapat?

Baik, kita eksplor ini dari sudut pandang lain. Pada galibnya banyak variabel yang mempengaruhi aktualisasi diri seseorang, banyak sekali. Eksposure terhadap pengetahuan itu juga tak kalah penting, bahkan pola pikir orang2 di sekelilingnya termasuk yang dikenal mau pun tidak. Mengapa?

Saya meyakini ada interaksi tak kasat mata antara setiap orang baik secara langsung, mau pun tidak. Ada vibrasi pemikiran yang tak terlihat, yang tak kasat mata, yang dimediasi oleh semesta.

Dulu pamanku berkata, “Orang yang tinggal di lingkungan pantai, akan berpikir seperti orang pantai. Orang yang tinggal di gunung akan berpikir seperti orang gunung.” Jadi apa yang dimaksudkannya adalah akan terjadi perbedaan yang besar corak berpikir antara orang yang satu dengan yang lainnya dilihat dari variable di mana dia hidup dan berinteraksi. Tapi menurutku seharusnya ini bisa disiasati! Saya tidak begitu sependapat.

Tatkala dia dihadapkan untuk tidak bisa memilih dimana tinggal, maka harus ada usaha ekstra untuk membentuk pola pikir. Exposure harus dengan sengaja dikondisikan. Terus kembangkan diri. Terus kembangkan khasanah berpikir. Jangan menjadi objek (korban) lingkungan, tapi berusaha untuk menjadi thoughtsetter (istilah saya sendiri dengan merujuk pada kata trendsetter), dan tentu saja dengan mengingat apa yang dikatakan oleh Alex Inkeles, guru besar sosiologi di Harvard university yang intinya adalah salah satu kriteria orang modern adalah orang yang mempengaruhi dan bukan dipengaruhi lingkungan. Dengan bahasa saya tadi yakni menjadi thoughtsetter, yang kemudian barulah bermuara pada behaviorsetter, trendsetter, dan setter2 yang lainnya.

Ini hanya bisa dilakukan bila budaya lisan, tidak mendominasi budaya membaca dan menulis! Mungkin kalau saja Bung Karno, Bung Hatta, Buya HAMKA, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Amir Syarifuddin, sampai ke Pramoedya Ananta Toer masih bisa dimintai pendapat, mereka akan 1000% setuju. Kebanyakan dari mereka ini adalah orang2 yang tak menjadi korban lingkungan. Mereka tetap merasa menjadi orang bebas meski berada di balik jeruji. Bahkan hasil-hasil karya mereka justru lahir dari balik jeruji itu! Mereka hebat, bukan? Ya, sehebat Anda dan saya!

Read More......

Life Depends on Us

Akhirnya background blog saya ini saya ganti putih. Mengapa? Mungkin ada yang bertanya demikian. Sebenarnya ini cuma mengingatkan saya saja pada filosofi bahwa "Life is how you see it", baik tidaknya hidup itu tergantung dari diri kita. Nah, apa keterkaitannya? Mari kita selusuri lebih jauh..

Blog ini akan nampak bersih, apabila monitor di komputer Anda dan saya bersih. Sebaliknya dia akan bernoda, kalau screen komputer kita ada nodanya. Jadi begitulah kira2, kawan, sebuah filosfi yang ingin saya ingatkan, utamanya pada diri sendiri.. (Apa kabar ya, teman2ku?)

Read More......

The Power of Visualization


Visualisasikan dengan intens apa yang paling kamu ingini dalam hidupmu.. Bayangkan bagaimana rasanya kamu memiliki apa yang sangat kamu harapkan. Sebut saja misalnya, keinginanmu (yang dari sebelum menikah dulu) untuk memiliki RUMAH SENDIRI, ingin benar-benar hidup mandiri.. KAMU BEKERJA DENGAN BAHAGIANYA DI RUMAHMU IMPIANMU ITU.. KAMU BERIBADAH DENGAN KHUSYUK.. DI SETIAP TEMPAT DI BAGIAN RUMAHMU ITU, KAMU MERASAKAN KENYAMANAN YANG LUARBIASA.. AH, BETAPA BAHAGIANYA HATIMU…


Bayangkan kamu bekerja, bermain, dan bercanda dengan di rumah pribadimu itu. Rumahmu memiliki sarana yang lengkap dan modern. Kamu pun tidak perlu keluar rumah lagi. Kamu bekerja cukup dari rumah saja. Client2mu datang ke rumahmu.

Uang mengalir dengan derasnya ke tabunganmu. Kamu dan keluargamu, setiap akhir pekan keluar negeri (Eropa, Amerika, Asia) untuk refreshing, belajar dan menimba pengetahuan, karena bagimu pengetahuan adalah segala2nya.

Bayangkanlah hal-hal di atas di alam bawah sadarmu (subconscious mind), karena alam bawah sadar manusia tak bisa membedakan antara mana fakta dan mana yang imajinasi. Jadi kita bisa merasakan kualitas keduanya dengan kadar yang sama, ya, kadar yang sama. Tatkala Anda membayangkan, bekerja di rumah mewahmu yang baru dan harum, tatkala membaca tulisan ini, bayangkan seakan-akan Anda tengah berada di tempat yang kamu impikan itu, maka universe akan berkonspirasi untuk mewujudkan keinginanmu itu.

Kemampuan kita untuk membayangkan apa yang kita inginkan akan menavigasi kehidupan kita untuk mendapatklan keinginan kita itu dengan lebih cepat… ya, kita bisa.. Anda dan saya bisa… KITA BISA memiliki apa pun yang kita imajinasikan, asal kita benar-benar selalu menyisihkan sedikit waktu secara konsisten, setiap hari.. Tiba2 semua keinginan itu terwujud tanpa sempat kita sadari!!!!

Selamat bervisualisai!

(Gambar, hasil modifikasi dari karya Andrew M)

Read More......

Aku Terpana! (3)

[20:33:47 WIB]

Entah mengapa, aku selalu saja menjadi orang yang terpana. Orang yang terpesona melihat betapa banyak orang lain yang begitu luarbiasa! Aku kagum dengan mereka. Aku berdecak-decak sendiri melihat setiap yang datang dan berlalu dengan segala talenta dan keluarbiasaannya. Apakah aku memang ditakdirkan untuk terus menjadi penonton yang selalu saja hanya "terpana."Penonton yang terperangah menyaksikan betapa dasyatnya manusia lain yang berada di sekitarnya! (Wah, sungguh rasa ini begitu menggetarkan, kawan!)

NB.
Habis melihat blog orang lain, yang baru saja menulis 1 buku, tapi gaungnya sungguh membuat aku bergetar! Selamat, Kawan! Selamat!!

Read More......

Mahatma Gandhi VS Ralph Waldo Emerson

Mahatma Gandhi [2 Oktober 1869- 30 Januari 1948] berkata, “Keep your thoughts positive because your thoughts become your words. Keep your words positive because your words become your behaviors. Keep your behaviors positive because your behaviors become your habits. Keep your habits positive because your habits become your values. Keep your values positive because your values become your destiny.”

Apa yang bisa kita pelajari dari kata-kata ini? Ada beberapa tahapan yang merupakan rangkaian proses kehidupan kita sebelum kita bersentuhan dengan takdir kita masing-masing, yaitu pikiran memproduk kata, kata memproduk prilaku, prilaku memformat kebiasaan, dan kebiasaan menjadi nilai-nilai, dan nilai-nilai yang kita miliki akan bermuara pada takdir.

Kata Mahatma Gandhi ini, sepertinya mendapat pengaruh dari Ralph Waldo Emerson [May 25, 1803 – April 27, 1882], hampir mirip dengan Gandhi, beliau bertutur: “Sow a thought and you reap an act; Sow an act and you reap a habit; Sow a habit and you reap a character;Sow a character and you reap a destiny.”

Ini artinya pikiran kita harus terus dijaga, agar ia selalu berada dikoridor yang memberdayakan kita. Bagaimana menjaganya? Saya yakin kita semua sudah tahu. Tak ada cara lain, selain menjaga semua senses yang kita miliki agar mampu menyerap hal2 yang positif dan baik2 saja, karena hal ini ini akan mempengaruhi cara berpikir kita, yang akan bermuara pada kehidupan kita mendatang. Ada pendapat?

Read More......

Every second counts!

The time goes bye! Time is money! Time and tide wait for nobody. Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini. Entah disadari atau tidak seringkali ini hanya sebatas kata-kata yang sepertinya tak menyiratkan makna apa-apa. Terlepas apakah kita menyadarinya atau tidak, waktu memang akan berlalu. Detik akan digantikan oleh detik yang lain. Detik yang akan datang lalu menggantikan detik yang sekarang, yang kemudian menjadi detik yang usang.

Setiap detik yang datang dan berlalu ini harus terisi dengan sesuatu, tak peduli hal itu konstruktif atau justru kegiatan yang kontraproduktif. Sebuah kata kerja (verb) harus, dan sekali lagi, harus menyertainya. Kata-kerja itu bisa saja; tidur, membaca, makan, mandi, berpikir, ngobrol, duduk, melihat, mendengar, minum, membersihkan sesuatu, memasak, bernyanyi, olahraga, melamun, mengamati, main biliar, atau kongkow-kongkow saja, dan lain-lain. Tidak melakukan apa-apa sekalipun, sejatinya.. kita sedang berkutat dengan sebuah kata kerja, misal duduk termenung atau berbaring bermalas-malasan. Sungguh apa pun dan bagaimana pun cara kita menyikapi waktu, kita dihadapkan pada sebuah kata kerja yang siap untuk dipilih.

Terlepas apakah positif atau negatifnya pilihan ini, hitam atau putih warna yang kita goreskan, setiap detik itu secara alami akan berlalu tanpa bisa kita hentikan. Sebuah natural law yang tak seorang pun mampu menisbihkannya.

Bertolak dari hal tersebut, mengapa kita tidak membulatkan hati untuk memilih kata kerja yang produktif yang berdampak positif pada detik-detik selanjutnya. Persis seperti yang Anda lakukan detik ini, detik demi detik berlalu dan Anda telah memutuskan untuk mengisinya dengan hal-hal yang konstruktif guna pengembangan pengetahuan dan wawasan berpikir Anda (melalui membaca blog ini). Sementara banyak yang lainnya melalui detik yang sama ini dengan hal-hal yang kontraproduktif, seperti nonton TV berlama-lama, sekadar duduk-duduk tanpa ada juntrungannya, gambling, membuang-buang waktu dengan menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, sehingga tertutup matanya untuk melihat karunia detik yang sekarang.

Selamat! Dan penghargaan yang luar biasa kepada Anda yang dengan bijaksana menggunakan detik ini secara konstruktif.

Kesuksesan pada dasarnya dirintis dari detik ke detik. Apa yang kita lakukan pada detik ini merupakan rangkaian dari apa yang telah kita lakukan pada detik sebelumnya. Keputusan dan tindakan apa pun yang kita ambil pada detik ini, akan berdampak pada detik-detik selanjutnya. Yang pada akhirnya berakumulasi dan mengukir NASIB dan masa depan kita. Bukankah kalau detik tidak ada, tidak akan pernah ada menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dasawarsa, abad dan millennium? Bukankah semua unit waktu, dimulai dari sebuah “Detik”. Mari kita fokuskan diri pada “Detik”.

Pertanyaan-pertanyaan renungan (Questions To Ponder)


Kenyataan bahwa setiap detik itu begitu menentukannya, setiap detik itu begitu berharganya, tiba-tiba, entah mengapa, saya dihadapkan pada beragam tanya yang menggelitik hatiku, dan menari-nari di benakku. Memaksa nurani untuk mencarikan jawabannya. Yang pada gilirannya justru melahirkan gelitikan dan tarian baru yang membuatku makin terpesona.

Mari kita sama-sama menyimaknya, siapa tahu Anda mendapat pesan-pesan yang tersirat, atau mungkin Anda punya solusi pribadi terhadap teka-teki ini?

  • Mengapa kita tidak tanam hal-hal yang indah dan bermakna pada setiap pergantian detik yang kita lalui, padahal sungguh kita akan menuai apa pun yang kita tanam?
  • Mengapa kita tidak menghormati orang lain di setiap kesempatan yang ada, meski pun kita tahu, ini sebuah kualitas yang membawa kita pada derajat yang lebih baik?
  • Mengapa kita tidak melembutkan hati di sisa usia kita, agar makna hidup lebih terasa dan ternikmati?
  • Mengapa kita tidak berempati kepada sesama dari waktu ke waktu, bukankah “empati” adalah salah satu prasyarat untuk sukses dalam karier atau profesi apa pun yang kita geluti?
  • Mengapa kita tidak rendah hati di sepanjang hari, sementara kerendahan hati membuat seorang lebih dicintai?
  • Mengapa kita tidak mengasihi sesama pada setiap kesempatan yang tercipta, meski kita tahu ini akan membawa kita ke surga dunia dan akhirat?
  • Mengapa kita tidak terus menimba ilmu dan menambah wawasan kita dari waktu ke waktu, padahal justru hal inilah yang sanggup membuat kita “survive” dan “progress” dalam bisnis apa pun yang kita jalani?
  • Mengapa kita tidak mencintai pekerjaan kita dari hari ke hari, padahal itu adalah kunci ketenteraman pikiran?
  • Mengapa kita sulit untuk jujur pada saat kita berinteraksi dengan sesama, padahal ini adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan di bisnis dan pekerjaan yang kita tekuni?
  • Mengapa kita tidak menjadi diri sendiri pada setiap helaan napas kita, padahal itu akan membuat kita lebih bermartabat?
  • Mengapa kita tidak murah senyum manakala kita bersua tatap dengan orang lain, padahal senyum adalah ibadah yang termurah dan berdampak luar biasa bagi diri sendiri, sesama dan Tuhan?
  • Mengapa kita tidak murah hati, padahal sungguh memberi adalah jalan tercepat menuju kebahagiaan?
  • Mengapa kita tidak menyikapi apa pun dengan sikap mental positif, padahal ini akan membawa kita pada taraf hidup yang lebih baik?
  • Mengapa kita tidak proaktif meski pun kita sadar bahwa sikaf reaktif hanyalah menghasilkan kekecewaan?
  • Mengapa kita tidak menciptakan kebiasaan baru yang produktif, meski pun kita sadar hal itu sangat signifikan dalam upaya pencapaian kita di karier, bisnis, kehidupan sosial bahkan kehidupan pribadi kita?
  • Mengapa kita tidak menjadi pendengar yang baik, padahal itu “value” yang memberikan sumbangan pada “wisdom” yang selayaknya dimiliki oleh setiap orang yang ingin sukses?
  • Mengapa kita seringkali tidak tepat waktu pada saat kita berjanji dengan seseorang, padahal itu cerminan dari kredibilitas, dan kepribadian kita?
  • Mengapa kita tidak berani membuka diri untuk sesuatu yang baru, dan memperluas wilayah comfort zone kita agar hidup ini terasa lebih berwarna dan menggairahkan?
  • Mengapa kita tidak tampil sebaik dan sepantas mungkin, padahal itu akan meningkatkan self-confidence kita?

“Mengapa-mengapa” lainnya yang tak akan cukup sepuluh buku bila semuanya hendak dipostingkan disini. Saya berkeyakinan bahwa setiap kita tahu nilai-nilai positif (positive values) yang manfaatnya sangat mengagumkan bila kita ukirkan pada setiap detik kehidupan kita yang datang dan berlalu. Namun tetap saja ada rasa enggan yang luar biasa untuk mengusungnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian kita. Mengapa demikian?

Be The Best You Can

Bahan renungan kita selanjutnya adalah mungkinkah ini kita biarkan? Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan di atas akan terus menjadi pertanyaan tanpa tindak lanjut? Mungkinkah pola-pola yang tidak positif ini mengendalikan hidup dan membentuk “takdir” kita? Seperti apa yang dituturkan oleh Anthony Robbins dalam “Awaken The Giant Within”:
“You see, in life, lots of people know what to do, but few people actually do what they know” (Banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tapi sedikit saja yang melakukannya). Mudah-mudah kita tidak termasuk salah satunya?

Mari kita analisa bersama. Saya berpendapat bahwa hal ini terjadi jelas didasari oleh kecendrungan manusia untuk didrive oleh kesenangan sesaat (a short-term pleasure), dan membayangkan bahwa kualitas-kualitas di atas didapat dengan mengorbankan kesenangan-kesenangan tersebut. Ada semacam “penderitaan” (pain) yang ingin dihindari, walau pun memang itu hanya penderitaan sesaat (a short-term pain). Ditambah lagi sifat alami seseorang yang selalu ingin instan, akibatnya kesenangan sesaat ini menjadi menu favoritnya. Kemudian hal ini justru menjebak seseorang pada pola perilaku yang kontraproduktif, yang mengikat, dan pada tahapan selanjutnya membentuk suatu kebiasaan destruktif yang mengakar. Yang perlu usaha yang tidak ringan untuk mendobrak polanya.

Upaya pendobrakan pola ini jelas harus dilakukan kalau kita mau menjadi yang terbaik. Bukankah dengan profesi apa pun yang kita miliki, guru, tukang sapu jalan, karyawan, presiden, penulis, aktor, artis, pengusaha, salesman, jurnalis, penyanyi, ibu rumah tangga atau bahkan seorang pemulung sekali pun, be the best you can. Dengan kemampuan kita untuk berpikir jangka panjang, memfokuskan diri pada hasil setelah “penderitaan” ini berlalu, merupakan kiat yang perlu dipertimbangkan. “Kualitas kehidupan seseorang berbanding lurus dengan komitmennya untuk memberikan yang terbaik, apa pun bidang usaha yang mereka pilih.” Demikian kata Vince Lombardi seorang pelatih rugby yang sukses. Yang menunjukkan bukan hanya cara berhasil menang dalam permainan rugby, namun juga bagaimana menang dalam permainan kehidupan.

Harus disadari juga bahwa sebagai manusia, makhluk yang berakal-budi (ratio), berhati nurani (conscience), dan berkehendak (desire), dengan suatu usaha secara sadar, pasti kita mampu meraih apa pun yang “benar-benar” kita inginkan. Kualitas diri kita ditentukan oleh seberapa besar usaha kita untuk terus menjadi baik dari waktu ke waktu. Henry David Thoreau dalam bukunya Walden, berkata, “I know of no more encouraging fact than the unquestionable ability of man to elevate his life by a conscious endeavour.”
(Saya tahu tak ada fakta yang membesarkan hati selain kemampuan manusia untuk mengangkat hidupnya dengan suatu usaha secara sadar.)

Kalau memang nilai-nilai di atas merupakan values yang harus kita miliki untuk mengangkat harkat dan martabat kita sebagai insan. Sarana guna meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang kita impikan. Mengapa tidak kita putuskan saja untuk menjadikannya sebagai bagian dari jati diri kita? Menjadi karakter kita? Menurut Anda?

Read More......

Be Yourself!

“Find yourself and be yourself ;
remember there is no one else
on earth like you.
(Dale Carnegie)

Jangan mau jadi the second Oprah Winprey. Jangan mau jadi Elvis Presley kedua. Jangan mau jadi Dale Carnegie kedua. Mari menjadi diri kita yang pertama. Menjadi diri sendiri! Saya sungguh terkadang merasa lucu melihat orang mau menjadi orang lain dengan segala cara. Begitu bangganya dia menjadi idolanya, sampai-sampai rambut, gaya bicara, batuknya pun ingin sama persis! Lebih aneh lagi, karena sang idola ini meninggalnya pada usia relatif muda, si copycat ini pun tak mau menjadi tua. Dia ingin selalu tampil seperti pada saat sang idola dalam peak performancenya, padahal waktu terus berjalan, time goes by!

Setiap orang ditakdirkan untuk berbeda satu sama lain. Ada sebuah fakta ilmiah (You And Heredity by Amram Scheinfeld) yang menyatakan 1 : 300.000 miliar kemungkinan 2 anak manusia untuk sama.
Jadi mengapa kita tidak menggali saja keunikan kita. Perbedaan dan keberagamanlah yang justru membuat hidup ini lebih berwarna. Orang bijak berkata, “variety is the spice of life”. Keberagaman adalah bumbu penyedap kehidupan. Bukankah hidup ini lebih indah dengan beraneka macam warna.

Ya, syah-syah saja kalau kita ingin mengikuti jejak orang-orang yang sukses. Belajar dari mereka untuk mencapai impian kita. Meniru teknik Michael Jordan pada saat bermain basket. Mengadopsi cara Warren Buffet pada saat berinvestasi. Memandang uang sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Robert T. Kyosaki. Menyikapi hidup ala para sufi. Namun tetap saja kita dengan ciri khas yang tiada duanya. Karena perbedaan itulah yang membuat kita justru lebih dihargai.

Siapa yang ditiru oleh Almarhum Benyamin S? Saya berkeyakinan dia dikagumi sampai sekarang oleh banyak orang karena dia punya ciri khas. Sahabat berkata bahwa, kita tak akan memiliki lagi orang sekaliber dia disisa usia kita. Tentu saja! Bahkan seribu tahun lagi pun tak akan ada orang yang bisa menyamai dia. Dia unik! Sia spesial! Seperti juga Anda dan saya! Ada yang mau menjadi the second Benyamin S? Belajar darinya itu baik, tapi jangan jadi dia. Jadilah Anda sendiri.

Orang sukses adalah orang yang berani berbeda (diferensiasi), seperti kata Zig Ziglar dalam bukunya Step To The Top, “You are unique and special. No one else can make your contribution to mankind. There is no need for comparison but only for cultivation of your unique qualities”.
Kalau memang kita ditakdirkan unik dan spesial. Kalau memang sumbangsih kita pada sesama tak akan tergantikan oleh siapa pun, mengapa kita harus membanding-bandingkan? Tidakkah yang perlu kita lakukan hanyalah menggali kualitas unik yang ada di dalam diri kita masing-masing?

Setelah kita menyadari bahwa setiap orang itu berbeda, mengapa kita harus memaksakan diri untuk persis sama dengan orang lain, atau sebaliknya, memaksa orang lain (termasuk anak-anak dan orang-orang terdekat kita lainnya) agar sama dengan diri kita. Dale Carnegie berucap, “You’re something new in the world. Be glad of it. Make the most of nature gave you.” Sepatutnyalah kita bersyukur dengan keberadaan kita di muka bumi ini. Maksimalkan saja apa yang dianugerahkan alam! Kita sungguh sesuatu yang baru bagi dunia ini.

Setiap orang bisa sukses sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya masing-masing. Kita tidak perlu menjadi Bill Gate, Warren Buffet, Aristotle Onnasis, Bob Sadino, Andrie Wongso, Hermawan Kartajaya, Anthony Robbins, Dale Carnegie, dan lain-lain (maaf yang belum disebut) untuk sukses. Kita hanya perlu jadi kita, saya perlu jadi saya, dan Anda jadi Anda. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggali keunikan kita, dan memaksimalkan segala karunia yang diberikan Sang Pencipta. That’s it!

(Diambil dari Seni Mengajar dengan Hati (Don't Be A Teacher Unless You Have Love To Share)

Read More......

Selamat Hari Guru!

Guru aku dengar jeritmu..
Aku dengar...
Tak akan aku tulikan cuping jiwa ini..
Tak akan aku butakan mata hati ini..

Aku terus mendengarmu meski riuh memekakkan telinga..
Aku terus menatapmu meski gelap semakin pekat..
Aku membelai lembut hatimu..
Membalut halus luruh jiwamu...
Karena dirimu juga bersemayam di dalam diriku..
Karena aku adalah JUGA guru..

Namun Aku guru yang tak beridentitas...
Guru yang tak punya Kartu Anggota..
Guru yang tak pernah memiliki SK
Guru yang tak bernaung di jenis SEKOLAH apa pun..
Guru yang tak pernah berharap apa-apa..
Guru yang tak pernah terimbas pada keberpihakan anggaran negara saat ini..

Guru yang hanya memanen dari apa yang ia tanam,
Ya, hanya memanen apa yang ia tanam...

Kalau ia menanam bibit yang unggul, ia akan menuai buah yg juga unggul..
NAMUN bila ia lalai sedikit.. maka yang didapat hanya kehampaan!

Sudahkan kita menanam bibit yang unggul hari ini?

Read More......

Menjadi Pembicara Seminar di UNG

Beberapa hari yang lalu (20-21 November 2008) aku sempat memberikan seminar di acara HUT Guru, di Gorontalo. Tepatnya di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) atas undangan rektornya, Pak Nelson Pomalingo. Wah seru juga acaranya. Yang jelas aku merasa senang sekaligus bangga mendapat apresiasi dari dunia pendidikan Indonesia.


Di hari pertama aku menjadi salah satu pembicara dari 2 pembicara di acara itu, yaitu Pak Sulistyo, Ketua Umum PB PGRI Indonesia, dan diriku penulis buku “Seni Mengajar dengan Hati” di hadapan 800-an audiens (Rencana panitianya, akan bertiga bersama penulis Buku Laskar Pelangi, tapi entah mengapa jadinya batal).

Di hari ke dua aku menyampaikan sekilas kiat-kiat agar bisa “Mengajar dengan Hati” kepada 500-an guru di sana. Aku menjadi pembicara tunggal, di dampingi oleh Pembantu Rektor I, Pak Karmin, karena kebetulan Rektornya lagi kunjungan ke Jordan. Wah, seru banget, sukses luar biasa, dan barusan rektornya sms aku untuk kembali memberikan ceramah ilmiah, kali ini, khusus untuk dosen-dosennya, tentang “Seni Mengajar dengan Hati.” Baik saya akan datang, Pak..

Read More......

Korupsi & Hedonisme

Banyak orang saat ini meletakkan hakikat kehidupannya pada materi. Mereka terpedaya dan terperangkap oleh godaan materi yang patut diakui sangat luar biasa dalam kehidupan ultra modern saat ini. Percaya atau tidak, hampir semua orang menganggap money is the most important thing in life. Kekuatan uang yang begitu dasyat membawa mereka pada paradigma yang jelas-jelas menjadi mudharat baik bagi mereka sendiri mau pun bagi orang-orang di sekitar mereka.


Orang-orang di sekitar kita, bahkan [acapkali] keluarga kita sendiri seringkali – kalau tidak bisa dikatakan selalu – memandang rendah, pada saat kita (atau siapa pun) tak punya uang atau hanya punya uang sedikit. Mereka dengan sebelah mata memandang kita (sebagian besar kita pasti pernah merasakannya, dengan kadar yang tentu saja berbeda-beda), terlepas betapa di bidang atau sisi2 kehidupan lain kita berlimpah.

Karena memang nilai atau ukuran kesuksesan seseorang di mata kebanyakan orang lainnya adalah seberapa banyak kepemilikannya atas materi (baca: uang), dan ini akan mempengaruhi kadar penghargaan yang akan didapatnya. Kalau kita punya banyak uang, maka orang lainnya akan melihat kita dengan penuh takzim, namun sebaliknya kalau kantong kita kempes, maka akan mengempes pulalah nilai diri kita di mata mereka. Ya, begitulah hedonisme massive masa kini, yang mulai menggejala di setiap pranata generasi bangsa kita. Sebagian besar manusia hanya menilai sesamanya dari pencapaian harta duniawi, tidak lebih!

Keadaan ini tentu saja harus secara gradual [kalau belum bisa frontal] dieliminir. Harus ada upaya pelurusan pemahaman yang menyesatkan seperti ini, setidaknya diawali dari diri kita sendiri, dan orang2 terdekat di sekitar kita. Karena ini akan berdampak pada pendidikan generasi muda yang salah kaprah. Akan terjadi upaya money-seeking secara tidak bertanggung jawab alias dengan segala upaya. Korupsi akan menjadi jalan pintas yang cenderung dipilih.

Saya menduga ini ada andil terhadap mental korupsi banyak saudara2 kita di persada ini!

Menurut Anda?

Read More......

AKSARA JIWA

Ah, kata,
Rasanya Engkau
tak lagi mau singgah,
Sementara nurani ingin
bicara.

Ah, kata,
Mampirlah,
Agar bunga-bunga
Merekah di jiwa.

Kelam rasa,
Lara mendera,
Tiada bersisa,
Hanya pasrah,

Ah, kata,
Kembalilah,
Tebar aksara
Sebar makna,
Agar langkah
Ada arah.

Ah, kata,
Sampaikanlah
Getar asa ke semesta
Agar karya cipta
Tak terkubur
bersama raga.

(Kebon Jeruk, tak bertanggal)

Read More......

Batu Kerikil Yang Patut DIsyukuri

Ada pelajaran yang amat penting yang aku hayati hari ini, yaitu untuk sukses kita seringkali terhalang oleh banyaknya "batu kerikil" diperjalanan hidup kita. "Batu kerikil" ini kadang sangat menyakitkan kaki kita untuk melangkah, namun sebenarnya ini sungguh sangat menyehatkan tubuh apabila kita mampu sedikit menahannya. Sel2 syaraf di sekujur telapak kaki kita akan lebih bekerja maksimal.


Tak selamanya kita mendapatkan jalan yang mulus di perjalanan kita menuju puncak harapan, namun selalu saja ada hambatan yang sebenarnya merupakan "kawah chandra dimuka" bagi jiwa, yang akan membuat “mutiara” di dalam diri kita semakin terbentuk dan berkilau cahayanya. Rasa syukur terhadap setiap "batu kerikil" yang menghias perjalanan kita menuju asa, harusnya menjadi bagian dari karakter pribadi kita.
Kerikil2 ini harus mendapatkan porsi rasa terimakasih yang tak kalah takarannya dibanding "jalan mulus" yang acap membuat kita lengah. Itulah "kerikil2" yang bagi sebagian orang merupakan penghambat, namun sejatinya "kerikil" itu adalah bagian dari kehidupan yang perlu disyukuri, karena melalui kerikil2 yang tak jarang tajam itulah, diri kita tertempa!!! Selamat bersyukur! (udah ya, mau siap-siap bersilaturahmi!)

Read More......

Selamat Hari raya Idul Fitri 1429 H

Malam ini aku gak tahu apa yang hendak aku tulis di blogku yang mulai aktif (walau kadang sedikit males) aku update ini. Ini malam terakhir makan sahur. Besok akan menjadi hari terakhir berpuasa di tahun ini. Thanks God, atas karuniaMu, aku masih sempat mencicipi indahnya berpuasa di Ramadan ini, mudah2an Engkau masih memberiku hak istimewa untuk merasakan Ramadan di tahun2 mendatang. Amin.

.
Selamat Hari raya Idul Fitri 1429 H. Minal Aidin Walfaidzin. Maaf lahir dan bathin buat semua pembaca blogku tanpa terkecuali. Salam hangatku untukmu, Kawan!"

Read More......

ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

Hutan yang baik tidak tumbuh dengan mudah,
semakin kencang angin di sana,
semakin kuat pohon-pohonnya.
(J. W. Marriot)


Pada postingan kali ini, kita akan membahas mengenai kecerdasan adversitas (adversity quotient). Konon kecerdasan ini berperan penting dalam menuntun kesuksesan seseorang, terlepas profesi apa pun yang sedang ditekuni.

Menurut Paul G. Stoltz, dengan kecerdasan ini kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena kecerdasan ini merupakan penentu seberapa jauh kita mampu bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup.

Tapi terus terang, kita akan mengeksplor jenis kecerdasan ini melalui penghayatan dari perjalanan hidup itu sendiri, bukan yang terlahir dari riset para pakar yang berbelit-belit dan kadang terkesan dibombastis, sehingga mengerutkan otot-otot berpikir kita. Mari kita membahasnya dengan cara yang positif, mencerahkan, ringan dan bahasa hati. Tidak perlu menjadi pakar, untuk menulis dan memahami ini. Karena ini adalah milik kita semua, terlepas apa pun latar belakang pendidikan yang kita miliki.

ADVERSITAS HIDUP
Pernahkah Anda merasa hidup begitu menakutkan? Hidup begitu tak menyisakan apa-apa selain rasa cemas yang berlebihan terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi? Uang tinggal sedikit, sementara penghasilan tidak menentu? Kesulitan datang bertubi-tubi mendera jiwa Anda. Pernahkah Anda mengalami ini?

Pernahkah Anda kebingungan sendiri melihat semua hal seperti tak sesuai dengan yang Anda rencanakan? Semuanya seperti meleset dari rencana? Kelam seperti menyelimuti kehidupan Anda? Dingin seakan membekukan kalbu Anda? Kala segalanya seperti tak berpihak? Anda seperti tengah terhimpit di dasar kehidupan Anda? Roda kehidupan Anda tengah melindas diri dan jiwa Anda? Anda tak punya pilihan? Pernahkah Anda merasa seperti ini? Atau saat ini justru perasaan seperti itu yang tengah Anda rasakan?

TANYA JIWA
Calm down, my friend! Itulah adversitas (kesulitan) yang sangat akrab dengan hidup! Semakin tinggi tingkat kesulitan yang sedang kita hadapi, semakin besar pelajaran yang bisa dicermati. Sejalan dengan ini John Gray, berkata, “Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh.”

Yang perlu dilakukan hanyalah satu, perkuat fighting spirit Anda! Teruslah melangkah menuruti kata hati Anda. Tetapkan jiwa Anda untuk selalu fokus pada berkah dan kemuliaan hidup. Lumuri kalbu Anda dengan segala kebaikan. Ingat, pasti masih banyak rahmat yang patut kita syukuri. Sekarang perkenankan saya bertanya ke jiwa Anda. (Berikan tanda √ pada setiap pertanyaan).
• Apakah Anda masih bebas menghirup oksigen?
• Apakah Anda masih bisa melihat?
• Apakah Anda masih bisa mendengar?
• Apakah Anda masih bisa membaca?
• Apakah Anda masih bisa berjalan?
• Apakah Anda masih bisa tersenyum?
• Apakah Anda masih sehat?
• Apakah Anda masih bisa makan?
• Apakah Anda masih memiliki seseorang yang Anda cintai?

Apabila sebagian besar pertamyaan itu Anda conteng, “Selamat!” Karena masih banyak yang lain yang tak seberuntung kita. Tersenyumlah dan bergembiralah pada segala karunia hari ini. Tidakkah matahari masih bersinar? Tidakkah burung-burung masih berkicau? Tidakkah kita masih bebas menikmati segala rahmat dari alam? Inilah core dari sebuah kecerdasan mengungguli rintangan hidup. Sebuah kebulatan hati untuk terus mendaki, meski tapak kaki bak tersayat belati!

Inilah kecerdasan yang harus kita miliki agar kita mampu mengubah kesulitan menjadi sebuah tantangan, dan hidup ini akan menjadi lebih berkualitas. Senada dengan ini Mihalyi Csikzentmihaly menulis, “Dari semua sifat yang bisa kita pelajari, tidak ada watak yang lebih bermanfaat, lebih penting bagi kelangsungan hidup, dan lebih besar kemungkinannya untuk memperbaiki mutu kehidupan, daripada kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan yang menyenangkan.”

REJOICE BECAUSE THORNS HAVE ROSES
Kita mengalami kesulitan? Sekali lagi, bersyukurlah! Itu berarti kita diberi kesempatan untuk mengasah kembali kepekaan, ketajaman dan kecerdasan kita. Bukankah kita survive sampai saat ini, salah satunya disebabkan karena kita telah menghadapi banyak sekali tantangan hidup di masa lalu? Terimalah segala corak hidup yang datang menghampiri kita dengan penuh keikhlasan.

Berbahagialah! Hidup adalah masalah pilihan, life is just a matter of choices! Apa pun yang terjadi di luar diri kita tidak akan melunturkan semangat juang dan daya tahan kita, asal kita mampu memaknainya secara tepat. Bila kita mampu melihatnya dari perspektif yang baik dan mencerahkan. Ziggi, bertutur, “You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.” (Anda bisa mengeluh karena mawar ada durinya, atau Anda bisa bergembira karena duri ada mawarnya).

Ingat saja, kehakikian makna ketegaran diri yang merupakan indikator dari kecerdasan adversitas (adversity quotient), justru terletak pada kerelaan kita menerima segala hal dengan lapang dada. Ini adalah langkah pertama kita untuk bangkit dan mendaki gunung-gunung adversitas kita! Sejalan dengan ini Professor William James, seorang Bapak psikologi terapan, berkata, “Be willing to have it so... be willing to have it so, because acceptance of what has happened is the first step in overcoming the consequences of any misfortune.” (Bersedialah menerima apa pun dengan ikhlas, karena penerimaan terhadap apa pun yang terjadi adalah langkah pertama dalam mengatasi akibat dari segala kemalangan).

Pada saat kita mampu merespons segala kepahitan hidup dengan cara yang konstruktif. Dan meyakini bahwa reaksi kita terhadap apa pun yang terjadi, pada prinsipnya ada di bawah kendali kita. Ini akan berefek pada meningkatnya kekebalan tubuh kita terhadap penyakit, karena otak akan mengalirkan hormon-hormon pendorong kesehatan seperti catacholamine, corticosteroid, bersama dengan neurotransmitter-neurotransmitter lainnya dalam kadar yang tepat, ke seluruh tubuh kita.

SEMUA ADA ENDING-NYA
Tegapkan badan! Tatap hidup langsung ke jantungnya. Setiap gelap pasti berakhir. Bukankah di perujung malam selalu ada fajar? Bukankah badai selalu saja berlalu? Bukankah cerita pasti ada ending-nya? Bukankah setiap pertunjukkan pasti akan usai? Bukankah setiap pesta pasti akan bubar? Bukankah setiap pangkal pasti ada akhir? Tidakkah hal-hal ini suatu kebenaran nyata. Tak perlu ada penelitian tentang hal ini. Tak perlu pendapat para pakar untuk mendukung pernyataan ini. Anda dan saya sudah sangat memahaminya. Jadi sesungguhnya tak ada kesulitan yang bersifat permanen. Pemahaman ini merupakan parameter dari seseorang yang tinggi kecerdasan adversitasnya (AQ).

Banyak hal dalam hidup yang tak terelakkan. Suka atau tidak, hal itu akan terjadi. Sebaik apa pun kita, sedahsyat dan seluar biasa apa pun pikiran kita, semulia apa pun hidup yang kita jalani, tetap saja terkadang nestapa akan menghampiri. Bila kita rela menerimanya, maka kebahagiaan pun akan menghias hati dan pikiran kita. Epictetus, berkata, “There is only one way to happiness, and that is to cease worrying about things which are beyond the power of our will.” (Satu-satunya cara untuk bahagia adalah jangan pernah mengkhawatirkan segala hal yang terjadi di luar kemampuan kita).

Ada kata-kata Henry Ford, yang mungkin perlu saya dan Anda renungkan, “When I can’t handle events, I let them handle themselves.” Kata-kata ini hampir mirip dengan ucapan teman konyolku, Bojang, yang dengan gurauan khasnya, dan bahasa tubuh yang theatrical nan memukau, berkatalah dia dengan lantangnya, “Stop! Aku tak ingin lagi memikirkan hidup yang sulit, biarlah hidup, sekarang, yang memikirkanku!” Lalu kami semua tertawa mendengarnya. Ini seperti kalimat cerdas yang keluar dari seorang filusuf, padahal ini keluar dari mulut seseorang yang SD pun tidak tamat.

Keikhlasan kita menerima hal-hal yang tak bisa dihindari memberikan kekuatan pada jiwa untuk dengan tenangnya mengambil langkah-langkah yang bisa membawa kita pada pencapaian yang jauh lebih tinggi. Setelah jiwa kita berpelukan mesra dengan adversitas (kesulitan) maka kejernihan akan mengalirkan segala kedamaian. Kita kemudian menjadi pengontrol dari respons kita terhadap setiap aral yang merintang di jalan kita. Ini pada gilirannya akan berpengaruh positif dan menyehatkan tidak hanya bagi jiwa tapi juga raga kita. Kita akan menjadi raja atas hati kita. Kita adalah penguasa atas perasaan Kita!

(Diambil dari The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers by Dani Ronnie M)

Read More......

UPS AND DOWNS Seorang Guru (Bag 2)

MENDUNG ITU MENGHAMPIRIKU

Setelah beberapa bulan mengikuti training di Lembaga Bahasa Inggris yang berskala nasional ini, akhirnya mulailah aku mengajar di depan siswa-siswaku. Aku diberi kesempatan untuk mengajar tidak hanya anak-anak tapi juga remaja dan orang dewasa. Bukan hanya kelas di dalam (general classes), tapi juga aku sering di kirim ke perusahaan-perusahaan (in-company training)

Aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk siswaku, by hook or by crook!

Karena tingkat mobilitasku yang tinggi, berangsur-angsur kondisi tubuhku pun mulai menurun. Staminaku mulai kedododoran. Aku menikmati pada waktu mengajar pagi, namun pada malam hari, aku mulai capek dan loyo, sehingga kualitas mengajarku pun tak memuaskan. Setiap mengajar aku aktif. Aku terbiasa untuk tidak duduk. Bagiku guru adalah pelayan. Pelayan yang melayani siswa sebaik-baiknya.

Suatu hari aku ingat sewaktu aku masih mengajar di keluarga Kanada-Thailand yang kuceritakan di postingan sebelumnya. Aku pernah juga merasakan capek, dan waktu itu mereka memberiku "minuman" yang katanya bisa memulihkan tenagaku. Aku minum sedikit, dan memang khasiatnya luar biasa.

Aku coba cari minuman itu. Ternyata tersedia di banyak toko. Setiap mengajar aku selalu meminumnya. Pada awalnya kadarnya hanya seperempat botol saja, dan staminaku memang terasa prima bahkan untuk satu hari beraktivitas.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku menjadi terbiasa meminumnya, dan aku merasa caraku mengajar pun semakin baik. Setelah satu tahun aku merasakan khasiatnya mulai berkurang, sehingga aku harus menambah kadarnya.

Sampai suatu saat, untuk mengajar satu kelas, aku harus meminum satu botol. Karena malu dilihat teman, akhirnya saya membeli beberapa botol di rumah dan dikemas ke dalam kantong plastik. Saya meminumnya di toilet, beberapa menit sebelum kelas di mulai, supaya reaksinya lebih lama. Setelah satu kelas usai, saya harus meminum lagi untuk kelas selanjutnya. Kalau saya tidak minum, saya merasa gemetar dan takut kepada siswa saya sendiri. Yang aku baru tahu sekarang, itu lah yang disebut paranoid (parno)

Bayangkan kalau saya mengajar 3 atau 4 kelas satu hari, konsekuensinya aku harus minum 3 atau 4 botol yang sudah aku masukkan ke beberapa bungkusan plastik. Kalau tidak rasa takut yang aneh, menyelimuti diriku.

Perasaan takut ini tidak hanya saya alami sewaktu mengajar. Di rumah pun saya tidak bisa hidup normal. Kalau ada tamu atau teman saya main ke rumah, saya minum dulu di toilet sebelum menemui mereka. Saya menyediakan beberapa botol agar kalau teman saya atau pacar saya datang saya ada stok untuk menghadapi mereka. Yang ikut direpotkan adalah adik atau keponakan saya. Mereka harus pontang-panting membeli minuman itu untuk saya. Saya tidak berani membeli sendiri, karena ngomong dengan pelayan toko pun saya takut. Berkarung-karung botol minuman di gudang rumah saya, menjadi saksi bisu ritual ‘gila’ ini.

Sampai suatu saat, saya tak sanggup menahannya lagi. Saya harus berhenti. Saya harus menghentikan aktivitas ‘aneh’ ini. Saya harus memperbaiki dan berbenah diri. Kemudian dengan keterpaksaan yang luar biasa, akhirnya saya mengundurkan diri dari tempat saya mengajar, karena tak mungkin saya mengajar sambil ketakutan. Saya lalu menjadi penganggur. Saya memutuskan semua interaksi dengan orang luar, termasuk pacar saya, dan memang dia sudah fed up terhadap saya.

Saya hanya mengurung diri. Saya tidak menemui siapa pun. Saya gemetar dan takut, bahkan dengan keponakan saya sendiri. Orangtua saya sudah pasrah. Ibu saya sudah tak berharap banyak lagi. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi masalah yang aku rasakan, karena memang dia tak mengerti apa yang terjadi. Keluarga saya menganggap saya sudah tak ada harapan lagi. Hilanglah sang anak yang mereka banggakan!

Saya berhari-hari, berbulan-bulan hanya di kamar saja. Saya berjuang agar hidup normal lagi. Saya teringat saat-saat di mana “Percaya Diri’ seperti nama tengahku. Dulu teman-temanku, kalau mau melakukan pertemuan dengan orang-orang yang dianggapnya hebat, selalu membayangkan apa yang aku lakukan kalau aku yang melakukan pertemuan itu. Tapi sekarang aku bertemu dengan pelayan toko pun tak punya nyali! Seperti kedapatan sedang mencuri saja layaknya.

To cut a long story short, beberapa bulan kemudian, sedikit demi sedikit saya berangsur pulih. Saya mulai punya nyali ngobrol dengan keluarga saya. Saya mulai berolahraga, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah masa-masa penenangan diri, akhirnya saya mulai merasa normal kembali. Saya mulai berani bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku.

KEMBALI MENGAJAR
Tebersit keinginan saya untuk mengajar lagi, karena saya rasa inilah panggilan hidupku. Terus terang saya mengalami “keanehan” ini pun, pada dasarnya dilandasi oleh niat baik, yaitu hasrat untuk memberikan pelayanan paripurna ke para pembelajar, hanya saja caranya salah dan tak baik.

Karena keinginan menggebu untuk mengajar lagi, akhirnya saya mengiklankan diri di koran-koran. Ada satu-dua tanggapan dari perusahaan-perusahaan di kotaku. Siswa-siswa yang dulunya pernah belajar denganku pun, memintaku untuk mengajar di perusahaannya. Akhirnya aku pun mengajar lagi. Pencarian pada cara mengajar efektif pun di mulai. Tapi sekarang saya bersumpah, saya hanya akan melakukan hal-hal yang baik-baik saja.

Akhirnya saya pun menghentikan kebiasaan merokok. Ini tak lain demi pemaksimalan upaya dalam rangka menghadirkan atmosfir belajar-mengajar yang berkualitas. Ini suatu kenikmatan, suatu kebahagiaan, walau mungkin bagi banyak sahabat ini adalah sebuah pengorbanan, disiplin dan kerja keras.

Disiplin dan kerja keras itu tak ada. Pengorbanan tak akan menjadi pengorbanan pada saat kita menyukai apa yang kita lakukan. Orang menganggap Thomas A. Edison itu adalah pekerja keras, tapi dia merasa tak pernah bekerja sedetik pun. Baginya melakukan penelitian di laboratoriumnya, tak lebih dari permainan yang seru yang begitu mendebarkan! Berbicara tentang disiplin, tanya Ade Rai. Disiplin yang luar biasa hanya akan muncul pada saat kita menyatu dan mencintai apa yang kita kerjakan. Love your job and you’ll never work a day! Demikian kata orang bijak.

Setelah aktif mengajar lagi, akhirnya saya hijrah ke Jakarta. Ternyata Jakarta menawarkan banyak sekali pilihan. Saya sempat mengajar di lembaga pendidikan yang berskala internasional (EF-Tebet) selama tiga tahun, mengajar di beberapa perusahaan besar dan instansi-instansi pemerintah, dan sempat juga mendirikan lembaga pendidikan dan penerbitan sendiri (ALTI). Kemudian, takdir menggiring saya untuk menjadi seorang penulis (PT Elex Media Komputindo, PT Mizan Publika dan ALTI Publishing). Ah, hidup ini memang menantang, sahabat! Masih banyak tantangan yang menanti kita di depan sana. Any idea?

Apa pun pekerjaan yang kita tekuni, landasilah dengan niat yang sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya, semulia-mulianya. Segala hal yang kita mulai dengan niat baik, akan berbuah kebaikan. Kebaikan itu layaknya aroma mewangi yang kita tebar, keharumannya juga kita rasakan, bahkan sampai ke ceruk jiwa kita. Menurut Anda?

Read More......

UPS AND DOWNS Seorang Guru*

Orang yang tak pernah
membuat kesalahan berarti
tak pernah mencoba sesuatu
yang baru.

—Albert Einstein

Pelajaran Dari Perjalanan Diri

Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Keunikan perjalanan dirilah yang kemudian membuat kanvas hidup menjadi berwarna, kaya dan mendebarkan. Pada postingan kali ini perkenankan saya menuangkan sepenggal kisah “menarik” yang saya alami sebelum saya menjadi guru bahasa Inggris dan di tahun-tahun pertama saya menggeluti profesi ini.

Dulu waktu saya masih belajar bahasa Inggris di kursus kecil di kota saya, saya merasa senang, semangat saya menggelora jika ada kesempatan berdiri di depan kelas untuk menggantikan guru bahasa Inggris kami yang sering absent. Saya merasakan ada getar-getar nikmat di hati, melihat teman-teman begitu terserap memperhatikan saya menjelaskan topik tertentu. Tak kalah berbunga-bunganya saya sewaktu mereka berhasil mempraktekkan topik yang disampaikan hari itu. Mengamati mereka practice diselingi oleh senda gurau yang tak direkayasa, sungguh keindahan yang tak terperi.

Teman-teman saya banyak yang berkomentar bahwa penjelasan yang saya berikan, gamblang dan mudah dicerna. Mereka lebih menyukai belajar dengan saya ketimbang dengan guru yang sebenarnya. Betapa tersanjungnya saya mendengar pujian ini. Kelas menjadi sangat solid dan begitu akrab. Saya melihat dari mata-mata mereka bahwa ada penghargaan dan kebanggaan di hati mereka terhadap saya. “Ah, aku juga bangga dengan kalian!”

Guru kursus saya lebih muda 5 tahun dari saya. Dia masih kuliah di FKIP bahasa Inggris, sementara saya sudah lulus Fakultas Hukum, dan sudah menganggur 2 tahun. Teman-teman saya mayoritas anak-anak yang tamat SMA dan pengangguran, mahasiswa, atau karyawan-karyawan di perusahaan swasta.

Hampir setiap kali guru saya absen saya yang mengambil alih kelas. Teman-teman saya senang dengan keadaan ini, saya pun tak kalah excited-nya. Setiap saat saya pergi kursus, saya berharap semoga gurunya tidak datang, agar saya bisa mengajar teman-teman lagi. Inilah awal dari ketertarikan saya di dunia keguruan. Komentar teman-teman pun kian membulatkan hati saya untuk menjadi seorang guru.

Sekarang saya tahu mengapa teman-teman menyukai cara saya mengajar waktu itu. Rupanya, dan ini penting:

Mengajar itu akan efektif apabila kita menyatukan hati dan diri dengan para pembelajar kita. Kita tahu persis apa yang mereka rasakan dan inginkan, karena kita memang berada di pihak mereka. Setiap gerak hati dan suara-suara yang tak terlisankan dari jiwa mereka bisa kita tangkap dengan akuratnya. Kita tahu persis bagaimana membuat mereka senang, dan apa yang harus dilakukan agar mereka termotivasi, karena kita adalah mereka dan mereka adalah kita. Kita guru sekaligus pembelajar yang antusias. Ini, sekali lagi, sangat penting!

Belajar Tak Mengenal Usia

Saya begitu termotivasi untuk belajar bahasa Inggris. Bagi saya bahasa Inggris sangat penting, dan skill yang asyik untuk dipelajari. Sebenarnya menurut teman-teman almamater saya, saya sudah benar-benar terlambat untuk belajar. Sudah tidak mungkin. Saya memang waktu itu sudah berumur 27 tahun. Mereka benar, bila saja hati saya mengamininya, tapi saya berpendapat lain. Saya tahu banyak orang-orang sukses, sebenarnya bisa mengemukakan alasan mereka untuk tidak sukses, tapi mereka memilih untuk tidak mencari alasan itu, apalagi mengemukakannya. Kalau mereka bisa, saya percaya kita pun, pasti bisa! Keyakinan ini membuat saya ingin membuktikan bahwa belajar itu tak mengenal usia. “Usia boleh tua, tapi hati harus tetap muda!” bisik hatiku.

Ternyata menurut penelitian terbaru, kemauan sepanjang hayat untuk belajar bahasa itu sangat sehat, karena kegiatan ini dapat membantu menjaga dendrit sel otak kita agar tetap pada kondisi yang baik, dan bahkan hal ini akan menghindarkan kita dari penyakit Alzheimer! Jadi walaupun kita sudah tua, tetaplah jaga hasrat kita untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa kita. Ini akan membuat kondisi otak kita memberdaya.

PINDAH KOTA
Sayangnya, saya tak lama belajar di kursus kecil ini, hanya kira-kira 8 bulan. Dengan berat hati saya tinggalkan teman-teman untuk pindah ke kota lebih kecil. Saya mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi dan operator komputer di sebuah oil company di kota ini.

Dasarnya saya suka bahasa Inggris, maka saya selalu menyempatkan diri untuk latihan. Saya juga menjalin persahabatan dengan orang-orang asing yang ada di sana, dan mereka juga senang, karena di kota kecil itu tidak banyak penduduk asli yang bisa berbahasa Inggris.

MENJADI GURU PRIVAT
Pada suatu hari tiba-tiba ada orang asing (Kanada) datang ke kantor saya. Ia ingin bertemu saya. Kebetulan, saya tidak ada di tempat. Dia kemudian meninggalkan nomor telepon, dan berpesan agar saya menghubunginya.

Sore itu saya menghubunginya. Ternyata dia adalah kenalan saya, sewaktu saya melatih bahasa Inggris saya. Pernah suatu hari saya dan Bapak ini (namanya Alan Trentham), bertemu di lapangan golf. Saya mendekatinya dan kita ngobrol. Pembicaraan kita topiknya hanya mengenai kegemaran dan pekerjaan. (Saya ke sini bukan untuk bermain golf, saya hanya senang ngobrol dalam bahasa Inggris, dan dia bersedia saya temani).

Dia mengundang saya untuk datang ke rumahnya. Rumahnya tak jauh dari kediaman saya. Setelah tiba disana tahulah saya bahwa dia sedang membutuhkan guru bahasa Inggris untuk anaknya. “Bapak ini orang Kanada, koq, butuh guru bahasa Inggris?” Pikir saya.

Seperti membaca pikiran saya, akhirnya dia bercerita bahwa istrinya orang Thailand, mereka memiliki seorang anak perempuan berusia 10 tahun, Tjatraphorn Trentham, yang cuma bisa bahasa Thailand, karena selama ini memang mereka hidup terpisah. Dia di Indonesia sedang istri dan anaknya berada di Thailand. Mereka baru saja satu minggu berkumpul kembali di kota ini. Dia berharap saya mau mengajari anaknya agar mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. “Menjadi guru! Wah, hebat sekali!” bisik hati saya.

Setelah negosiasi mengenai waktu dan biayanya, akhirnya kami sepakat untuk mulai pelajaran keesokan harinya, sehabis jam kantor, setiap hari kerja. Dulu, sewaktu masih di kota kelahiran saya, saya biasanya mengajar bahasa Inggris ke teman-teman saya, tanpa di bayar sedikit pun, dan saya merasa senangnya bukan main! Kini saya mengajar cuma berapa jam saja setiap hari, tapi fee-nya jauh lebih besar, bahkan dari gaji yang saya dapatkan di kantor dengan 8-9 jam sehari selama satu bulan. Wow, luar biasa! Tapi kemudian muncul keraguan saya, bagaimana mengajar bahasa Inggris kepada orang yang tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi Inggris? Apa yang harus saya lakukan? Ini pertanyaan yang membuat saya terus-menerus berpikir.

Akhirnya saya mendapat ide. Saya harus meng-exposure sebanyak mungkin kata-kata bahasa Inggris, kepada dia (Tjatraphorn Trentham). Tak peduli bagaimana tulisannya yang penting dia bisa melafazkannya dan mengerti maksudnya. Kita berkeliling, bermain, memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kita untuk dipakai sebagai medium belajar.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, mulai kelihatan hasilnya. Pak Alan dan istrinya, Jureephorn Trentham senang sekali, saya pun senang. Dia sudah berbicara bahasa Inggris dengan bapaknya. Mereka sekeluarga pun semakin suka padaku.

Di kantor aku tak terlalu serius lagi. Aku merasa bosan dengan pekerjaanku mengetik dokumen-dokumen yang bukan kehendak sakral jiwaku. Pekerjaanku jadi tak menentu. Aku bekerja tapi pikiranku membayangkan apa yang akan aku ajarkan ke murid kesayanganku. Komputer dihadapanku menjadi saksi bisu, bahwa aku tak banyak mengerjakan tugasku lagi, tapi aku mengetik bahan-bahan yang akan kuberikan kepada muridku.

Pada saat boss-ku mengecek, aku memencet tombol tertentu di keyboard dan yang tampil adalah tugas-tugas kantor yang sedang aku kerjakan. Pada saat dia berlalu, aku pencet tombol lain dan tampillah materi yang akan aku ajarkan hari itu. Wah, ini sungguh tak baik. Mungkin, boss-ku ini sudah tahu, tapi dia biarkan saja, karena dia tahu aku di bayar sangat murah, dan rasanya tak seimbang dengan gelar sarjana dan skill yang aku miliki. Apalagi anaknya pun menjadi murid privatku. Jam 5.00, aku langsung cabut dengan gembiranya, dan langsung ke rumah teman Kanadaku untuk mengajar anaknya!

Sayangnya setelah beberapa bulan kegiatan mengasyikkan ini berlangsung, mereka memberitahuku, bahwa mereka berencana untuk pulang ke Calgary, sebuah kota kecil (county) di Kanada. Aku sedikit kecewa, tapi itulah kenyataannya. Suka atau tidak, aku harus terima.

Setelah mereka pulang ke negerinya, saya juga mengundurkan diri dari pekerjaan, karena memang saya bertahan di kota kecil itu, hanya karena saya mengajar di keluarga ini. Saya pulang ke kota kelahiran saya. Jadi saya bekerja di perusahaan minyak itu tak lebih dari empat bulan saja. Boss saya menelpon saya agar bekerja lagi, tapi saya menolaknya secara halus. Saya rasa, kita harus berani mengikuti kata hati, follow my heart, karena di sana ada suara Tuhan.

Saya kembali lagi ke teman-teman saya di kursus kecil itu, saya disambut dengan gembira, lalu kami pun bersenda gurau dan belajar bersama lagi. Ah, bahagianya!

MENJADI GURU LAGI
Tak berapa lama kemudian di kota saya, dibuka lembaga pendidikan bahasa Inggris yang berskala nasional, yang berpusat di Jakarta. Lembaga itu memang lagi hebat-hebatnya di Indonesia waktu itu. Setiap guru yang mengajar di situ sungguh teruji kemampuannya. Menjadi guru untuk lembaga ini merupakan suatu prestise dan prestasi bagi siapa pun.

Waktu itu mereka membuka lowongan untuk semua sarjana S1, yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Teman-teman men-support-ku. Ada yang bilang, “You’ve got it in you to be a teacher there, Bro!”

Saya melamar, mengikuti test, dan...diterima. Saya satu-satunya yang berasal dari Fakultas Hukum. Di sinilah pengalaman mengajarku mulai diasah. Di sini pula proses pencarianku pun mulai dipicu. Aku begitu menikmati bekerja di sini. Bagiku ini seperti mimpi yang menjadi nyata.

(Bersambung ke postingan selanjutnya)

*Diambil dari buku The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers-yang hak terbitnya sudah diserahkan kembali Oleh Mizan Publika ke Saya.

Read More......

Foreword

Ir. Eddy Santana Putra, MT
The mayor of Palembang City
Foreword


Praise be to Allah, the Cherisher and the Sustainer of the world, due to the publishing of this book. The book, which was at the first edition given a title, “Visit Musi, Upaya Pemberdayaan Masyarakat Sumsel”, after being improved and revised here and there, then the writer changed the title into, “Bumi Sriwijaya, Antara Marketing, Komitmen dan Etos Kerja.”

Again in this very good chance, let me hope that the book, which is written by Dani Ronnie M, can enlighten, and become our ice-breaker in enhancing and awakening the tourism and other sectors in the capital of South Sumatra Province, especially to the quality of people’s life.

We hope that the presence of this book will increase and arouse the awareness in our hearts toward the need for a solid cooperation, an unconditional love and a vast knowledge so our city can regain its true identity as an old and great city which has once been the center of the big empire in Asia, the Sriwijaya Empire.

Hopefully, this book will be a medium for us to improve our self quality and mindset so as to make our vision as an international, civilized and religious city 2013, can be materialized. And the land of the Kings and Sultans will turn into a “baldatun toyyibatun warrobbun ghofur” region, a prosperous, just and rich city under the protection and blessings of Allah Most Gracious, Most Merciful. Amin.

Have a very pleasant reading!

Palembang, November 2008,
The Mayor of Palembang City



Ir. H. Eddy Santana Putra, MT

Read More......

SDM & Kualitas Bangsa

Menurut Wikipedia Indonesia (ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia), Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Untuk alasan inilah ranah ini sangat penting dibahas, karena berbanding lurus dengan mutu hidup diri pribadi setiap orang, yang secara hakikat memiliki potensi yang siap dimunculkan, untuk kemudian mampu meraih fitrahnya sebagai homo homini socius (makhluk sosial), dan fleksibilitasnya yang menakjubkan dalam beradaptasi dan mentransformasi dirinya kearah yang lebih baik, sehingga menjadi pilar penting dalam mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan menjadi rahmatan, baik bagi diri pribadinya, keluarganya, maupun komunitasnya, dan tentu saja, bangsanya pada lingkup yang lebih luas.

Pada tataran organisasi kepemerintahan baik pemerintah pusat, daerah mau pun kota, sampai ke unit yang terkecilnya, human resources yang berkualitas akan menjadi vehicle dalam memanifestasi keberhasilan dan pencapaian (achievement) di semua sektornya. Ini akan menjadi sebuah kekuatan dalam upaya mewujudkan rencana strategis yang akan dideliver.

Oleh karenanya sebuah kesadaran total (total awareness) akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi (life skill dan technical skill) dalam upaya meningkatkan taraf dan kualitas diri dan kehidupan di segala sendinya – baik dalam sendi ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, keamanan, bahkan intensitas kebahagiaan kita sebagai insan yang berhati nurani, bermartabat, dan berakal budi – harus menjadi semacam keniscayaan.

Yang pada gilirannya, kesadaran total ini akan membentuk sebuah kekuatan kumulatif yang akan membawa sebuah provinsi pada mutu dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik dan membesarkan hati.

Mari kita berdiskusi tentang hal ini pada skala yang lebih besar lagi, lingkup nasional. Mudah-mudahan ‘sekelumit opini sederhana ini’ dapat menjadi bahan kita untuk berkontemplasi dan introspeksi diri. Anda setuju?

Are You Above The Line?
Pada tataran sebuah bangsa, memang masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus kita kerjakan berkaitan dengan kualitas SDM ini, bahkan berdasarkan laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun 2003, Indonesia menduduki rangking 112 dari 175 negara. Di dalam daftar ini negeri kita tercinta ini di bawah Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31), bahkan kita dikalahkan oleh Vietnam (109), negara yang baru saja lepas dari konflik politik dan keamanan.

Ini betul-betul ‘warning’ bagi kita untuk bangkit dan memacu diri agar memiliki competitive advantage (keunggulan bersaing) dalam era globalisasi. Era yang imbasnya mulai merambah dan sudah terasa sampai ke banyak aspek kehidupan keseharian kita, sehingga diharapkan kita mampu berjalan berdampingan dengan bangsa-bangsa lain dalam sebuah kesetaraan, egalitarian, tidak menjadi sekedar followers.

Ah, kita bisa, asal kita benar-benar arif menyikapi duduk persoalan yang menyangkut human capital ini. Berfokus pada solusi, dan mengambil langkah recovery yang tepat, akurat dan tak setengah-tengah, bertanggung jawab terhadap langkah yang diambil, dan yakin bahwa kita adalah penguasa nasib kita. Yes, we are a captain of our own vessels. We are a master of our own destiny!

Inilah, menurut para cendikiawan, characteristic seseorang yang menjalani hidup above the line (hidup di atas rata-rata). Pernah dengar? Orang type ‘above the line’ ini TIDAK mencari-cari alasan (excuses) untuk menutup-nutupi kekurangannya, atau menyalahkan (blame) pihak luar terhadap keterpurukkan yang menimpanya, atau menyangkal (denial) permasalahan yang sedang merundungnya dan pura-pura tidak ada.

Mereka SADAR bahwa excuses, blame dan denial adalah sikap mental seorang pecundang (the loser), orang yang melakoni hidupnya di bawah garis (below the line), dan ujung-ujungnya tak akan pernah sampai kemana-mana, selain menyongsong takdirnya yaitu menjadi beban (tangan di bawah) dan objek penderita (orang suruhan) pada setiap interaksi sosial. Termasuk yang manakah kita? Are we above or below the line?

Kualitas Bangsa dan Minat Baca
Tidak usah jauh-jauh mengurai mutu human resources ini, mari kita batasi dengan minat baca saja dulu. Ini penting, karena tinggi rendahnya kualitas SDM sebuah bangsa dilihat dari tingkat minat bacanya. Sebuah komunitas yang cinta membaca, mutu kehidupan mereka akan jauh lebih baik dibanding komunitas yang tidak suka membaca. Otomatis pada social stratum yang lebih besar, sebuah negara yang rakyatnya suka membaca (reading society), akan lebih berkualitas dibanding negara yang tidak suka membaca.

Ada teman yang berseloroh bahwa perbedaan antara bangsa yang rakyatnya suka membaca, dan bangsa yang tidak suka membaca, tak ubahnya seperti majikan dan pembantunya. Siapa yang menjadi majikan? Dan siapa yang menjadi pembantu? Tentu kita sudah sama-sama tahu.

Ada juga sahabat yang mengumpamakan kedua kutub ini (komunitas yang suka dan yang tidak suka membaca), ibarat penggembala dan dombanya. Sekali lagi pertanyaannya adalah, “Siapa penggembala, dan siapa yang menjadi domba?” Untuk menjawabnya, mari kita telusuri fakta-fakta di bawah ini. Are we ready?

Jepang dan Budaya membaca
Kita tahu, betapa Jepang begitu luar biasa dalam budaya membacanya. Di mana pun mereka berada, di airport, taman, bus, subway, atau di ruang-ruang tunggu ketika sedang beraktivitas, pasti mereka sedang disibukkan dengan kegiatan membacanya. Kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan, tekhnologi dan informasi patut diteladani.

Ini parameter betapa sadarnya mereka tentang pentingnya membaca bagi sebuah bangsa. Tak ayal kita bisa lihat betapa Jepang hebatnya luar biasa saat ini. Karena tingkat intelektualitas mereka lebih unggul dan merata. Pemerataan SDM yang berkualitas ini menyebabkan negeri mereka, tidak hanya independent, tapi juga memiliki etos dan kultur kerja yang luar biasa.

Mereka tidak banyak menggantungkan kehidupan mereka ke bangsa-bangsa lain. Justru banyak bangsa-bangsa lain di dunia yang meminta mereka untuk menjadi “penggembala”, hampir di segala aspek kehidupan, dari infrastruktur, kendaraan, sampai produk-produk seperti komputer, game, kosmetik, telepon seluler, bahkan komik untuk anak-anak.

Kita dan banyak negara-negara lain di Asia dan Afrika, benar-benar ikhlas menjadi ‘domba’ yang di giring ke sana kemari – dengan produk-produk mereka yang seperti ‘rumput hijau yang lezat’ – bukan hanya oleh Jepang, tapi juga oleh banyak bangsa-bangsa maju di Eropa dan Amerika. Ah, bangkitlah negeriku! Bangkitlah persadaku! Bangkitlah anak-anak bangsaku! … ♫♪Indonesia Raya!.....♫♪♫ Merdeka!! Merdeka!!...♪♫♫Tanahku, negeriku yang kucinta!!!!...♪♫

Persada ini, provinsi nan permai ini, dan Palembang khususnya, bisa merefleksi Jepang atau negara-negara lain yang lebih maju, dalam kecintaan membaca, kalau memang kita ingin berdiri berjajar dengan mereka dan mau go international. Karena memang hidup yang sebentar ini, tak lain hakikatnya adalah proses belajar tanpa henti. Inilah core dari hidup. Never-ending Improvement (perbaikan tanpa henti), agar eksistensi kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Inilah fitrah kita. Fitrah manusia. Hakikat keberadaan kita di planet ini.

Menurut laporan terbaru dari beberapa organisasi dunia bahwa Indonesia (negeri yang berpenduduk terbesar ke-4 di dunia, setelah China, India, dan AS) menempati urutan ke 39 dalam hal minat bacanya di antara 41 negara yang diteliti. Berarti cuma ada 2 negara berada di bawah kita. Hanya 2 negara saja.

Ini fakta yang harusnya membuat kita terlecut untuk meningkatkan reading habit kita. Karena memang dari membacalah, kita bisa membawa negeri ini, terutama bumi ‘para raja dan sultan’ ini, ke masa depan yang lebih baik. Kekehidupan yang lebih kaya dan berkualitas.

Saya setuju dengan kata-kata Mas Tantowi Yahya, duta baca Indonesia, yang juga putera daerah Palembang. Dia berpesan begini, “Orang yang tidak pernah membaca adalah orang yang tidak banyak tahu, orang yang tidak banyak tahu sangat dekat dengan kebodohan, dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.” Sejalan dengan ini ada juga peribahasa China yang kira-kira artinya, “Dengan membaca orang miskin menjadi kaya, dengan membaca pulalah orang kaya menjadi anggun.” Bagaimana? Anda juga setuju?

Jadi baca saja semua hal yang baik dan bermanfaat, dan niscaya hidup dan kualitas kehidupan kita pun akan mulai bermetamorfosa ke arah yang jauh lebih baik, jauh lebih berguna dan berfaedah, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama, menjadi rahmat bagi semesta, rahmatan lil alamin. Bukankah demikian?

Read More......

Untaian Hati


Aku seperti musafir yang berkelana dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dari satu rasa ke rasa yang lain. Kuevaluasi setiap rasa yang aku alami. Kucarikan pesan yang tersirat dari setiap kekecewaan yang menghampiri hati. Tak jarang aku berhenti melangkah untuk berpikir dan berkontemplasi.

Setiap langkahku kucermati, kuanalisa dan kupelajari. Aku simak setiap hati yang menemuiku. Kupenuhi setiap hasrat ingin tahu. Kubimbing setiap kebingungan. Kuingatkan setiap kealfaan dengan kejernihan niat hati.

Aku terus mendengarkan. Aku terus bertutur. Aku terus mengamati. Aku terus belajar dari apa pun dan siapa pun yang datang dan menghampiriku. Setiap yang datang mengajarkanku sesuatu, mewarnai hatiku dan membuatku tepesona denga keunikan mereka.

Mereka datang padaku untuk bertanya, namun pada akhirnya mereka menjawab justru pertanyaanku. Mereka tersenyum karena mereka belajar sesuatu, padahal mereka justru mengajariku sesuatu. Mereka bahagia karena akhirnya ada yang mendengarkan jerit resah mereka, padahal justru mereka yang menyimak galauku. Mereka berterimakasih, karena mereka merasa dicintai, padahal justru aku menikmati rasa cinta itu.

Kemudian mereka berlalu dengan hati yang teduh. Aku terhenyak menikmati keteduhan itu, lalu datang rasa rindu memeluk erat hatiku. Rindu pada setiap mereka yang telah berlalu. Kerinduan yang tak pernah mati, karena rasa itu terus digantikan oleh kerinduan yang lain. Terus, terus, terus..

Mereka sungguh tak tahu, pagi ini air mata hangat, kupersembahkan untuk mereka semua, di mana pun mereka berada! Terimakasih untuk percaya padaku! Terimakasih untuk telah menjadikanku seorang guru (padahal sungguh, kalianlah GURUKU!)

Read More......

Masa Lalu

Apa pun yang kita tulis, pasti bakal ada yang membacanya! Oleh karenanya jangan pernah merasa sia-sia menuliskan apa pun yang ada di hati, jiwa dan pikiran kita. Bukankah menulis menjadi jembatan kita untuk kembali ke masa lalu? Seperti saat aku menulis kata-kata ini, moment ini tak akan pernah berulang lagi dalam perjalanan hidupku. Tulisan ini menjadi saksi keberadaanku, bahwa aku pernah ada di saat ini. Aku pernah hidup! Aku pernah exist!

Imam Al-Gazali pernah berkata kepada murid-muridnya, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Lalu muridnya menjawab dengan beragam pendapat, “Negeri Cina!” “Bulan!”, “Bintang!”, “Pasti, matahari!”. Lalu sang guru berkata, “Semuanya benar,” lalu dengan lembut dilanjutkannya, “Tapi yang lebih benar adalah masa lalumu!”

Mengapa masalalu? Tentu saja jawabnya karena siapa pun kita, berapa pun banyaknya duit di tabungan kita, setinggi apa pun jabatan kita, kita tak akan bisa kembali ke masa lalu kita. Tidak akan pernah bisa!

Oleh karena, mari kita menulis, agar masa lalu, yang menjadi bagian dari tiga dimensi waktu yang kita miliki (masa lalu, masa kini dan masa depan), tak tersia-siakan! Ya, tak sia-sia! Tuliskan saja apa pun, sepanjang itu baik. Anda setuju! Tidak??? Ya, tak apa-apa, karena Anda punya hak untuk memiliki pendapat sendiri! Saya harus menghormatinya. Salam!!

Read More......

Aku terpana!(2)

Aku baru membaca sebuah buku. Bagus sekali. Si penulis menyelesaikan buku hebat yang jumlah hal lebih 500 itu hanya dalam 3 minggu. Tiba-tiba aku merasa, Tuhan, hebatnya anak ini? Ku akui aku terlambat membacanya, karena memang aku tak begitu suka buku-buku fiksi, hingga aku ketinggalan informasi. Aku belum selesai membacanya, tapi aku sudah bisa menyimpulkan, "Aku belum ada apa-apanya!" Sekali lagi aku terpana! (Buku apa itu? Any idea?)

Read More......

Aku Terpana!

Aku terkagum-kagum ketika ada remaja yang menyukai bukuku "Menyibak Tabir Hidup" sebagai satu-satunya buku yang dia favoritkan di friendsternya. Koq bisa ya? Anak remaja (17 tahun) suka buku itu? Sungguh aku tersanjung. Thanks, ya, Yucha yang lutcu! Thanks udah membaca suara hatiku... Sukses selalu untukmu!

Read More......

Pembelajaran Dari Dasyatnya Musim Dingin di Dataran Tiongkok

Bersama siswaku menikmati Shanghai
Pembelajaran itu terjadi tatkala kami (saya dan siswaku), melakukan perjalanan tour ke Shanghai & Hangzhoe di China pada Pada 6 – 11 Februari 2008 yang baru lalu. Sungguh banyak poin-poin penting secara pribadi kupetik dari perjalanan ini. Bagaimana kita menaklukkan diri sendiri untuk berangkulan dengan sebuah keperkasaan alam. Bagaimana kita menikmati segala yg diberikan oleh Tuhan dengan rasa syukur yang berlimpah. Bagaimana kita bersahabat dengan alam yang tak ramah!

Mungkin bagi orang tertentu suhu -7oC itu tidak terlalu menyiksa, tapi tentu saja tidak banyak, bahkan penduduk asli di sana pun, ciut berhadapan dengan cuaca dingin seperti ini, terlihat mereka berhenti di pinggir2 jalan, menggigil kendati dengan baju tebal yang berlapis-lapis membalut tubuh mereka.

Pembelajaran itu terjadi di hari kedua perjalanan kami. Kala itu, kami melihat Shanghai (kota terbesar di dataran Tiongkok) dan Hangzhou (yang merupakan kota terindah di sini). Konon kalau ada surga di langit, maka ada Hangzhou di Bumi.


Untuk mempersingkat cerita, saya langsung saja memaparkan apa yang terjadi di hari kedua itu. Sebuah momen yang tak ternilai bagiku, dan mudah2an bagi Anda juga. Setelah kelelahan perjalanan menuju Shanghai dari Palembang dan transit di Singapore di hari pertama. Berangkat dari Palembang pada tgl 6, jam 2.00, transit di Singapore, beberapa jam, dan terbang ke Shanghai melalui Changi airport, jam 00.55 waktu setempat dan sampai di Shanghai jam 05.55 keesokan harinya.


Sesampai di Shanghai, makan pagi di lokal restoran dan langsung melanjutkan perjalanan ke Hangzhou. Di Hangzhou, kami ke Pagoda Leifeng, Kuburan Yue Fei (seorang pahlawan China), Taman Hua Gang, West Lake dan menyaksikan Museum Teh Nasional, atau yang popular disebut Longjin Tea.


Suhu saat itu sangat dingin, mencapai -2oC. Setelah acara city tour itu, kami balik ke Hotel Ji Jiang, Hongzhou. Dan rencananya mau beristirahat saja, sambil makan malam di tempat yang hangat, karena perjalanan memang sudah sangat melelahkan (salah satu dari kami masuk angin dan muntah2, karena lelah dan cuaca yang dingin).

Saya naik ke lantai 16 untuk membawa barang-barang saya ke kamar (1612) dan juga untuk beristirahat dan mandi, karena memang dari hari pertama sampai saat itu saya belum sempat mandi, apa lagi merasakan betapa empuknya kasur hotel yang indah ini. Setelah bersih2 tubuh selesai, saya dan satu teman, turun ke bawah untuk makan malam sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya.


Waktu itu saya hanya mengenakan baju kemeja lengan pendek biasa, ditutup oleh jaket kain biasa (untuk daerah tropis), maklum rencana makannya di hotel saja (paling tidak, itu yang saya tahu). Dan seperti biasa hotel cukup hangat karena ada heaternya yang berfungsi dengan baik.

Sesampai di lantai bawah, ternyata teman-teman sudah menunggu aku dan temanku selama 20 menit di bis yang siap membawa kami menuju lokasi pertunjukkan opera kolosal, yang diselenggarakan dalam rangka merayakan The Spring Festival.

Aku sempat terpana dan sedikit shock. Teman2 dan pak Sopir sudah siap-siap berangkat. Tak ada waktu lagi untuk mengganti pakaian yang kukenakan. Dan memang aku tidak mau menjadi perusak acara (membiarkan teman-teman menunggu lagi, karena aku hendak mengganti pakaianku) Juga karena ada perasaan segan, terhadap tour leader, yang sudah bersusah payah mengajakku dan membiayaiku kesana. Ya, aku tak ingin mengecewakannya, bisik hatiku.


Akhirnya berangkatlah kami menuju tempat diselenggarakannya acara itu. Sesampainya di sana, kami semua keluar dari bus. Aku pun, memaksakan diri ikut keluar, cuacanya sangat dingin, bahkan jauh lebih dingin dari waktu sorenya. Suhu sudah mencapai kisaran -7oC.

Pertama-tama aku merasa tak sanggup, namun karena rasa tak ingin mengecewakan kelompok, lebih besar dari pada rasa takutku (terhadap cuaca dingin), akhirnya aku terus melangkahkan kaki, menuju tempat pertunjukkan. Ternyata tempat operanya pun tetap sama suhunya. Seven degrees centigrade below zero!!!

Aku duduk tepat di belakang tour leader. Aku berusaha untuk mengatasi rasa dingin yang luarbiasa. Yang seperti menusuk-nusuk pori2 dan sampai ke tulangku. Tiba2 kakiku mulai terasa membeku. Aku terus berpikir dan mencari cara bagaimana menang dan keluar hidup-hidup dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini.


Aku terbiasa dengan “kehangatan” dalam arti yang sebenarnya dalam kehidupan keseharianku. Bahkan aku tak terbiasa tidur dengan AC. Walau panas sekali pun, kalau tidur aku selalu menggunakan selimut, kalau tidak desiran angin (yang meski pun angin hangat) akan mengganggu kenyamananku.


Sekarang aku harus menghadapi suhu yang tidak hanya dingin, namun mampu membekukan air yang ada di sekelilingku. Aku terus menenangkan diri, dan kupaksa pikiranku untuk mencari cara mengatasi alam yang menyambutku dengan ketidakramahannya.


Tiba2 aku ingat, ada sebuah buku yang pernah kubaca, yang di salah satu kalimatnya di katakan, “Kita bisa membuat surga atau neraka di dalam pikiran kita. Kita bisa merasa sunyi dikeramaian, dan bisa juga merasa ramai dikesunyian. Semuanya bermula dari pikiran kita!” Nah, inilah saatnya aku membuktikannya, bisik hatiku.


Bagaimana caranya?? Kemudian aku bertanya sendiri. Yah, aku harus menyiagakan otakku. Jantungku harus terus menyuplai oksigen yang cukup ke pusat pikirku, agar otakku mampu secara maksimal mengendalikan semua organ-organ di sekujur tubuhku dengan sempurna.


Aku harus duduk dengan tegap agar tulang belakangku mampu secara lebih efektif bekerjasama dengan batang otak, limbic, dan neokorteksku, sehingga rasa nyaman akan menyelimuti perasaanku. Lalu aku harus meyakinkan diriku dengan berkata ke diri sendiri, bahwa rasa dingin ini sangat nikmat. Bahkan kenikmatan yang tak bisa aku dapati di tempat di mana aku dilahirkan.


Aku terus membatin. Aku terus mengingatkan diriku, "Wow, ini nikmat sekali, dingin ini membelai dan mengelus2 diriku dengan rasa sayangnya yang luar biasa!!! Ohhh… Thanks. It’s so wonderful!!” Aku terus, membatinkan ini ke diriku. Terus, terus dan terus..


Beberapa menit kemudian tiba2, aku benar2 merasakan kenyamanan itu!!! Kenyamanan yang tak dirasakan oleh teman2ku dengan baju musim dingin mereka yang tebal dan mahal!! Aku lihat mereka menggigil. Sambil sesekali menggoyang-goyangkan badan mereka untuk menghalau rasa dingin dari tubuh mereka. Terlihat sekali betapa cuaca menganggu mereka.

Setelah beberapa saat, usailah opera kolosal yang menakjubkan dengan kemasan yang luar biasa modern itu, kami semua keluar dari arena pertunjukkan. Teman2, berlari2 kedinginan, di sana-sini terlihat gundukan air yang mebeku menghalangi jalan. Saya lihat penduduk asli pun berdiri dipinggir jalan dan gemetar. Terlihat, wajah2 pucat karena cuaca dingin yang sangat luar biasa terpancar dari setiap wajah orang-orang yang kutemui.


Aku terheran-heran melihat keadaan ini. Kenapa aku merasa biasa saja, bahkan terlintas getar-getar nikmat yang aneh yang menyelimuti diri dan tubuhku, meski dengan pakaian ala kadarnya. Aku tak tahu kenikmatan jenis apa itu. Sebuah jenis rasa nikmat yang tak kukenal sebelumnya.


Aku dekati teman2ku yang tengah kedinginan menunggu bis kami yang entah di mana. Aku sapa mereka. Aku kuatkan hati mereka. Karena mereka seperti tak tahan menanggung rasa dingin itu. Aku peluk mereka yang gemetar. Aku alirkan suhu tubuhku yang terasa hangat, meski dengan baju tipis yang aku pakai.


Orang-orang
China
, melihatku dengan perasaan aneh. Aku pun bahkan merasa aneh terhadap diriku sendiri. Tapi aku sadar, itu semua karena aku memegang tali komando terhadap pikiran dan hatiku. Aku tidak menyangkal apa lagi menolak rasa dingin itu, alih-alih aku menganggapnya sebagai teman baik yang membalur tubuhku dengan cinta dan kelembutannya.

Aku merasakan sebuah “kehangatan” dari keramahtamahan alam menyambut keberadaanku ditengah2nya. Aku merasa alam di luar diriku, dan alam di dalam diriku sedang mengalunkan sebuah orkestrasi yang harmony. Aku terpana dengan senandung yang dilantunkannya. God!! It’s great!! Lalu, mobil kami pun tiba!!

Sampai di hotel, teman-temanku merasakan keanehan itu. Mungkin tak sedikit di antara mereka berpikir aku memiliki ilmu kanuragan! Ya, mungkin saja! Padahal, sungguh, itu tak lebih karena pertolongan dari pengetahuan ilmiah melalui buku2 yang aku baca. Tak lebih!! Ya, tak lebih!!
Tuhan terimakasih, kau ciptakan aku sebagai manusia, bukan makhlukmu yang lain. Karena manusia, sungguh menakjubkan, tak heran bila Engkau perintahkan makhluk2mu termasuk malaikat untuk merunduk dan memberi hormat, tatkala Adam, manusia pertama Engkau ciptakan!!

Ya, kita ini, luar biasa, kawan!! Sudah banyak yang membuktikannya! Ada komentar??

Read More......

Kenapa aku bisa membenci seseorang yang telah menikahi-ku? Ada yg bisa bantu?

Aku telah hidup bersamanya hampir 15 th tetapi memang ada banyak perbedaan diantara kami, tapi aku coba bertahan hanya ada anak yg msh membutuhkan aku, perbedaan2 diantaranya; aku ini orgnya tdk terlalu banyak bicara, tapi dia menuntut aku aktif, dan sering membanding2kan, n kalau lagi marah kata2 kotor bisa keluar dan kata2 yg keluar sering menyakitkan hati, jadi keadaan di rmh seperti orang asing saja, tanpa pernah bercanda, bercerita apa saja, mengajak keluar jalan n alasan yg di bilang sibuk kerja, aku tidak tahu mesti bagaimana?

(Ini sebuah pertanyaan dari seorang Ibu, tanpa edit sedikit pun. Sudah saya jawab seperti di bawah ini, tapi seandainya Anda punya pendapat lain, do not hesitate to give your comments here. Thanks)

Tanggapanku sbb:

Aku prihatin dgn keadaan yang Ibu alami. Tapi memang Ibu harus mikirin anak dalam menentukan langkah yang berujung perpisahan. Yang pasti, itu adalah jalan terakhir, yang kalo bisa jangan dipilih.

Ibu, ada 1 kata yang penting yang mesti selalu diingat. Apa itu? Itu adalah CHANGE (berubah). Apa yang harus dirubah? Yang harus dirubah bukanlah sifat, sikap dan tabiat suami Ibu, namun yang harus dirubah adalah cara pandang Ibu terhadap diri sendiri dan orang lain diluar diri Ibu (termasuk suami). Karena kalo Ibu mau merubah suami, hal itu amat sulit, bahkan hampir bisa dikatakan IMPOSSIBLE!

Coba ubah mindset Ibu terhadap setiap hal yang terjadi. Apa pun yang terjadi diluar diri kita tak akan pernah melukai hati kita, sepanjang kita tak mengijinkannya! Karena sebenarnya kita adalah raja dari perasaan kita. Kita ada penguasa dari hati kita.

Dengan kesadaran total, tegarkan hati Ibu, dan besarkan jiwa Ibu menghadapi setiap adversitas (kesulitan) hidup, karena itu kesempatan emas bagi Ibu untuk melatih kecerdasan Ibu dalam bergumul dengan lara kehidupan.

Pada saat Ibu mampu tersenyum ikhlas menghadapinya, maka adversitas yg sedang Ibu hadapi akan bermetamorphosa menjadi sebuah berkah. Menjadi blessings in disguise!

Bu, jujur saja, ini saya alami sendiri, saya selalu bersyukur setiap kali saya mendapat cobaan/kesulitan hidup, saya monitor suasana hati saya yang terasa gundah gulana, saya peluk rasa itu, saya ciumi, saya bercinta dengan perasaan yg tak nyaman itu... lalu, perasaan itu berubah menjadi nikmat, yang tak kalah indahnya dengan keberuntungan hidup yang pada kesempatan lain datang dalam kehidupanku!!

Bu, bersahabatlah dengan setiap kesulitan! Berjabat eratlah, maka kesulitan itu tak menyisakan luka di hati sedikit pun, bahkan ia menjadi obat yang sangat ampuh!! (Bu, ini rahasia kita aja, ya.. jangan bilang2 orang. Aku sering melakukan dan membuktikannya!)

Bu, mari menjadi PENGUASA atas perasaan kita!!
Ada kalimat yang Indah, yang mari kita renungankan bersama, BU.
"God, please grant me the serenity to accept the things I can't change, the courage to change the things I can. And the wisdom to know the difference."

Semoga ini bermanfaat! Salam Hangatku dari Bumi Sriwijaya!


Read More......

Selamat Jalan, Pak!


"Telah gugur pahlawanku..
Tunai sudah janji bakti.."


Selamat Jalan Pak Harto,
Selamat Jalan Pahlawan di banyak hati rakyat!!!
Selamat Jalan Bapak Pembangunan,
Selamat Jalan salah satu putera terbaik bangsa…

Kami hantar kepergianmu dengan airmata duka.
Kami hantar kepergianmu dengan tangisan lirih…
Kami hantar kepergianmu dengan jiwa nan lara…
Kami hantar kepergianmu dengan hati perih yang tak terperi..

Tangisan rakyat membahana di sini, Pak!
Melengking kendati tak terdengar lagi olehmu…
Lengkingannya keras bak halilintar, Pak.
Walau tak sampai ke pusaramu!

Kami berkabung di sini, Pak!
Kami berbelasungkawa untukmu,
Kami menangis sejadi-jadinya, Pak!
Kami telah kehilanganmu.

Terimaksih, Pak…
Terimakasih…
Terimakasih..
Terimakasih banyak...

Read More......

Kapan pertama kali Anda merasa hidup ini benar-benar indah?

Kemampuan Anda kembali ke saat itu merupakan awal yg baik untuk memulai sebuah hari yang penuh suka cita. Let's share, my friends!

Read More......

Tahun 2008, Selamat Datang!

Tulisan pertamaku di tahun yang masih 'belia' ini, di tahun yang konon akan banyak membawa keberkahan dan keberuntungan ini (menurut ramalan banyak orang 'pinter' dan lunar calendar). Meski pun diprediksi demikian, tentu saja, setiap langkah kita di tahun ini harus (seperti lazimnya) dipikirkan secara arif, agar tak lewat dan tersia-sia begitu saja. Perbanyak membaca buku-buku yang bermanfaat. Perbanyak mencermati setiap peristiwa yang terjadi agar ada proses pembelajaran di dalamnya. Perbanyak mendengar dan melihat hal-hal yang membesarkan hati. Perbanyak bertutur dan berbuat hal-hal yang membawa kesejukkan untuk diri dan sesama kita.

Perbaiki semua hal yang tak semestinya. Miliki sikap mental positif terhadap segala kesalahan, kegagalan dan ketidakberuntungan, karena banyak peristiwa dalam hidup ini yang memang terbungkus dan bertopeng. Ada kemalangan yang membukus rapat-rapat sebuah berkah, sehingga tatkala kita tak memiliki cukup pencerahan (enlightenment), rahmat yang amat luarbiasa itu akan berlalu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Janganlah ini sampai terjadi!!

Atau on the other hand, ada keberuntungan, kemudahan dan kenikmatan hidup yang justru mengandung petaka yang dasyat. Apabila kita tak arif menyikapinya, ia akan menjadi jurang dalam yang menganga, yang siap mengubur kita alive!! Kebersahajaan dan rasa syukur kita untukNya Sang Mahapemberi, menjadi rem jiwa kita untuk tidak terjebak. Mari merenungkannya! Mari!!

Mengapa aku menekankan untuk banyak lakukan hal-hal di atas? (Paling tidak, nasehat utk diriku sendiri yang acap lupa ini) Jawabnya karena mindset kita, ditentukan oleh apa yang kita baca, yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita ucapkan dan yang kita lakukan. Lalu ini akan membawa kita kepada apa yang banyak orang sebut sebagai keberuntungan! Good luck, my friends!!!

Read More......

Yes, Happy New Year, My Friend!!

Happy New Year!! Mudah2an pergantian tahun membuat kita kian arif!!

Read More......

Pagi ini, aku tak tahu mau menulis apa. Tapi aku ingin menulis, apa pun itu! Terlepas penting atau tidaknya, bermakna atau justru sekedar suara hati, karena menulis justru menjadi sebuah jembatan bagiku yang menghubungkan aku dengan 'saat ini'. Sehingga saat ini menjadi benar-benar termaknai dan tak hilang begitu saja.

Ada banyak hal yang mesti dicermati dalam hidup ini. Karena tak semua hal sesuai dengan keinginan kita, kemampuan beradaptasi dengan kenyataan kadang menjadi aset penting untuk survive dan sukses!

Belajar menerima segala sesuatu dengan senyum yang ikhlas ternyata senjata yang luar biasa dalam menyiasati hidup, dan ini akan memformat sebuah kekuatan yang tak tertandingi. Tiba2 aku ingat kata2 bijak dari Richard Needham, seorang penulis Inggris termasyur, yang berbunyi, “Strong people make as many mistakes as weak people. Difference is that strong people admit their mistakes, laugh at them, and learn from them. That is how they become strong.”

What do you think, my friend?

Read More......

Apa ya?

Kadang kalo aku baca lagi, blogku ini, aku mikir, wah, ini terlalu serius, sampai-sampai aku agak males nulisnya, apa lagi yang baca ya, hahaha... pasti tambah males. Ada yang berkata, apa yang kita rasakan pada saat menulis, itu akan dirasakan juga oleh si pembaca. Tatkala kita sedih atau disaat kita sedang berbunga-bunga, itu bisa terbaca kendati tak tersuratkan, seperti ada gelombang elektromagnetik yang tak kasat mata yang terpancar dari kata-kata kita dan ditangkap oleh sel-sel saraf siapa pun yg membacanya. Entahlah!

Makanya setiap aku menulis, aku upayakan suasana hatiku lagi nyaman, agar pembaca juga merasakannya. Tapi tentu saja tidak selamanya kita berada di suasana seperti ini, bukan? Bukankah hidup ini terdiri dari beragam rasa? Kadang sedih, kadang bersemangat, tak jarang takut, acap gentar, dan ada pula was-wasnya. Tapi itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih asyik, lebih nikmat, dan lebih membuat kita bersemangat. Bukankah demikian?

Oops, nah khan kata-kataku serius lagi, aku gak ngerti mengapa setiap aku menulis, pasti terkesan berat, sok hebat, sok ngasih petuah, sok arif dan kadang-kadang seperti menasehati, itu bukan hanya terjadi saat ini saja. Itu sudah terjadi sejak aku kecil lho, sejak di kelas 6 SD.

Diaryku selalu saja berbicara tentang hidup, kecamuk rasa hati, dan solusi yang kutawarkan untuk diri sendiri (maklum, aku jauh dari ortu). Teman-temanku selalu bilang, wah, topik percakapanmu berat banget, Dan! Cerita yang lain aja!

Aku sungguh gak mengerti, koq bagiku, gurih, asyik dan perlu, tapi sebaliknya bagi kebanyakan teman-temanku, itu materi yang berat, bikin pusing dan gak enak dibahas. Bagiku bermanfaat, namun untuk orang lain it's just wasting time! Apa ya penyebabnya? Apa karena aku suka merenung ya? Ah, bingung juga!

Udah itu aku cepat sekali lupanya? Aku suka baca, tapi kadang aku lupa dengan apa yang aku baca. Jadi pada saat aku baca ulang sebuah buku, sepertinya itu baru pertama kali kubaca! Wah, aneh ya? Aneh, gak? Apa ada sel saraf yg putus ya di pusat pikirku (brain)? Ada ide? Entahlah? Tapi setelah aku renungkan lebih dalam, ini kudu aku syukuri. Mengapa? Karena konsekwensinya, aku selalu bersemangat membaca setiap buku-buku yang kukoleksi. Yang gilanya lagi, Anda mau tahu?? Aku lupa dengan buku-buku yang aku tulis sendiri. Walhasil, setiap aku baca tulisanku sendiri, aku juga merasa itu baru aku ketahui, hah!!?

Dan ini energi yang hebat bagiku untuk tak bosan2nya mengedit naskah buku yang sedang aku tulis, sampai2 aku gak perlu jasa editor lagi, karena aku selalu mengedit karyaku dengan semangat 45 (emang ada semangat 45?) terminologi itu aku dapat dari mana ya? Nah, khan aku lupa lagi??? Aduh.. ini benar-benar blessings in disguise bagiku... lupa, lupa dan lupa... (apa perlu minum susu yg mengandung IgG, ya?)

Kadang yang anehnya lagi, pada saat aku mengajar, selalu saja ada jawaban terhadap setiap pertanyaan yang diajukan para pembelajarku, selalu saja! Aku tak tahu, entah itu keluar dari mana? Akibatnya murid2ku merasa aku pinter bener... bahkan mereka anggap aku jenius, (maaf agak narsis, boleh khan?), padahal, aku juga gak tahu mengapa aku tahu... like this morning, one of my students asked me, "Sir, what do you call "petinggi" in English?" Then what do you think I was doing at that time? I just smiled and walked to the whiteboard slowly and wrote, "d-i-g-n-i-t-a-r-y".

Tahu gak, friend? Waktu dia tanya itu, aku belum tahu persis apa jawabannya, tapi aku tersenyum saja, aku berjalan pelan dengan keyakinan bahwa sesampai di papan tulis pasti jawabannya akan muncul secara otomatis... dan ternyata memang muncul... sesampai di rumah dengan perasaan ingin tahu, apa benar ya jawabanku itu, aku bolak-balik kamusku untuk mencari tahu, dan ternyata memang benar! Lalu aku bertanya dalam hati, kapan aku belajar ini, ya? Kapan? Kapan? Entahlah?

Ini seringkali terjadi... menurut Howard Gardner paling sedikit ada 9 jenis kecerdasan manusia, bahkan 11 kalau ditambah kecerdasan adversitas, emotional, spiritual. Terserahlah mau berapa jumlahnya, yang penting setiap orang pasti ada beberapa kecerdasan yang paling menonjol dalam dirinya. Aku agak bagus di kecerdasan linguistic/verbal, intrapersonal/intuitif (merenungi diri dan hidup), dan (mungkin) cerdas secara emosional, (ini hasil evaluasi dari menjawab pertanyaan dari test kecerdasan)

Tapi aku kurang cerdas dalam hal:
1. musikal-ritmik
Itulah mengapa aku selalu terpesona dengan teman2 yang bisa bernyanyi, sampai kadang2 - hush, jangan bilang2 ya - air liurku keluar tanpa terasa, hahaha... dan aku paling senang dengan si Andy-Riff, khususnya waktu dia nyanyi di ultah ke-70 Titik Puspa (nonton gak?). Melihatnya waktu itu membuat aku begitu merinding (dan tentu saja melahirkan ide pribadi yang sulit kujabarkan di sini, yang pasti aku menyimpulkannya dalam 3 kata the power of one)
Sekarang pun di TV, Slank lagi nyanyi, yg memubuat hatiku berdetak lebih kencang..
"terlalu manis untuk dilupakan...
kenangan yang indah bersamamu...
tinggalah mimpi...."

Ah, hebatnya anak-anak bangsa ini!


2. visual-spasial,
makanya kalo ngajak aku jalan-jalan jangan ditinggal, pasti pake acara nyasar. Ini sering kali terjadi apalagi kalau aku berjalan sendirian. Makanya kalo aku lagi melakukan perjalanan jauh (pembaca buku ku pasti tahu hobbyku) aku selalu bawa peta.

3. kinestetik-fisik,
kecerdasan yang dimiliki oleh para penari dan pesenam dll, makanya aku gak pintar dance apa lagi goyang inul, wah, jangan ngajak2 ya untuk menghadiri pesta atau apa pun yang ada acara beginiannya, ampuuun, boss.

Inilah kekuranganku, disamping bejibun kekurangan2ku yang lain, Tapi yang pasti aku bersyukur, aku terima ini dan aku fokus saja pada segala anugerah yang diberikan Tuhan sekecil apa pun itu. Fokus saja pada rahmat (bukan bpk yang jual gado-gado itu lho!), dan niscaya berkah akan melumuri hidup kita!

Eh, ngomong-ngomong, aku sedang menulis apa ya? Koq, jadi sampai membahas ini. Padahal tadi waktu aku menulis judul, saking bingungnya, kutulis, "Apa ya?" Aduuh, alangkah bermisterinya hidup ini, apa yang terjadi kadang tak bisa diprediksi.... Ada saran?

Read More......

Tyas....

Kalau Anda membaca subtitle dari blog saya ini, Anda pasti agak terheran-heran. Di sana saya menulis, “Kalau seandainya blog ini tak kuupdate lagi, itu berarti blog ini sudah menjadi warisanku pada dunia yang fana ini.” Mau tahu mengapa aku menulis seperti itu? Baik, begini ceritanya.

Setahun yang lalu, ketika buku ketigaku akan diterbitkan, aku mengalami sebuah kecelakaan yang luar biasa fatal, sehingga hampir merengut jiwaku. Sebenarnya, waktu itu aku sudah mencapai tahap “tenang” yang begitu nyaman. Aku tak tahu apa-apa lagi, yang aku rasakan hanyalah kedamaian dan kesejukan melumuri diri dan bathinku. (kisah ini akan kulanjutnya pada postinganku selanjutnya. Ini benar-benar pengalaman luar biasa yang harus “kubayar” dengan sangat-sangat mahal. Sekali lagi sangat mahal!)


Apa keterkaitan kalimat di subtitle tersebut dengan dunia maya (cyber world) ini? Baik, perkenankan aku memaparkannya. Dulu beberapa waktu yang lalu, ketika internet tak terlalu memikatku. Ketika tehnologi komunikasi ini tak membuat hatiku bergeming sedikitpun, aku menyempatkan diri menjajal seberapa jauh google search engine familiar dengan namaku. Kutulis, “Dani Ronnie M” di sana, tak banyak informasi tentang diriku, hanya beberapa tulisan yang ditulis oleh penerbit bukuku, Elex Media Komputindo Jakarta.

Lalu aku mencari namaku di Yahoo!! Dan ada sebuah friendster, yang menulis namaku. Friendster ini milik seorang gadis yang bernama Tyas Swandani. Dia mencantumkan buku pertamaku, sebagai buku no 1 yang difavoritkannya. Ah, betapa bahagia dan gembiranya aku. Kegembiraan yang bercampur rasa penasaran (maklum, buku pertama). Aku juga bersyukur mengetahui bahwa ada yang menanggapinya secara positif. Rasa itu sungguh indah, dan tak bisa tergantikan dengan apa pun. (Itulah kebahagiaan seorang penulis pemula)

Kemudian, kucoba berinteraksi dengannya. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi, sayangnya, tak ada tanggapan sedikitpun. Setiap ada kesempatan, ku akses friendsternya itu. Tak ada perubahan sama sekali. Persis ketika pertama kali kubuka. Tak ada perkembangan baru, bahkan kusempatkan untuk mengirimnya email, namun tak juga ada jawaban. Aku berpikir, “Kemanakah sigadis ini? Jangan-jangan dia sudah mencapai tahap “tenang” yang abadi seperti yang sempat kurasakan setahun yang lalu?” Yah, bisa saja! Tak ada yang tak mungkin. Semuanya bisa saja terjadi.

Kalau memang dia sudah tiada dan sudah bersentuhan dengan “keabadian”, seperti yang hampir kualami, perkenankan aku menuturkan, “Selamat jalan teman, terimakasih telah memberi ruh pada kata-kata yang telah aku rangkaikan di buku itu! Terimakasih sudah membaca pikiranku! Terimakasih atas apresiasimu! Terimakasih sudah menjadi pembaca buah pikiranku! Terimakasih untuk waktumu bercengkerama dengan kata-kata sederhanaku! Terimakasih! Best wishes!!

Read More......

Menyibak Tabir Hidup (Seni Menikmati Hidup & Memberdayakan Diri)

Dalam buku ini, penulis ingin berbagi pengalaman. Betapa banyak tabir kehidupan yang perlu disibakkan untuk menuju sukses yang sebenarnya. Kita harus yakin bahwa manusia memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya, yang merupakan fungsi dari korteks otaknya yang menakjubkan (Glenn Doman)

Impian akan terwujud dengan selalu mengikuti kebulatan. Seperti yang dinyatakan oleh Robert K. Cooper, Ph.D, “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikirkan, menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitment. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.”

Diharapkan dengan membaca buku ini, kita semua menjadi terinspirasi untuk mewujudkan impian kita selama ini. Selamat membaca!!

Read More......

Dari Ibu Widyaningsih (Mohon sumbang sarannya)

Saya guru. Betul-betul mengagumi tulisan2 Anda. Saya sudah baca dan saya cermati. Saya punya masalah, Pak. Anak saya SMA kelas 2, tapi sayangnya saya gagal membangun kecerdasan emosinya. Dia belajar kalau saya gerakkan, namun di luar pengetahuan saya kadang dia bolos, untuk ibadah juga sulit. Maunya bikin sensasi dengan teman-temannya. Apakah ini murni kesalahan saya?? Bantulah saya. Kami butuh ide-ide dan jurus-jurus jitu.

Pak Dani, saya juga terlalu takut anak saya gagal, karena pendidikan formal negara kita masih utama. Anak no-2 saya sangat memenuhi harapan saya. Saat ini saya sedang berusaha mencerdaskan hati, EQ saya. Saya agak tenang dan tak panik berlebihan setelah membaca buku Bapak. Bisa saya menghubungi Bpk via telepon, atau apa saja, jam berapa? Karena yang jelas jiwa saya sakit dan tidak pernah siap menghadapi sikap anak di luar jalur, Pak. Terimakasih.

(Widyaninsih Guru MAN di Temanggung Jateng)

Komentar dari Dani RM:

Pembaca sekalian saya sudah menjawab pertanyan Ibu Widya melalui sms, karena beliau ingin dijawab langsung. Tapi saya yakin para pembaca sekalian mau membantu saya menjawabnya melalui blog ini. Mungkin jawaban Anda jauh lebih baik, lebih tepat dan lebih membantu Ibu Widya dalam mengatasan persoalannya. Atas partisipasi, dan bantuannya, saya dan Ibu Widya mengucapkan banyak terimakasih. (Untuk memberi komentar, klik 'KOMENTAR' di bawah ini. Thanks)

Read More......

Aku tahu aku dibaca!

Di sini sepi,
sesepi hatiku,
cuma senandung itu
yang temani sendiriku..

Tak ada sapa,
Tak ada tawa,
Hanya datang dan
berlalu..

Maaf lahir & bathin, sobat!
Maafkan alfa-ku
Aku tahu, ini tak bersuara,
meski aku juga tahu, ini pasti dibaca!!
(Seperti kata Multatuli diawal novel
hebatnya Max Havelaar)

Read More......

Technorati Profile

Read More......

Meminta & Memberi

(Tanggapan sederhanaku tentang "MENTALITAS MEMINTA: RAHASIA SUKSES?" yang ditulis oleh Jennie S Bev di: Pembelajar.com)

Kali
ini kita akan mengulas sedikit tentang dua hal yang akrab dengan kehidupan keseharian kita sebagai annas (makhluk sosial). Apa itu? Memberi dan meminta. Ada banyak sahabat yang membandingkan ke dua hal ini dalam perspektif yang tak proporsional. Ada yang memuja-muja sikap memberi (sampai-sampai membentuk sebuah kelompok - silahkan saja, ini hak), dan memandang rendah aktivitas meminta. Perlukah meminta dalam hidup ini menurut Anda?


Menurutku, meminta itu perlu. Memberi dan meminta itu tak ubahnya seperti yin dan yang dalam filsafat China atau ibarat malam dan siang dalam siklus waktu. Harus seimbang, kalau kita ingin hidup ini lebih bermakna. Boleh percaya boleh tidak, pada saat kita meminta, kita sudah memberi kesempatan kepada sesama untuk berbuat baik. Untuk beramal dan untuk mendapatkan kepuasan bathin dari aktivitas memberinya. Saya melihat pada kadar tertentu meminta itu sangat penting. Dalam arti meminta sesuatu yang memang crucial bagi kita. Apa lagi meminta sesuatu yang memang hak kita.


***

Pernah suatu ketika, saya meminjamkan sejumlah uang kepada teman yang sangat saya segani. Berbulan-bulan uang itu tidak kunjung dibayarnya. Berat rasanya hati saya untuk mengingatkan beliau tentang hal ini. Lama saya pendam saja hal tersebut di hati. Sampai satu hari, entah mengapa, tatkala saya memikirkan, dan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikannya - tapi tetap tak tahu harus bagaimana - tak sadar saya mengambil sebuah buku. Secara acak saya buka buku tsb, pas di halaman tertentu ada satu kata yang merupakan judul subbab, dengan hurup tebal, yang berbunyi MINTALAH! Dibawahnya ada satu kalimat dengan hurup miring, "Mintalah dan kau pun akan menerimanya". Seketika “Crinnnnnk!” otak saya mendapat pencerahan. Saya tak membaca apa isi dari bagian itu. Bukunya langsung saya tutup, dan saya telepon teman saya tersebut. Saya katakan tanpa terlalu banyak basa-basi, “Mbak, kalo gak keberatan saya minta uang saya.” Lalu… hari itu juga masalah yang saya pendam berbulan-bulan ini selesai. Selesai dengan sangat positif. Saya harus berterimakasih pada buku tersebut. Buku itu berjudul, “Being Happy!” oleh Andrew Matthews. (tidak ada unsur promosi, nih.. Tapi kalau mau beli, beli gih, buku-buku yang saya tulis. Nah, ini baru promosi, hehehe....)


***

Meminta dalam porsi yang tepat, ibarat, bumbu penyedap dalam masakan. Apabila terlalu berlebih orang akan menolak memakannya, sebaliknya pun demikian. Segala sesuatu yang berlebihan, terlepas positif atau negatif, selamanya TAK BAIK. Yang baik menurut saya adalah konsep proporsional. Itu akan menjadi sebuah harmonisasi. Itu akan menjadi sebuah orkestrasi kehidupan. Yang tentu saja akan membuat hidup ini menjadi lebih menarik dan indah! (Ini menurut saya, belum tentu benar! Jangan percaya, Anda bisa merujuk kisah orang-orang besar, seperti Warrent Buffet, yang memberikan 80% hartanya, Ali bin Abi Thalib (?), yang tak mau pakai baju bagus, sebelum rakyatnya memakai baju bagus, atau orang-orang lainnya yang tingkat spiritualitasnya di atas rata-rata. Tak usahlah kita membicarakan nabi atau para Rasul)


Apa yang saya tulis ini adalah SANGAT BENAR bagi SAYA pribadi. Karena saya mengalami proses yang lama dan panjang sampai ke tahap berpikir seperti ini. Dan Dear Jennie pun SANGAT BENAR, karena ada proses yang tak sebentar sebelum si gadis manis ini sampai berpikir kesitu (atau memang pengamatannya lebih dalam dari saya. Bisa saja). We are entitled to have our own opinion about anything. Isn’t that so?


Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan oleh Jansen Sinamo, pada ulasannya tentang Parakitri dan Kho Ping Hoo, “
Kebenaran itu berwajah banyak, maka gunakanlah nalar dengan baik dan teruslah mencari jejaring sebab-akibat ke segala penjuru sehingga wajah kebenaran semakin tersingkap”


Yang pasti apa pun yang kita yakini sebagai suatu kebenaran, itu sungguh menjadi kebenaran yang absah bagi kita. Itulah the power of belief! Silahkan dan syah-syah saja jikalau Anda (pembaca) memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Itu pulalah yang membuat hidup ini penuh warna, sejalan dengan ini saya teringat sebuah kalimat bijak, “Variety is the spice of life!” (Keberanekaragaman adalah bumbu penyedap kehidupan).


Ah, betapa menakjubkannya kata-kata, semuanya bisa diputar-putar sehingga menjadi sebuah opini yang bisa benar dan juga bisa tidak benar, tergantung dari sudut mana kita berdiri. Dan tergantung juga seberapa tinggi posisi kita tatkala melihat pokok persoalan. Mungkin saya harus mendaki lagi sebelum berkomentar ya.... Ah, sungguh keluasan wawasan begitu penting dalam memformat sebuah kearifan.


Ada komentar, friends? Do not hesitate to give your comments! Kasih komentar, dong, biar blog ini terasa hidup! (ini juga "meminta", bukan, hehehe? Komentar yang urutannya tepat tgl & bln lahirku , akan saya kirim masing2 satu buku tulisan saya, Anda boleh pilih - nah, ini proses "memberi". Thanks, ya..)

Read More......

Makna Merdeka

Cerita apa lagi diawal Agustus ini? Belum terpikirkan? Baik, saya akan bercerita sedikit tentang kata, "MERDEKA!". Banyak orang berpikir bahwa Agustus adalah bulan keramat, karena pada saat inilah negeri tercinta ini bebas dari tindasan kaum penjajah! Apa arti "Merdeka" saat ini menurut Anda?

Bagiku merdeka berarti kita terbebas dari perasaan-perasaan yang mengungkung! Perasaan-perasaan yang menggrogoti jiwa kita dari dalam. Kecemasan-kecemasan yang terkadang membelengu kaki kita dengan rantainya yang tak kasat mata. Merdeka juga berarti, kita bebas memilih apa pun sesuai dengan kehendak jiwa kita yang terdalam. Banyak orang sulit melakukan ini! Kadang banyak orang dipaksa oleh keadaan untuk berbuat atau melakukan sesuatu! Pada saat orang tunduk dan dikendalikan oleh keadaan di luar dirinya, didikte oleh kondisi atau masalah-masalah yang menimpanya, dia sebenarnya belum merdeka!

Orang yang merdeka adalah orang berpikir lebih besar dari masalah! Think out of the box! Menjadi subjek, bukan objek. Berani memilih bukan terpaksa memilih. Saya memilih untuk menjadi guru! Karena di sana jiwa saya terpanggil, oleh karenanya saya merasa bahagia melakoninya. Di bidang ini, saya merasa benar-benar hidup!

Lalu, apa lagi makna merdeka ini?

Menurutku, orang yang merdeka adalah orang yang berani mengatakan “Tidak!” untuk hal-hal yang tidak positif. Orang merdeka tidak dipengaruhi lingkungan, tapi dialah yang mempengaruhi lingkungan.

Orang yang merdeka adalah raja atas perasaannya, penguasa atas emosinya, pengendali atas nafsunya. Perokok (maaf, untuk teman-teman yang merokok) bagiku, orang yang tak merdeka! Mengapa? Karena dia bukan penguasa atas dirinya. Dia tunduk pada nikotin yang menggerogoti pembuluh darah dan otaknya. Saya tunduk pada nicotin dari tahun 1984-2001, saya sadar saya didikte olehnya. Dia jadi penguasa saya. Setelah makan saya sibuk mencari rokok, untuk dihisap. Saya bahkan menyiapkan waktu khusus untuk menikmatinya. Padahal banyak hal lain yang lebih penting yang harus saya prioritaskan.

Orang yang merdeka adalah orang yang hidup saat ini. Dia tidak terjerat dengan kesedihan hari kemarin dan terperangkap oleh kecemasan hari esok. Dia percaya pada the law of cause and effect. Hukum tanam-tuai. Prinsip GIGO, Gold In, Gold Out atau Garbage In, Garbage Out!

Orang yang merdeka adalah orang yang tak pernah berhenti bertumbuh kearah sebaik-baiknya, seindah-indahnya, seoptimal-optimalnya. Ingat cerita Socrates? Tatkala menunggu hukuman matinya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah lagu merdu. Lalu dia meminta orang yang menyanyikan lagu tersebut mengajari liriknya. Socrates lalu berkata, "Saya ingin mati dengan mempelajari sesuatu yang baru!"

Sudah merdekakah saya? Tak tahulah. Bagaimana dengan Anda? Apa makna MERDEKA menurutmu? Ah, mungkin Anda lebih tahu! Kutunggu sharingnya!

Read More......

Ajang, ah, Ajang!

Masih ingat tentang sahabat saya, Ajang? Kemarin dia email saya. Ternyata dia sudah menjadi seorang Letkol Penerbang! Dia menyebut dirinya di email itu "serdadu"! Setelah upaya mencari info disana-sini melalui internet yang canggih, akhirnya aku tahu dia seorang letkol penerbang (Dia lebih muda setahun dariku). Ah, betapa down to earth-nya sahabat saya ini. Tidak seperti saya yang belum apa-apa sudah memproklamirkan diri sebagai a legendary teacher!


Kini, tak ada yang ingin saya sampaikan lagi, saya senang karena link yang terputus hampir seperempat abad (21 th), terjalin lagi. Tak ada yang ingin kupesankan untuknya selain, ”Jaga persada ini, sahabat! Angkat lagi harga diri republik yang seperti meluntur ini! Jangan biarkan negeri lain memandang remeh kita! Perkasalah menerbangkan pesawatmu! Terbanglah tinggi! Kawal nusantaramu! Kawal persadaku! Kawal tanah tumpah dara kita ini!!! Bersihkan dirimu dari coreng moreng yang mengotori para petinggi negeri. Bersihkan! Bersihkan! Teruslah bersih seperti Engkau yang kukenal dulu!!!


Ah, I'm so happy to have my long lost friend! At least, I feel so! Anda pernah alami hal serupa. LET SHARE HERE, my friends!


Read More......

My Friend, Ajang

Dulu, saya punya teman! Tidak akrab! Tapi saya tahu dia luar biasa! Dia teman SMA saya. Saya kagum padanya! Dia pintar, ganteng dan sangat rendah hati! Ah, sebenarnya waktu itu saya kagum pada banyak orang! Saya kagum pada siapa saja yang di mata saya hebat! Dulu saya kagum pada teman saya Jaka. Saya kagum dengan Ajang (yang lagi diobrolin ini). Saya kagum dengan teman kakak saya. Saya kagum dengan Mathias Mucchus. Saya kagum dengan Gola Gong. Saya kagum dengan tetangga saya! Saya kagum dengan teman adik saya. Saya bahkan bisa saja kagum dengan Anda! Yah, saya kagum dengan banyak sekali orang.

Setiap kali ketemu orang yang saya kagumi, saya akan bercerita kepada Ibu saya dengan sangat antusias. Dulu waktu itu, saya selalu bertanya ke Ibu , "Mengapa Tuhan menciptakan banyak sekali orang yang hebat-hebat, sementara saya sepertinya tak ada apa-apanya!" Ibu Saya selalu bilang, "Nak, kamu juga hebat!"

Balik ke teman saya ini. Tiba-tiba, sehabis ngajar siang ini, iseng saya mencari tahu tentang dia di google. Saya ketik nama aslinya; W..A..J..A..R..I..M..A..N.. Dan muncul beberapa info! Salah satunya adalah blog http://wajariman.wordpress.com/ Dengan penasaran saya lihat apa isinya. Ternyata blog itu belum diapa-apakan! Bahkan mungkin ditelantarkan! Aku agak kecewa! Aku ingin tahu, jadi apa dia sekarang! Tapi tak kudapati apa-apa dari blog ini! Lalu aku tulis saja pesan, siapa tahu dia, suatu saat, entah kapan, akan tergerak membuka blognya lagi.

Kataku:

Hey, friend! Remember me! Dani? Jang, I don’t know suddenly my fingers type your name in a google search engine. W..A..J..A..R..I..M..A..N, THEN, I got your blog. I tried to see what it’s in it! No photos, no identity, no information! Nothing can bring me to you, to a Wajariman, my schoolmate. I just see a welcoming page, and leyeh-leyeh! Ah, is that you, Jang, the one who was so smart in my senior high school! The one who could make the girls “fly” and couldn’t sleep at night? I hope it’s really you! Not other Wajariman. You know I think there’s no other Wajariman on earth, but you! You're the first and the only one.

Jang, I just want to connect myself with my old time. Back to the time when we were Senior high students. It was when life's so naive! When I was just a “cecenguk”, hehehe… and now… I’m still a “cecunguk”!! Oh, my!!! How about you? Are you a real “man” now? I bet you are!!

Hey, would you care to see my blog? Perhaps, we could talk more about life!
(Dani Ronnie M)

Ah, ini sekedar cerita masa lalu. Ah, hidup kadang memang mudah ditebak!!! Mau jadi apa kita BESOK tergantung usaha kita hari ini! Tanam hal-hal yang baik hari ini, maka esok kita akan menuai hal-hal yang juga baik! Temanku ini sudah banyak menanam hal-hal yang baik di masa lalunya!!! How about you?

Read More......

Hidup & Maknanya

Dalam menulis itu harus ada kejujuran, mesti ada keikhlasan, kudu ada niat baik. Niat untuk membuat pembaca menjadi orang baru yang lebih baik.
Seperti juga pada saat kita menulis. Setelah semuanya kita tumpahkan ke buku, ke layar komputer, ke secarik kertas yang kita pungut, atau bahkan ke baju teman kita yang minta ditulisin, paling tidak, akan ada perasaan lebih baik bergelayut di hati.

Saya masih belajar untuk menulis. Seperti saya masih belajar untuk menikmati apa pun yang diberikan oleh Tuhan kepadaku. Saya tahu, hidup tak pernah kompromi, dia memiliki hukumnya sendiri, yang kadang tak bisa dimengerti. Tapi berusaha saja belajar untuk memahami. Belajarlah untuk mengerti segala pesan kehidupan.
Apa pun yang terjadi, sungguh memiliki maknanya sendiri. Tak ada yang terjadi secara kebetulan, bagi sang Maha Bijaksana! Bagi Sang Penggenggam Takdir!!

Pada saat aku merasa aku menulis agar orang lain menjadi lebih baik, aku pun merasa jauh lebih baik. Pada saat aku melakukan sesuatu agar orang lain lebih kaya, aku pun merasa bertambah kaya. Pada saat aku mengatakan sesuatu dengan tulus, supaya orang lain menjadi bahagia, aku pun tiba-tiba merasa bahagia. Ah, apa pun yang kita lakukan, sungguh seperti boomerang. Dia akan kembali ke yang melemparnya!

Read More......

Seni Mengajar dengan Hati

Back Cover

Seni Mengajar dengan Hati (Don’t Be A Teacher Unless You Have Love To Share) Elex Media Jakarta

Author: Dani Ronnie M

Buku ini layak Anda baca. Ini sebuah rahasia. Rahasia yang akan menjadikan Anda Guru yang luar biasa. Rahasia yang akan menggali mutiara-mutiara di setiap diri individu pembelajar. Rahasia yang akan membuat Anda sadar bahwa ter-nyata Anda luar biasa! Banyak yang menyarankan untuk menyimpan ini rapat-rapat. Namun tentu saja ini tak boleh terjadi. Ilmu harus disebarkan. Kebe-naran harus disampaikan.

Anda sungguh dalam proses menuju kesuksesan dan kebahagiaan yang Anda impikan. Yang Anda butuhkan hanyalah niat dan memaksimalkan apa pun yang Anda miliki! Zig Zigglar berkata, “You are ‘number one’ when you do the best with what you have every day”.

Di tengah-tengah spirit untuk membesarkan bangsa ini, buku ini dihadirkan! Siapa pun Anda sungguh akan terinspirasi dengan membaca buku ini. Ini wajib dimiliki oleh setiap individu yang ingin berha-sil dalam hidupnya.

Read More......

Hilang, hilanglah yang telah hilang!

Eh, tiba-tiba semuanya hilang. Hilang tanpa kesan! Fileku untung masih ada! Begitulah hidup... kadang-kadang kita harus kehilangan! Aku lupa ngebackup datanya. My fault!!! That's life. Sometimes we should be able to accept something we can't change. Okay.. wait!! I'll try to start from scratch again!!! Where's my picture? Where's my document? Did anyone see them anywhere? Sorry for my grumble !!!!!!!! Have a very pleasant weekend to every one out there! This always happen to someone who has too much curiosity!! Any experience lost something?? Care to share?

Read More......

Positive Habit : WRITING

James Pennebaker, Professor Ilmu Psikologi dari Southern Methodist University, membuktikan melalui sebuah penelitian yang mendalam, bahwa:

MENULISKAN PERASAAN-PERASAAN ANDA AKAN MEMBAWA PENGARUH POSITIF TERHADAP SISTIM KEKEBALAN TUBUH ANDA. Orang yang memiliki buku harian, diuji dan terbukti memiliki fungsi kekebalan tubuh yang jauh lebih tinggi dibading orang-orang yang tidak memiliki buku harian.

(Dikutip dari Adversity Quotient by Paul Stoltz hal: 107)

Read More......

Questions To Ponder..

Ah, terkadang hati ini mengharu biru terkenang masa lalu!

Mengapa kerap aku merindukan teman-teman lamaku?

Mengapa di dalam hidup ini kita ditakdir untuk datang dan berlalu?

Mengapa harus ada kematian?

Mengapa harus ada takdir yang terkadang tak pernah di duga-duga?

Mangapa kita selalu saja kebingungan sendiri melihat segala sesuatu

terjadi diluar daya nalar kita?

Mengapa ada keindahan kalau pada akhirnya hanya akan dihancurkan?

Mengapa manusia tega saling membunuh?

Mengapa ada kebencian?

Mengapa ada permusuhan?

Mengapa ada dendam?

Mengapa ada yang saling menyakiti?

Mengapa kita membunuh makhluk-makhluk lain

hanya untuk kepuasan yang menipu?

Mengapa ada yang miskin?

Mengapa ada yang serakah?

Mengapa ada yang tak memiliki welas kasih sama sekali?

Mengapa kita tak saling mencintai saja?

Mengapa waktu harus berlalu sehingga kita harus

berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi?

Mengapa harus ada kepiluan?

Ah, mengapa harus ada air mata?

Ah…

Read More......

Izinkan aku berlabuh!

Kalau masih mungkin,
Izinkan aku berlabuh lagi disini,

Karena dermagaku mungkin tengah menanti
Mengharap biduk jiwa ini untuk menepi.
Ah, melanglang buana telah melelahkan hati,
Ah, mengembara telah mendera diri,
Kini saatnya,
langkah ini kuhentikan di sini,
Ku ingin berteduh
Kembali ke tempat dimana aku di besarkan!
Namun, dimana mereka?
Dimana mereka?
Dimana teman-temanku dulu?
Tidakkah mereka rindu pada ku?
Tidakkah mereka kehilanganku?

Seperti jiwa ini yang terus merindu!

Read More......

EQ & AQ for Teachers

The POWER of EMOTIONAL & ADVERSITY QUOTIENT for Teachers,

Buku ini mencoba menghadirkan kekuatan kecerdasan emosi dan adversitas di ruang kelas. Sebagian besar muatan buku ini didasarkan pada pengalaman penulis yang beprofesi sebagai guru. Sehingga tidak heran bila buku ini, tidak saja mencerahkan tapi juga menginspirasi. Tidak banyak buku yang mengaitkan penemuan terbaru dalam bidang kecerdasan manusia dengan profesi guru. Dan, buku ini menjadi satu dari yang sedikit itu.

Read More......

The thought of the day

Sehebat apa pun kendala,

Sebesar apa pun aral,

Mari teguhkan hati,

Kobarkan semangat!!

Tetaplah melangkah,

Ya, tetaplah melangkah,

Sahabat!


Read More......

My Chum, Phil 'Aulia' Collin, The Generalist!

Temanku Aulia, menulis banyak tentang aku di blognya kbcengkareng (baru-baru ini dihapus oleh yg punya, mungkin tidak cocok dengan tema blognya-edit) Kami adalah sahabat semasa masih kuliah sampai sat ini. Aku dan teman-teman memanggilnya Phil Collins, karena memang my chum ini agak mirip si Collins, baik suara, mau pun mukanya, (juga sedikit botaknya, hahaha). Sekampus orang mengenalnya dengan nama itu.

Dia, terkaget-kaget setelah aku tamat kuliah, pengangguran, lalu tahun depannya udah bisa cas-cis-cus berbahasa Inggris, malah jadi guru di lembaga-lembaga bahasa, baik yang berskala nasional maupun internasional. Padahal waktu kuliah di Fakultas Hukum, bahasa Inggrisku jelek sekali, malah dia jauh lebih bagus! (Bizarre, isn't it? Want to know? Just read my books: Menyibak Tabir Hidup-Elex Media)

Itulah mengapa Aulia menulis bahwa aku belajar dengan "gila". Aku memang gila, waktu itu. Banyak teman-teman ku berkata, "Hey, Dan, ente cari kerja sono, ngapain belajar lagi! Ayo, masukin lamaran!!" Aku cuma menatapnya dengan mata agak nanar karena seharian baca kamus, bahkan percaya nggak kamus ku, juga jadi bantalku!

Ada juga my pals yang berkata, "Eh, ente sekarang aja bersemangat seperti itu, tunggu aja sebulan lagi, pasti ente udah bosan!" aku tersenyum saja, deep in my heart, I know I won't do that. Saya punya core believe bahwa kita semua, Anda dan saya, bisa menjadi apa pun as long as we have a very clear goal, a burning desire. Hasrat yang menggebu-gebu. Hasrat untuk menjadi insan yang unstoppable! Are you unstoppable?

To cut a long story short, setelah beberapa lama tak berjumpa dengan teman-teman, tiba-tiba mereka terkejut karena aku sudah menjadi manusia lain. Manusia dengan profesi sebagai guru.
My chum, Aulia ini pun sangat terkejut, "Koq, bisa, Dan, ente jadi guru bahasa Inggris di lembaga-lembaga besar seperti itu?" Aku bilang, "Friend, kamu juga bisa kalau kamu mau!"

Dia akhirnya aku ajak belajar di sekolahku ALTI. Aku tahu dia sebenarnya bisa kalau dia betul-betul menginginkannya, tapi unfortunately sohibku ini orang yang sangat besar curiosity-nya. Dia pingin mempelajari segala sesuatu.Semua seperti menarik hatinya, lalu tak berapa lama dia tertarik dengan hal lain, jadi bahasa Inggrisnya terpaksa di stop dulu!

Ah, dia benar-benar generalis! Dia sekarang lagi gila internet, nanti pasti dia akan gila nulis, lalu gila main musik (kayak Phil Collins) dan mudah-mudahan gak gila daun muda, hahahaha!!!! (jadinya doi banyak pengetahuannya) Ah, Aulia! Aulia! You're always something else, man!

Hey, gimana dengan kamu-kamu! Saya percaya bahwa kita semua adalah makhluk terhebat di muka bumi. Tuhan, telah menakdirkan kita sebagai makhluk manusia, yang punya body, mind dan soul! Percayakah Anda bahwa Anda dan saya bisa meraih apa pun asal itu benar-benar terpatrikan di sudut hati Anda yang terdalam? Ada komentar?

Read More......

Untaian Hati

Teruntuk sahabatku, guru,
di mana pun Engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah,
mari,
kita bulatkan hati untuk menghadirkan keindahan
pada setiap karya kita.
Setiap hari kita membuat masterpiece
di jiwa-jiwa pembelajar kita.
Sejak langkah pertama kita masuk ke ruang-ruang belajar,
dan diakhiri dengan langkah kaki kita yang lain tatkala
pelajaran usai.
Ah, betapa mulianya pekerjaanmu!

Saudaraku,
kutitip anakku untuk engkau didik,
dan akan kudidik anakmu dengan segala totalitas
dan kemampuan yang aku miliki.
Kucintai anakmu seperti engkau mencintainya,
dan cintai anakku seperti aku mencintainya.
Jangan kecilkan hatinya bila dia salah,
bukankah siapa diantara kita yang tak pernah salah?

Saudaraku,
Sungguh ini sebuah kemuliaan,
mari berjabat tangan,
Eratkan rasa dan satu kan hati
untuk selalu memberi yang terbaik bagi anak negeri!

Saudaraku,
hidup ini tak lama.
Apa yang sudah kita berikan kepada sesama?
Kita, raga ini, boleh musnah, boleh hilang,
kita boleh tiada lagi,
NAMUN,
mari berharap agar kebaikan yang kita tabur,
terus bertumbuhkembang, menyebar dan berbuah kemuliaan.

Saudaraku,
di mana pun Engkau berada saat ini,
di hutan,
di gunung,
di pantai,
di lembah,
di desa-desa tandus,
di gubuk-gubuk reot,
di kolong-kolong jembatan,
di gedung-gedung mewah,
mari, biarkan cinta kita bertebaran,
mengharumkan bumi persada tercinta ini.
Mari besarkan hati untuk membesarkan bangsa ini, Sudaraku!
(Dari bukuku: The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers)

Read More......

Things to ponder

Keep following your dreams...
whenever they may lead.


Semua orang punya mimpi dalam hidupnya. Anda dan saya pasti punya. Kalau kita tak punya mimpi, maka hidup akan terasa hambar, tanpa gairah. Hey, buddy, what's your dream? Mau tahu mimpiku? This is my dream:

Someday, aku akan memiliki sebuah lembaga pendidikan besar yang bereputasi internasional. Gedung lembagaku begitu besar, indah, nyaman dan mewah! Siswa-siswaku ramai berduyun-duyun datang ke lembagaku.Kendaraan (mobil dan motor) siswa dan staffku teratur rapi di lahan parkir yang luas. Mereka bergembira belajar dan bekerja di lembagaku.

Guru-guruku senang mengajar karena mereka merasa terayomi & kesejahteraan mereka terus ku prioritaskan.

Aku tidak hanya memperhatikan kebahagian diriku, tapi juga kebahagiaan siswa, karyawan dan staff pengajarku.
Mereka begitu loyal karena mereka merasa terberdaya, bukan hanya secara finansial, namun juga mental dan spiritual! Aku akan kaya luar biasa. Uang akan mengalir tanpa aku perlu bekerja lagi!!!

Inilah mimpiku! Dan bermimpi itu adalah awal dari segala achievement!

What are your dreams, my friend?? So curious to know them.

Read More......

About Me

Dani Ronnie M adalah anak keempat dari H. Roni Matjan dan Hj. Zuriah. Dilahirkan di Palembang, 11 September 1967. Jenjang sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas ditempuhnya di kota kelahirannya Palembang, Sumatera Selatan. Pada tahun 1986 dia melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Jurusan Perdata Universitas Jambi (Unja). Pada bulan Desember 1991 dia lulus sebagai seorang Sarjana Hukum dan langsung mendapat predikat 'pengangguran intelek'!

Kecintaannya pada Bahasa Inggris menavigasi takdir hidupnya. Setelah beberapa tahun menjadi penganggur, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi guru bahasa Inggris, karena dia merasa benar-benar 'hidup' pada saat mengajar di depan jiwa-jiwa unik di kelasnya.

Dia terjun ke dunia keguruan sejak tahun sejak tahun 1993. Pertama kali mengajar di sekolah-sekolah swasta di kota kelahirannya. Pada tahun 1995, dia diterima sebagai staff pengajar di Lembaga Bahasa LIA Palembang. Di sini penghayatannya akan metode pengajaran efektif mulai terasah.

Dia terus menerus bereksplorasi dan mencari cara yang paling pas dalam mendidik anak-anak bangsa. Dia berpikir bahwa mengajar itu seharusnya tidak sekadar datang ke sekolah/lembvaga pendidikan, masuk kelas, menyuruh ini-itu, melarang ini-itu, mentransfer pengetahuan kepada para pembelajarnya, lalu pulang, namun jauh lebih dari itu.

Menurut Dani RM, seorang guru harus menyikapi profesinya dari 5 sudut pandang (the teachers' mindset), yang merupakan transendensi dari pemahaman makna guru. Dia percaya apabila setiap guru di Indonesia melihat dirinya sebagai:

  1. A GOD'S CREATURE (makhluk Tuhan) yang mempersembahkan apa pun yang dilakukannya di kelas sebagai Ibadah terhadap Tuhannya,
  2. A GENUINE TEACHER (PENGAJAR SEJATI), yang mengajar dengan hatinya,
  3. A GUIDE (pembimbing) yang membimbing dengan nuraninya.
  4. An SINCERE EDUCATOR (PENDIDIK) yang mendidik dengan segenap keikhlasan, dan,
  5. An INSPIRER (penginspirasi) yang menginspirasi dan menyampaikan kebenaran dengan rasa kasih,
maka sang guru ini akan bermetamorfosa menjadi guru yang luar biasa, yang pada gilirannya akan melahirkan para pembelajar yang hebat, unggul dan mampu melejitkan potensi unik tersembunyi yang mereka miliki. Inilah mindset seorang pendidik yang akan melegenda, yang benar-benar menjadi seseorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Karya-karya Dani Ronnie M yang sudah diterbitkan, yaitu:
  1. Seni Mengajar Dengan Hati (Don't Be A Teacher Unless You Have Love To Share) Oleh Elex Media Komputindo Jakarta, 2005.
  2. Seni Menikmati Hidup & Memberdayakan Diri (Menyibak Tabir Hidup) Oleh Elex Media Komputindo Jakarta, 2005.
  3. The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers, oleh Mizan Publika Jakarta, 2006.
  4. Visit Musi Upaya Pemberdayaan Masyarakat Sumsel. Oleh ALTI Publishing Palembang, 2007.
  5. Bumi Sriwijaya Antara Marketing Komitmen & Etos Kerja, Oleh ALTI Publishing Palembang, 2008.

Setelah mengajar di beberapa LIA yang ada di Palembang dan Jakarta (Lia Kebayoran Baru, LIA Fatmawati, LIA Bintaro), Dani Ronnie M juga sempat mengajar di EF (English First) - Tebet Jakarta, terhitung sejak tahun 2001-2003.

Dani Ronnie M mempelajari dan menerapkan dengan seksama pendapat para pakar pendidikan tentang proses belajar-mengajar modern seperti dari Bobbi Deporter (Quantum Teaching), Gordon Dryden (The Learning Revolution), Win Wenger (Beyond Teaching and Learning), Dave Meier (The accelerated Learning), Adele Faber & Elaine Mazlish (How To Talk so Kids Can Learn At Home and In School), sampai pada The Creative Spirit yang ditulis oleh Daniel Goleman.

Pembelajaran yang dia dapat memang belum cukup, namun dia amat yakin bahwa dengan banyak membaca, menganalisa langsung dan bekarya nyata, barulah proses penyempurnaan terjadi. Dia, sungguh, belum sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Sang Maha Sempurna. Dia hanyalah makhluk yang terus berusaha menyempurnakan ikhtiar. Terus menerus mencoba memberikan yang terbaik bagi anak negeri. Dia berharap suatu saat nanti akan terlahir sebuah generasi yang akan mengangkat harga diri dan martabat bangsa yang pernah menjadi macan Asia ini, INDONESIA!

Sebenarnya Dani Ronnie M menganggap dirinya tak lebih dari pengembara di dunia pendidikan. Dan beberapa buku karyanya di atas adalah hasil perenungannya. Hasil dari apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dan apa yang dia lakukan di kelasnya. Itu bukan sebuah thesis apalagi disertasi yang terkadang hanya basa-basi.

Itu baginya, sungguh, sebuah perjalanan panjang yang tidak bertarget 'Ph.D' atau gelar-gelar lainnya. Targetnya tidak lain adalah pelayanan kepada si pembelajar dan kecintaan kepada mereka yang tidak berbatas waktu, seumur hidup, sepanjang hayat. Ini sebuah pengabdian, sebuah dedikasi. Sebuah cinta yang tulus yang hendak ditularkannya kepada teman-temannya yang lain. Sebuah kesederhanaan pikiran seorang pengelana.


Memang perjalanannya belum berakhir. Perjalanannya masih jauh dari tujuan. Karena memang batas akhirnya merupakan rahasia sang maha pengasih. Bagaimana pun juga pengembaraannya harus terus dilanjutkan. Jalan berliku di depannya masih menanjak, berangin, berhujan dan mungkin berbadai. Namun itulah keindahan, itulah kebahagiaan, itulah kehidupan yang sebenarnya! Maka sebagai seorang pengelana sejati, izinkanlah ia pamit untuk meneruskan pengembaraannnya...

(
Untuk mengundang Dani Ronnie M sebagai pembicara seminar, ceramah ilmiah maupun in-house training, Anda dapat menghubunginya di nomor handphone: 0818-676-711 atau email: danironniem@gmail.com)
*****

My dear fellow teachers, parents and king pins

I really hope, someday, there will be a real breakthrough in our learning and teaching process. I also dream in the future, students will be more proud of the knowledge in their brains rather than just scores in pieces of paper.

Someday, a successful student is measured not buy how far he/she knows about the subjects, but how well he/she can use it in a real life.
Later, we will have a generation who can really paddle their own canoes. They create their own destiny. They create the colors of their own lives!

Yes, they are an out standing generation with love in their hearth!!

Yours,
Dani Ronnie M

P.S
Any idea, pals?

Read More......

Opini, Ide2 dan Suara Hati saya. Semoga Bermanfaat!


Menjadi NARA SUMBER di SmartFM-Jkt