Meminta & Memberi

(Tanggapan sederhanaku tentang "MENTALITAS MEMINTA: RAHASIA SUKSES?" yang ditulis oleh Jennie S Bev di: Pembelajar.com)

Kali
ini kita akan mengulas sedikit tentang dua hal yang akrab dengan kehidupan keseharian kita sebagai annas (makhluk sosial). Apa itu? Memberi dan meminta. Ada banyak sahabat yang membandingkan ke dua hal ini dalam perspektif yang tak proporsional. Ada yang memuja-muja sikap memberi (sampai-sampai membentuk sebuah kelompok - silahkan saja, ini hak), dan memandang rendah aktivitas meminta. Perlukah meminta dalam hidup ini menurut Anda?


Menurutku, meminta itu perlu. Memberi dan meminta itu tak ubahnya seperti yin dan yang dalam filsafat China atau ibarat malam dan siang dalam siklus waktu. Harus seimbang, kalau kita ingin hidup ini lebih bermakna. Boleh percaya boleh tidak, pada saat kita meminta, kita sudah memberi kesempatan kepada sesama untuk berbuat baik. Untuk beramal dan untuk mendapatkan kepuasan bathin dari aktivitas memberinya. Saya melihat pada kadar tertentu meminta itu sangat penting. Dalam arti meminta sesuatu yang memang crucial bagi kita. Apa lagi meminta sesuatu yang memang hak kita.


***

Pernah suatu ketika, saya meminjamkan sejumlah uang kepada teman yang sangat saya segani. Berbulan-bulan uang itu tidak kunjung dibayarnya. Berat rasanya hati saya untuk mengingatkan beliau tentang hal ini. Lama saya pendam saja hal tersebut di hati. Sampai satu hari, entah mengapa, tatkala saya memikirkan, dan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikannya - tapi tetap tak tahu harus bagaimana - tak sadar saya mengambil sebuah buku. Secara acak saya buka buku tsb, pas di halaman tertentu ada satu kata yang merupakan judul subbab, dengan hurup tebal, yang berbunyi MINTALAH! Dibawahnya ada satu kalimat dengan hurup miring, "Mintalah dan kau pun akan menerimanya". Seketika “Crinnnnnk!” otak saya mendapat pencerahan. Saya tak membaca apa isi dari bagian itu. Bukunya langsung saya tutup, dan saya telepon teman saya tersebut. Saya katakan tanpa terlalu banyak basa-basi, “Mbak, kalo gak keberatan saya minta uang saya.” Lalu… hari itu juga masalah yang saya pendam berbulan-bulan ini selesai. Selesai dengan sangat positif. Saya harus berterimakasih pada buku tersebut. Buku itu berjudul, “Being Happy!” oleh Andrew Matthews. (tidak ada unsur promosi, nih.. Tapi kalau mau beli, beli gih, buku-buku yang saya tulis. Nah, ini baru promosi, hehehe....)


***

Meminta dalam porsi yang tepat, ibarat, bumbu penyedap dalam masakan. Apabila terlalu berlebih orang akan menolak memakannya, sebaliknya pun demikian. Segala sesuatu yang berlebihan, terlepas positif atau negatif, selamanya TAK BAIK. Yang baik menurut saya adalah konsep proporsional. Itu akan menjadi sebuah harmonisasi. Itu akan menjadi sebuah orkestrasi kehidupan. Yang tentu saja akan membuat hidup ini menjadi lebih menarik dan indah! (Ini menurut saya, belum tentu benar! Jangan percaya, Anda bisa merujuk kisah orang-orang besar, seperti Warrent Buffet, yang memberikan 80% hartanya, Ali bin Abi Thalib (?), yang tak mau pakai baju bagus, sebelum rakyatnya memakai baju bagus, atau orang-orang lainnya yang tingkat spiritualitasnya di atas rata-rata. Tak usahlah kita membicarakan nabi atau para Rasul)

Apa yang saya tulis ini adalah SANGAT BENAR bagi SAYA pribadi. Karena saya mengalami proses yang lama dan panjang sampai ke tahap berpikir seperti ini. Dan Dear Jennie pun SANGAT BENAR, karena ada proses yang tak sebentar sebelum si gadis manis ini sampai berpikir kesitu (atau memang pengamatannya lebih dalam dari saya. Bisa saja). We are entitled to have our own opinion about anything. Isn’t that so?


Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan oleh Jansen Sinamo, pada ulasannya tentang Parakitri dan Kho Ping Hoo, “
Kebenaran itu berwajah banyak, maka gunakanlah nalar dengan baik dan teruslah mencari jejaring sebab-akibat ke segala penjuru sehingga wajah kebenaran semakin tersingkap”

Yang pasti apa pun yang kita yakini sebagai suatu kebenaran, itu sungguh menjadi kebenaran yang absah bagi kita. Itulah the power of belief! Silahkan dan syah-syah saja jikalau Anda (pembaca) memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Itu pulalah yang membuat hidup ini penuh warna, sejalan dengan ini saya teringat sebuah kalimat bijak, “Variety is the spice of life!” (Keberanekaragaman adalah bumbu penyedap kehidupan).


Ah, betapa menakjubkannya kata-kata, semuanya bisa diputar-putar sehingga menjadi sebuah opini yang bisa benar dan juga bisa tidak benar, tergantung dari sudut mana kita berdiri. Dan tergantung juga seberapa tinggi posisi kita tatkala melihat pokok persoalan. Mungkin saya harus mendaki lagi sebelum berkomentar ya.... Ah, sungguh keluasan wawasan begitu penting dalam memformat sebuah kearifan.



Ada komentar, friends? Do not hesitate to give your comments! Kasih komentar, dong, biar blog ini terasa hidup! (ini juga "meminta", bukan, hehehe? Komentar yang urutannya tepat tgl & bln lahirku , akan saya kirim masing2 satu buku tulisan saya, Anda boleh pilih - nah, ini proses "memberi". Thanks, ya..)

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP