SDM & Kualitas Bangsa

Menurut Wikipedia Indonesia (ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia), Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Untuk alasan inilah ranah ini sangat penting dibahas, karena berbanding lurus dengan mutu hidup diri pribadi setiap orang, yang secara hakikat memiliki potensi yang siap dimunculkan, untuk kemudian mampu meraih fitrahnya sebagai homo homini socius (makhluk sosial), dan fleksibilitasnya yang menakjubkan dalam beradaptasi dan mentransformasi dirinya kearah yang lebih baik, sehingga menjadi pilar penting dalam mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan menjadi rahmatan, baik bagi diri pribadinya, keluarganya, maupun komunitasnya, dan tentu saja, bangsanya pada lingkup yang lebih luas.

Pada tataran organisasi kepemerintahan baik pemerintah pusat, daerah mau pun kota, sampai ke unit yang terkecilnya, human resources yang berkualitas akan menjadi vehicle dalam memanifestasi keberhasilan dan pencapaian (achievement) di semua sektornya. Ini akan menjadi sebuah kekuatan dalam upaya mewujudkan rencana strategis yang akan dideliver.

Oleh karenanya sebuah kesadaran total (total awareness) akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi (life skill dan technical skill) dalam upaya meningkatkan taraf dan kualitas diri dan kehidupan di segala sendinya – baik dalam sendi ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, keamanan, bahkan intensitas kebahagiaan kita sebagai insan yang berhati nurani, bermartabat, dan berakal budi – harus menjadi semacam keniscayaan.

Yang pada gilirannya, kesadaran total ini akan membentuk sebuah kekuatan kumulatif yang akan membawa sebuah provinsi pada mutu dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik dan membesarkan hati.

Mari kita berdiskusi tentang hal ini pada skala yang lebih besar lagi, lingkup nasional. Mudah-mudahan ‘sekelumit opini sederhana ini’ dapat menjadi bahan kita untuk berkontemplasi dan introspeksi diri. Anda setuju?

Are You Above The Line?
Pada tataran sebuah bangsa, memang masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus kita kerjakan berkaitan dengan kualitas SDM ini, bahkan berdasarkan laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun 2003, Indonesia menduduki rangking 112 dari 175 negara. Di dalam daftar ini negeri kita tercinta ini di bawah Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31), bahkan kita dikalahkan oleh Vietnam (109), negara yang baru saja lepas dari konflik politik dan keamanan.

Ini betul-betul ‘warning’ bagi kita untuk bangkit dan memacu diri agar memiliki competitive advantage (keunggulan bersaing) dalam era globalisasi. Era yang imbasnya mulai merambah dan sudah terasa sampai ke banyak aspek kehidupan keseharian kita, sehingga diharapkan kita mampu berjalan berdampingan dengan bangsa-bangsa lain dalam sebuah kesetaraan, egalitarian, tidak menjadi sekedar followers.

Ah, kita bisa, asal kita benar-benar arif menyikapi duduk persoalan yang menyangkut human capital ini. Berfokus pada solusi, dan mengambil langkah recovery yang tepat, akurat dan tak setengah-tengah, bertanggung jawab terhadap langkah yang diambil, dan yakin bahwa kita adalah penguasa nasib kita. Yes, we are a captain of our own vessels. We are a master of our own destiny!

Inilah, menurut para cendikiawan, characteristic seseorang yang menjalani hidup above the line (hidup di atas rata-rata). Pernah dengar? Orang type ‘above the line’ ini TIDAK mencari-cari alasan (excuses) untuk menutup-nutupi kekurangannya, atau menyalahkan (blame) pihak luar terhadap keterpurukkan yang menimpanya, atau menyangkal (denial) permasalahan yang sedang merundungnya dan pura-pura tidak ada.

Mereka SADAR bahwa excuses, blame dan denial adalah sikap mental seorang pecundang (the loser), orang yang melakoni hidupnya di bawah garis (below the line), dan ujung-ujungnya tak akan pernah sampai kemana-mana, selain menyongsong takdirnya yaitu menjadi beban (tangan di bawah) dan objek penderita (orang suruhan) pada setiap interaksi sosial. Termasuk yang manakah kita? Are we above or below the line?

Kualitas Bangsa dan Minat Baca
Tidak usah jauh-jauh mengurai mutu human resources ini, mari kita batasi dengan minat baca saja dulu. Ini penting, karena tinggi rendahnya kualitas SDM sebuah bangsa dilihat dari tingkat minat bacanya. Sebuah komunitas yang cinta membaca, mutu kehidupan mereka akan jauh lebih baik dibanding komunitas yang tidak suka membaca. Otomatis pada social stratum yang lebih besar, sebuah negara yang rakyatnya suka membaca (reading society), akan lebih berkualitas dibanding negara yang tidak suka membaca.

Ada teman yang berseloroh bahwa perbedaan antara bangsa yang rakyatnya suka membaca, dan bangsa yang tidak suka membaca, tak ubahnya seperti majikan dan pembantunya. Siapa yang menjadi majikan? Dan siapa yang menjadi pembantu? Tentu kita sudah sama-sama tahu.

Ada juga sahabat yang mengumpamakan kedua kutub ini (komunitas yang suka dan yang tidak suka membaca), ibarat penggembala dan dombanya. Sekali lagi pertanyaannya adalah, “Siapa penggembala, dan siapa yang menjadi domba?” Untuk menjawabnya, mari kita telusuri fakta-fakta di bawah ini. Are we ready?

Jepang dan Budaya membaca
Kita tahu, betapa Jepang begitu luar biasa dalam budaya membacanya. Di mana pun mereka berada, di airport, taman, bus, subway, atau di ruang-ruang tunggu ketika sedang beraktivitas, pasti mereka sedang disibukkan dengan kegiatan membacanya. Kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan, tekhnologi dan informasi patut diteladani.

Ini parameter betapa sadarnya mereka tentang pentingnya membaca bagi sebuah bangsa. Tak ayal kita bisa lihat betapa Jepang hebatnya luar biasa saat ini. Karena tingkat intelektualitas mereka lebih unggul dan merata. Pemerataan SDM yang berkualitas ini menyebabkan negeri mereka, tidak hanya independent, tapi juga memiliki etos dan kultur kerja yang luar biasa.

Mereka tidak banyak menggantungkan kehidupan mereka ke bangsa-bangsa lain. Justru banyak bangsa-bangsa lain di dunia yang meminta mereka untuk menjadi “penggembala”, hampir di segala aspek kehidupan, dari infrastruktur, kendaraan, sampai produk-produk seperti komputer, game, kosmetik, telepon seluler, bahkan komik untuk anak-anak.

Kita dan banyak negara-negara lain di Asia dan Afrika, benar-benar ikhlas menjadi ‘domba’ yang di giring ke sana kemari – dengan produk-produk mereka yang seperti ‘rumput hijau yang lezat’ – bukan hanya oleh Jepang, tapi juga oleh banyak bangsa-bangsa maju di Eropa dan Amerika. Ah, bangkitlah negeriku! Bangkitlah persadaku! Bangkitlah anak-anak bangsaku! … ♫♪Indonesia Raya!.....♫♪♫ Merdeka!! Merdeka!!...♪♫♫Tanahku, negeriku yang kucinta!!!!...♪♫

Persada ini, provinsi nan permai ini, dan Palembang khususnya, bisa merefleksi Jepang atau negara-negara lain yang lebih maju, dalam kecintaan membaca, kalau memang kita ingin berdiri berjajar dengan mereka dan mau go international. Karena memang hidup yang sebentar ini, tak lain hakikatnya adalah proses belajar tanpa henti. Inilah core dari hidup. Never-ending Improvement (perbaikan tanpa henti), agar eksistensi kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Inilah fitrah kita. Fitrah manusia. Hakikat keberadaan kita di planet ini.

Menurut laporan terbaru dari beberapa organisasi dunia bahwa Indonesia (negeri yang berpenduduk terbesar ke-4 di dunia, setelah China, India, dan AS) menempati urutan ke 39 dalam hal minat bacanya di antara 41 negara yang diteliti. Berarti cuma ada 2 negara berada di bawah kita. Hanya 2 negara saja.

Ini fakta yang harusnya membuat kita terlecut untuk meningkatkan reading habit kita. Karena memang dari membacalah, kita bisa membawa negeri ini, terutama bumi ‘para raja dan sultan’ ini, ke masa depan yang lebih baik. Kekehidupan yang lebih kaya dan berkualitas.

Saya setuju dengan kata-kata Mas Tantowi Yahya, duta baca Indonesia, yang juga putera daerah Palembang. Dia berpesan begini, “Orang yang tidak pernah membaca adalah orang yang tidak banyak tahu, orang yang tidak banyak tahu sangat dekat dengan kebodohan, dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.” Sejalan dengan ini ada juga peribahasa China yang kira-kira artinya, “Dengan membaca orang miskin menjadi kaya, dengan membaca pulalah orang kaya menjadi anggun.” Bagaimana? Anda juga setuju?

Jadi baca saja semua hal yang baik dan bermanfaat, dan niscaya hidup dan kualitas kehidupan kita pun akan mulai bermetamorfosa ke arah yang jauh lebih baik, jauh lebih berguna dan berfaedah, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sesama, menjadi rahmat bagi semesta, rahmatan lil alamin. Bukankah demikian?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP