Tyas....

Kalau Anda membaca subtitle dari blog saya ini, Anda pasti agak terheran-heran. Di sana saya menulis, “Kalau seandainya blog ini tak kuupdate lagi, itu berarti blog ini sudah menjadi warisanku pada dunia yang fana ini.” Mau tahu mengapa aku menulis seperti itu? Baik, begini ceritanya.

Setahun yang lalu, ketika buku ketigaku akan diterbitkan, aku mengalami sebuah kecelakaan yang luar biasa fatal, sehingga hampir merengut jiwaku. Sebenarnya, waktu itu aku sudah mencapai tahap “tenang” yang begitu nyaman. Aku tak tahu apa-apa lagi, yang aku rasakan hanyalah kedamaian dan kesejukan melumuri diri dan bathinku. (kisah ini akan kulanjutnya pada postinganku selanjutnya. Ini benar-benar pengalaman luar biasa yang harus “kubayar” dengan sangat-sangat mahal. Sekali lagi sangat mahal!)


Apa keterkaitan kalimat di subtitle tersebut dengan dunia maya (cyber world) ini? Baik, perkenankan aku memaparkannya. Dulu beberapa waktu yang lalu, ketika internet tak terlalu memikatku. Ketika tehnologi komunikasi ini tak membuat hatiku bergeming sedikitpun, aku menyempatkan diri menjajal seberapa jauh google search engine familiar dengan namaku. Kutulis, “Dani Ronnie M” di sana, tak banyak informasi tentang diriku, hanya beberapa tulisan yang ditulis oleh penerbit bukuku, Elex Media Komputindo Jakarta.

Lalu aku mencari namaku di Yahoo!! Dan ada sebuah friendster, yang menulis namaku. Friendster ini milik seorang gadis yang bernama Tyas Swandani. Dia mencantumkan buku pertamaku, sebagai buku no 1 yang difavoritkannya. Ah, betapa bahagia dan gembiranya aku. Kegembiraan yang bercampur rasa penasaran (maklum, buku pertama). Aku juga bersyukur mengetahui bahwa ada yang menanggapinya secara positif. Rasa itu sungguh indah, dan tak bisa tergantikan dengan apa pun. (Itulah kebahagiaan seorang penulis pemula)

Kemudian, kucoba berinteraksi dengannya. Sekali, dua kali, tiga kali, tapi, sayangnya, tak ada tanggapan sedikitpun. Setiap ada kesempatan, ku akses friendsternya itu. Tak ada perubahan sama sekali. Persis ketika pertama kali kubuka. Tak ada perkembangan baru, bahkan kusempatkan untuk mengirimnya email, namun tak juga ada jawaban. Aku berpikir, “Kemanakah sigadis ini? Jangan-jangan dia sudah mencapai tahap “tenang” yang abadi seperti yang sempat kurasakan setahun yang lalu?” Yah, bisa saja! Tak ada yang tak mungkin. Semuanya bisa saja terjadi.

Kalau memang dia sudah tiada dan sudah bersentuhan dengan “keabadian”, seperti yang hampir kualami, perkenankan aku menuturkan, “Selamat jalan teman, terimakasih telah memberi ruh pada kata-kata yang telah aku rangkaikan di buku itu! Terimakasih sudah membaca pikiranku! Terimakasih atas apresiasimu! Terimakasih sudah menjadi pembaca buah pikiranku! Terimakasih untuk waktumu bercengkerama dengan kata-kata sederhanaku! Terimakasih! Best wishes!!

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP