Pembelajaran Dari Dasyatnya Musim Dingin di Dataran Tiongkok

        Pembelajaran itu terjadi tatkala kami (saya dan siswaku), melakukan perjalanan tour ke Shanghai & Hangzhoe di China pada beberapa saat yang baru lalu. Sungguh banyak poin-poin penting secara pribadi kupetik dari perjalanan ini. Bagaimana kita menaklukkan diri sendiri untuk berangkulan dengan sebuah keperkasaan alam. Bagaimana kita menikmati segala yg diberikan oleh Tuhan dengan rasa syukur yang berlimpah. Bagaimana kita bersahabat dengan alam yang tak ramah!

       Mungkin bagi orang tertentu suhu -7oC itu tidak terlalu menyiksa, tapi tentu saja tidak banyak, bahkan penduduk asli di sana pun, ciut berhadapan dengan cuaca dingin seperti ini, terlihat mereka berhenti di pinggir2 jalan, menggigil kendati dengan baju tebal yang berlapis-lapis membalut tubuh mereka.

Pembelajaran itu terjadi di hari kedua perjalanan kami. Kala itu, kami melihat Shanghai (kota terbesar di dataran Tiongkok) dan Hangzhou (yang merupakan kota terindah di sini). Konon kalau ada surga di langit, maka ada Hangzhou di Bumi.


Untuk mempersingkat cerita, saya langsung saja memaparkan apa yang terjadi di hari kedua itu. Sebuah momen yang tak ternilai bagiku, dan mudah2an bagi Anda juga. Setelah kelelahan perjalanan menuju Shanghai dari Palembang dan transit di Singapore di hari pertama. Berangkat dari Palembang pada tgl 6, jam 2.00, transit di Singapore, beberapa jam, dan terbang ke Shanghai melalui Changi airport, jam 00.55 waktu setempat dan sampai di Shanghai jam 05.55 keesokan harinya.


Sesampai di Shanghai, makan pagi di lokal restoran dan langsung melanjutkan perjalanan ke Hangzhou. Di Hangzhou, kami ke Pagoda Leifeng, Kuburan Yue Fei (seorang pahlawan China), Taman Hua Gang, West Lake dan menyaksikan Museum Teh Nasional, atau yang popular disebut Longjin Tea.


Suhu saat itu sangat dingin, mencapai -2oC. Setelah acara city tour itu, kami balik ke Hotel Ji Jiang, Hongzhou. Dan rencananya mau beristirahat saja, sambil makan malam di tempat yang hangat, karena perjalanan memang sudah sangat melelahkan (salah satu dari kami masuk angin dan muntah2, karena lelah dan cuaca yang dingin).

Saya naik ke lantai 16 untuk membawa barang-barang saya ke kamar (1612) dan juga untuk beristirahat dan mandi, karena memang dari hari pertama sampai saat itu saya belum sempat mandi, apa lagi merasakan betapa empuknya kasur hotel yang indah ini. Setelah bersih2 tubuh selesai, saya dan satu teman, turun ke bawah untuk makan malam sebagaimana yang telah disepakati sebelumnya.


Waktu itu saya hanya mengenakan baju kemeja lengan pendek biasa, ditutup oleh jaket kain biasa (untuk daerah tropis), maklum rencana makannya di hotel saja (paling tidak, itu yang saya tahu). Dan seperti biasa hotel cukup hangat karena ada heaternya yang berfungsi dengan baik.

Sesampai di lantai bawah, ternyata teman-teman sudah menunggu aku dan temanku selama 20 menit di bis yang siap membawa kami menuju lokasi pertunjukkan opera kolosal, yang diselenggarakan dalam rangka merayakan The Spring Festival.

Aku sempat terpana dan sedikit shock. Teman2 dan pak Sopir sudah siap-siap berangkat. Tak ada waktu lagi untuk mengganti pakaian yang kukenakan. Dan memang aku tidak mau menjadi perusak acara (membiarkan teman-teman menunggu lagi, karena aku hendak mengganti pakaianku) Juga karena ada perasaan segan, terhadap tour leader, yang sudah bersusah payah mengajakku dan membiayaiku kesana. Ya, aku tak ingin mengecewakannya, bisik hatiku.


Akhirnya berangkatlah kami menuju tempat diselenggarakannya acara itu. Sesampainya di sana, kami semua keluar dari bus. Aku pun, memaksakan diri ikut keluar, cuacanya sangat dingin, bahkan jauh lebih dingin dari waktu sorenya. Suhu sudah mencapai kisaran -7oC.

Pertama-tama aku merasa tak sanggup, namun karena rasa tak ingin mengecewakan kelompok, lebih besar dari pada rasa takutku (terhadap cuaca dingin), akhirnya aku terus melangkahkan kaki, menuju tempat pertunjukkan. Ternyata tempat operanya pun tetap sama suhunya. Seven degrees centigrade below zero!!!

Aku duduk tepat di belakang tour leader. Aku berusaha untuk mengatasi rasa dingin yang luarbiasa. Yang seperti menusuk-nusuk pori2 dan sampai ke tulangku. Tiba2 kakiku mulai terasa membeku. Aku terus berpikir dan mencari cara bagaimana menang dan keluar hidup-hidup dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini.


Aku terbiasa dengan “kehangatan” dalam arti yang sebenarnya dalam kehidupan keseharianku. Bahkan aku tak terbiasa tidur dengan AC. Walau panas sekali pun, kalau tidur aku selalu menggunakan selimut, kalau tidak desiran angin (yang meski pun angin hangat) akan mengganggu kenyamananku.


Sekarang aku harus menghadapi suhu yang tidak hanya dingin, namun mampu membekukan air yang ada di sekelilingku. Aku terus menenangkan diri, dan kupaksa pikiranku untuk mencari cara mengatasi alam yang menyambutku dengan ketidakramahannya.


Tiba2 aku ingat, ada sebuah buku yang pernah kubaca, yang di salah satu kalimatnya di katakan, “Kita bisa membuat surga atau neraka di dalam pikiran kita. Kita bisa merasa sunyi dikeramaian, dan bisa juga merasa ramai dikesunyian. Semuanya bermula dari pikiran kita!” Nah, inilah saatnya aku membuktikannya, bisik hatiku.


Bagaimana caranya?? Kemudian aku bertanya sendiri. Yah, aku harus menyiagakan otakku. Jantungku harus terus menyuplai oksigen yang cukup ke pusat pikirku, agar otakku mampu secara maksimal mengendalikan semua organ-organ di sekujur tubuhku dengan sempurna.


Aku harus duduk dengan tegap agar tulang belakangku mampu secara lebih efektif bekerjasama dengan batang otak, limbic, dan neokorteksku, sehingga rasa nyaman akan menyelimuti perasaanku. Lalu aku harus meyakinkan diriku dengan berkata ke diri sendiri, bahwa rasa dingin ini sangat nikmat. Bahkan kenikmatan yang tak bisa aku dapati di tempat di mana aku dilahirkan.


Aku terus membatin. Aku terus mengingatkan diriku, "Wow, ini nikmat sekali, dingin ini membelai dan mengelus2 diriku dengan rasa sayangnya yang luar biasa!!! Ohhh… Thanks. It’s so wonderful!!” Aku terus, membatinkan ini ke diriku. Terus, terus dan terus..


Beberapa menit kemudian tiba2, aku benar2 merasakan kenyamanan itu!!! Kenyamanan yang tak dirasakan oleh teman2ku dengan baju musim dingin mereka yang tebal dan mahal!! Aku lihat mereka menggigil. Sambil sesekali menggoyang-goyangkan badan mereka untuk menghalau rasa dingin dari tubuh mereka. Terlihat sekali betapa cuaca menganggu mereka.

Setelah beberapa saat, usailah opera kolosal yang menakjubkan dengan kemasan yang luar biasa modern itu, kami semua keluar dari arena pertunjukkan. Teman2, berlari2 kedinginan, di sana-sini terlihat gundukan air yang mebeku menghalangi jalan. Saya lihat penduduk asli pun berdiri dipinggir jalan dan gemetar. Terlihat, wajah2 pucat karena cuaca dingin yang sangat luar biasa terpancar dari setiap wajah orang-orang yang kutemui.


Aku terheran-heran melihat keadaan ini. Kenapa aku merasa biasa saja, bahkan terlintas getar-getar nikmat yang aneh yang menyelimuti diri dan tubuhku, meski dengan pakaian ala kadarnya. Aku tak tahu kenikmatan jenis apa itu. Sebuah jenis rasa nikmat yang tak kukenal sebelumnya.


Aku dekati teman2ku yang tengah kedinginan menunggu bis kami yang entah di mana. Aku sapa mereka. Aku kuatkan hati mereka. Karena mereka seperti tak tahan menanggung rasa dingin itu. Aku peluk mereka yang gemetar. Aku alirkan suhu tubuhku yang terasa hangat, meski dengan baju tipis yang aku pakai.


Orang-orang
China
, melihatku dengan perasaan aneh. Aku pun bahkan merasa aneh terhadap diriku sendiri. Tapi aku sadar, itu semua karena aku memegang tali komando terhadap pikiran dan hatiku. Aku tidak menyangkal apa lagi menolak rasa dingin itu, alih-alih aku menganggapnya sebagai teman baik yang membalur tubuhku dengan cinta dan kelembutannya.

Aku merasakan sebuah “kehangatan” dari keramahtamahan alam menyambut keberadaanku ditengah2nya. Aku merasa alam di luar diriku, dan alam di dalam diriku sedang mengalunkan sebuah orkestrasi yang harmony. Aku terpana dengan senandung yang dilantunkannya. God!! It’s great!! Lalu, mobil kami pun tiba!!

Sampai di hotel, teman-temanku merasakan keanehan itu. Mungkin tak sedikit di antara mereka berpikir aku memiliki ilmu kanuragan! Ya, mungkin saja! Padahal, sungguh, itu tak lebih karena pertolongan dari pengetahuan ilmiah melalui buku2 yang aku baca. Tak lebih!! Ya, tak lebih!!
Tuhan terimakasih, kau ciptakan aku sebagai manusia, bukan makhlukmu yang lain. Karena manusia, sungguh menakjubkan, tak heran bila Engkau perintahkan makhluk2mu termasuk malaikat untuk merunduk dan memberi hormat, tatkala Adam, manusia pertama Engkau ciptakan!!


    Ya, kita ini, luar biasa, kawan!! Sudah banyak yang membuktikannya! Ada komentar??

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP