Johanes

BAB. I. MY FIRST BORN

Johanes Agus Taruna. Pernahkah Anda mendengar nama saya? Tentu saja Ada yang sudah pernah, bahkan akrab, atau bisa saja pernah berhubungan, baik langsung mau pun tidak langsung dalam kehidupan saya. Sebagian lain mungkin belum mendengar sama sekali. Atau sempat terdengar sayup-sayup sampai saja. Yah, tak apa-apa, melalui buku ini mungkin kita akan berkenalan lebih jauh, lebih banyak dan lebih dalam lagi.
Saya berharap perjalanan hidup saya ini bisa menjadi catatan tersediri, baik bagi diri saya pribadi, syukur-syukur kalau bisa menginspirasi Anda semua. Tak ada maksud lain dari kehadiran buku ini, ditengah-tengah Anda, selain saling berbagi pengalaman. Bukankah pengalaman adalah guru yang terhebat, yang darinya banyak sekali butir-butir pembelajaran yang bisa kita petik, sehingga hidup kita menjadi lebih berwarna, kaya dan yang pasti lebih arif. Bukankah begitu?
Pengalaman, tentu saja, tak harus kita petik dari perjalanan hidup kita sendiri, namun kita juga dapat berkaca dari pengalaman orang lain. Sehingga pembelajaran yang dilakukan oleh orang lain di dalam hidupnya, menjadi semacam refrensi yang bisa kita pergunakan untuk menapaki jalan-jalan kehidupan pribadi kita agar hidup yang hanya sekali menjadi lebih berarti. Anda setuju? Mudah-mudahan setuju ya?
Banyak suka-duka yang telah saya alami sejauh ini. Ada yang sempat membuat saya tersenyum. Ada yang membuat saya tertawa bahagia. Ada yang membuat saya terdiam, merenung, dan mawas diri, bahkan ada yang sampai membuat air mata ini menetes di pipi, mengalir deras dari sungai kedukaan yang sangat dalam. Ya, itulah kehidupan. Itulah kenyataan yang telah saya lalui sejauh ini. Semuanya terangkai indah dalam perjalanan diri ini dari awal kehidupan saya sebagai anak manusia sampai dengan saat ini.
Perjalanan ini saya abadikan melalui biografi sederhana ini. Sehingga suatu saat saya dapat kembali lagi ke sini melihat apa yang telah saya lakukan, katakan dan pikirkan, agar waktu-waktu yang berharga ini tidak hilang begitu saja, tidak terlupakan bersama berlalunya waktu.
Menulis apa pun tentu saja berguna, karena itu adalah satu-satunya cara yang termudah untuk kembali ke masa lalu. Oleh karenanya perkenankanlah saya menuliskanya dengan “tinta-tinta emas” apa-apa yang menjadi cita-citaku, mimpi dan obsesiku. Semua ini akan aku bagi ke Anda agar terjadi sharing yang mudah-mudahan bisa memperkaya khasanah berpikir dan hidup kita. Semoga demikian.
Kehidupan saya dimulai tatkala ayam berkokok  di subuh Jum’at yang tenang, 9 Agustus 1974, di kota yang sangat terkenal dengan panganan khasnya, Palembang, Sumatera Selatan Indonesia. Bapak dan Ibu tersenyum gembira melihat anak sulungnya lahir dalam keadaan sehat-sehat saja. Ah, terima kasih Tuhan, demikian bisik Bapak di dalam hatinya.
Subuh itu Palembang bertambah satu lagi warganya! Ya, bertambah satu lagi yaitu saya, Johanes Agus Taruna.

.....

II. TERLAHIR KEMBALI
Pada sekitar Mei 1995, ketika saya masih kuliah Semester 5 di Fakultas MIPA jurusan Matematika, Universitas Sriwijaya, ada sebuah kejadian yang luarbiasa. Kejadian yang membangunkan aku dari tidur panjangku yang hampir 21 tahun. Pada awalnya aku menganggap itu petaka, namun belakangan aku menyadari bahywa itulah cara Tuhan membangunku dari kehidupanku yang berada di zona abu-abu, di zona yang tak jelas.
Peristiwa itu adalah ketika Bapakku mengalami kecelakaan tabrak lari. Kecelakaan itu sangat tragis yang menyebabkan Bapakku luka parah. Darah keluar dari seluruh panca indranya, matanya, hidungnya dan telinganya. Bapak mengalami apa yang di dunia kedokteran di sebut….., gegar otak! Beliau koma, koma untu waktu yang bukan hanya satu atau dua hari, tapi selama dua minggu!
Kami semua tak dapat menahan rasa cemas. Kami takut kehilangan Bapak. Bapak adalah satu-satunya tumpuan harapan kami. Satu-satunya sumber nafkah utama dadalam keluarga. Dan beliau sekarang berbaring lemah, pingsan, dan tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Komunikasi tidak terjadi. Aku menjerit dalam hati. Aku tak tahu apa yang dirasakan oleh Ibu dan adik-adikku, mereka sama terpukulnya dengaku.
 Bapak dirawat di rumah sakit Charitas Palembang, kendati waktu itu kehidupan kami jauh dari berkecukupan, tapi kami tetap ingin memberikan perawatan yang terbaik untuk Bapak, apa pun yang harus dipertaruhkan. Karena kami sadar entah bagaimana kami, bila sosok Bapak ini tak bisa diselamatkan.
Keluarga besar kami sudah berkumpul. Kemudian saudara-saudara pihak Bapak memanggil kami. Lalu mereka berkata dengan dingin kepada kami, “Kamu semua nanti kalau Bapakmu tak bisa bertahan hidup, jangan sering minta-minta tolong ya..” Ibu yang memang sudah tak kuat, tak mampu lagi memendung tangisnya. Batinnya yang sudah terluka mendapat musibah ini, lalu ditambah lagi dengan kata-kata dingin, tak bersahabat semakin membuat luka batinnya berdarah. Aku memeluk Ibu, aku juga yang sedang nestapa tak bisa bersikap lain, selain menguatkan hati Ibu. Aku berbisik ke Ibu, “Bu, tak apa-apa Bu, tak apa-apa. Kita tak akan meminta bantuan orang lain. Kita akan berupaya sendiri, dan Tuhan pasti akan membantu kita, Bu!” Aku terus memeluk Ibu, sambil terus berbisik ke Ibu agar Ibu kuat, namun ucapanku itu seperti tak didengarnya dia terus saja menangis dan menangis.
“Aku harus kerja! Aku harus kerja! Aku harus bisa menggantikan fungsi Bapak!” Demikian pikirku. Aku dan adik-adikku harus tetap bersekolah dan meneruskan pendidikannya. Mimpi Bapak agar kami menjadi orang yang berguna harus benar-benar bisa terwujud. Pasti ada jalannya. Tuhan maha bijaksana. Tuhan tahu bahwa kami pasti bisa mengatasi segala cobaan yang ditimpakan pada makhluknya.
Lalu aku mendekati Bapak yang terbaring lemah. Tetap seperti hari-hari sebelumnya, masih tak ada tanda-tanda kehidupan. Lalu aku berbisik, “Pak, sembuh, Pak! Bangun, Pak! Kami semua masih membutuhkan Bapak.” Semburat kesedihan mencekam jiwa mudaku. Air mata tak mampu kubendung lagi. Tes.. tes… tes… ia mulai bercucuran membasahi pipi. Sementara Mama masih saja sesungukkan, tak tahan menanggung perih luka jiwanya. AKu tak bisa menggambarkan betapa hancurnya jiwa belia adik-adikku, yang kala itu masih berumur belasan.
Syukurlah, setelah dua minggu Bapak akhirnya terbangun dari tidur panjangnya. Sepertinya beliau tak rela meninggalkan tanggung-jawabnya yang belum dituntaskan. Kami keluarganya. Sepertinya dia mendengar betapa kecutnya hati-hati kami tatkala saudara-saudaranya menyruh kami untuk tidak minta-minta bantuan mereka. Ia tak mau melihat kami tak berdaya merajut nasib yang kerap tak bersahabat!
Bapak sembuh, meski tetap sisa penyakitnya mempengaruhi raganya. Dia tak mampu lagi bekerja seperti biasanya. Dia tak lagi se-enerjik dulu. Kami juga tak mau memaksanya untuk bekerja keras. Ini waktu bagiku. Ini saatnya aku yang harus berdiri di atas kakiku dan membantu Bapak. Bapak harus banyak istirahat.
Otak mudaku terus kukerahkan agar ada jalan untuk menambah penghasilan keluarga. Agar kebutuhan bisa terpenuhi. Agar kehidupan yang memprihatinkan selama ini bisa teratasi.
Sungguh, tak ada lagi yang bisa diharapkan, selain kerja keras, dan kerja keras agar kehidupan menjadi lebih ramah. Hidup ini akan keras bila kita berjiwa lemah. Sebaliknya hidup ini akan melemah bila kita mengeraskan jiwa kita untuk menjadikan hidup tak hanya baik, tapi menjadi lebih berarti. Ya, lebih berarti! Berarti tak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi Bapak, bagi Ibu, bagi adik-adik dan bagi sesama.
Aku tak bisa berdiam diri. Masa lalu, biarlah menjadi masa lalu.Hari-hari yang tak jelas sebelumnya harus disudahi. Kehidupan yang abu-abu dan tak menentu yang kurasa sejak aku dilahirkan sampai usiaku 21 tahun harus disudahi. I was born for the second time. Ya, Aku terlahir kembali. Tapi kelahiranku yang kedua ini bukan keluar dari rahim ibu, tapi keluar dari kerasnya kenyataan hidup. Hidup yang tak kenal kompromi!
Aku bertekad bulat. Aku harus bangkit, bagaimana pun caranya. Hidup harus punya arti! Jangan pernah menjadi pengemis! Tangan ini tak boleh di bawah. Tak boleh meminta-minta belas kasihan! Jangankan manusia, Tuhan pun tak senang dengan orang yang berjiwa kecil, berhati kerdil! Berjiwa kecilkah aku? Umur boleh kecil tapi jiwa jangan pernah kecil!
Aku terus berpikir dan berpikir. “Baik, aku bekerja apa pun. Yang penting halal dan jujur. Yang penting aku bisa mengisi waktuku secara lebih baik. Yang penting aku mendapat penghasilan!” bisik hatiku. The show must go on! Carpe diem! Ya, hidup harus direbut!
Aku kemudian teringat temanku, Pak Robin. Dia berjualan di pasar Sekanak, tak jauh dari kediamanku. Aku bisa kesana berjalan kaki.  Barangkali aku bisa membantu-bantunya, pikirku.
Aku ikut membantunya berjualan di toko berasnya, seperti menimbang atau mengangkat  beras ke mobil pelanggan. Gajinya tak seberapa. Makan siang ditanggungnya. Yah, cukuplah, yang penting bagiku saat itu aku ada kegiatan. Sambil terus berpikir mencari pekerjaan yang “sebenar”nya.
Pendek cerita mulai hari itu, aku



bekerja membanting tulang. Badanku  yang biasanya kupakai hanya untuk berleha-leha dan menghabiskan waktu, khas mahasiswa kebanyakan, mulai hari itu kupakai untuk memikul berkarung-karung beras… Tak letih-letih badan ini mengangkutnya! Ya, apa pun akan kuangkut asal hidup menjadi lebih berarti! Lebih bermakna tak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan sesama!
Setelah beberapa saat pekerjaan ini aku lakukan, akhirnya aku sampai kepemikiran bahwa untuk apa aku belajar di bangku kuliah kalau tidak bisa aku pakai untuk merubah kehidupanku. Untuk apa aku belajar, kalau hanya menjadi kuli angkut beras di pasar seperti ini. Mengapa tidak ilmu yang aku dapat dari sekolah dan bangku kuliah ini tidak aku manfaatkan untuk mengais rejeki.
Pikiran-pikiran ini terus menerus mengetuk jiwaku. Aku bertanya pasti akan lebih nyaman kalau aku mengajar saja. Bukankah mengajar itu lebih memberdayakan! Kadar kepuasannya pasti luarbiasa dibanding sekadar mengangkat berkarung-karung beras seperti ini. Baik, aku coba ide yang satu ini, Mengajar privat!!
Dengan optimism yang besar, aku memasang iklan di SRIPO, dengan bermodalkan uang tabunganku:
Private datang kerumah utk SMP & SMA, untuk mata pelajaran Matematika, Fisika & Kimia
Hanya beberapa hari berselang tiba-tiba ada ibu-ibu yang menghubungi. Ternyata dia memiliki anak SMP kelas 1, Rivaldo, yang bermasalah dalam belajar. Nilai-nilai di sekolahnya hampir semuanya merah, yang biru hanya Agama dan Penjas. Ia telah dinyatakan, tidak akan naik kelas pada tahun ajaran itu. “Wah, siswa privat pertama sekaligus juga terberat!!” Pikirku. Tapi aku tak mundur. Aku memang tidak ada pilihan lain, selain ambil kesempatan pertama ini atau tetap bekerja sebagai pekerja kasar di pasar.
 Aku akhirnya mencoba melihat anak ini sebagai tantangan. Bukankah semakin besar tantangan yang kita hadapi semakin besar pula pengalaman dan pembelajaran hidup yang akan kita peroleh? Pikirku. Namun meski pun begitu jauh di lubuk hatiku ada perasaan takut juga. Aku sadar bahwa kalau aku tak berhasil membimbing anak ini, sehingga dia naik kelas, berarti aku gagal total di profesiku yang baru saja hendak aku tekuni ini!
Setiap habis kuliah, aku pulang, mandi, makan langsung bergegas menuju siswa privatku. Hari-hari pertama, aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya mencari akar permasalahan sehingga anak ini kehilangan semangat belajar yang berdampak pada anjloknya nilai-nilai rapornya di sekolah, dan hampir bisa dipastikan ia tak akan …

 Aku terus berupaya melakukan pendekatan dengannya secara pribadi. Beberapa hari itu kami hanya berdiskusi. Akhirnya aku tahu bahwa masalahnya adalah karena dia merasa tak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya. Dia menganggap orangtuanya hanya mementingkan usahanya, mementingkan tokonya. Keberadaannya, sebagai anak tak dianggap sama sekali. Bahkan menurutnya papa dan mamanya lebih ingat harga-harga barang jualannya daripada tanggal lahirnya, yang mudah sekalil di ingat!
Kekecewaan ini merupakan pemicu utama gairah belajar anaknya. Hal yang sebenarnya mudah, tapi sangat penting dalam kehidupan dan perkembangan jiwa sang anak. Aku sempat tertegun mendengar ceritanya ini.
Ini harus aku netralisasi apabila aku mau berhasil mengatasi tantangan yang bukan main hebatnya. Aku berkeyakinan pada dasarnya setiap anak itu cerdas. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencari tahu mengapa anak tersebut kehilangan gairah dalam belajar, sehingga terjadi demotivasi yang berujung pada anjloknya nilai-nilai rapornya.


dimana letak kecerdasan utama anak tersebut. Belakangan saya ketahui bahwa ternyata kecerdasan itu ada 9 ragamnya.

---- lanjutin dari sini ----


 Di usiaku yang belum genap 21 tahun itu, aku harus mampu membantu Bapak yang tak bisa bekerja maksimal lagi untuk meneruskan roda perekonomian keluarga. Lalu aku mencari cara agar paling tidak aku punya penghasilan sendiri agar uangnya bisa kupakai untuk membayar biaya-biaya pendidikanku dan adik-adikku.
Ketika masih kuliah seme aku sebenarnya sudah bekerja, kendati pekerjaanku hanyalah mengajar private anak SMP dan SMA untuk mata pelajaran MIPA dari rumah ke rumah. Himpitan kehidupan menyebabkan saya harus seperti ini, kalau tidak entah darimana saya harus mendapat dana untuk kuliah atau keperluan-keperluanku lainnya.


Pada mulanya mengajar bagiku hanya iseng. Tapi kemudian saya mulai merasakan betapa nikmatnya mengajar ini. Saya mulai merasa terpanggil. Ada kepuasan yang luar biasa tatkala aku melihat siswa-siswa dibawah bimbinganku berhasil. Ada kebanggaan yang rasanya tak dapat aku gantikan dengan apa pun.
Pernah suatu ketika aku mendapatkan siswa yang nilai di sekolahnya anjlok, bahkan dia dikategorikan sebagai anak yang tak cakap untuk banyak mata pelajaran di sekolah, alhasil dia berada di peringkat terbawah di antara teman-temannya. Lalu orang tuanya memanggilku untuk meningkatkan prestasi belajar anaknya. Akhirnya pendek cerita jadilah aku guru privatnya untuk mata-mata pelajaran yang dia tak mengerti sama sekali.
Aku berkeyakinan bahwa mengajar itu tidak hanya membuat anak dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak bisa menjadi bisa, tapi lebih dari itu. Seorang anak harus mampu kita motivasi agar dia bersemangat belajar. Kita harus mampu menumbuhkan kemauan belajar ini dari dalam dirinya. Dengan demikian dia akan merasakan betapa pentingnya ilmu yang kita ajarkan. Jadi kita memberdayakan tidak hanya otak kirinya, tapi juga otak kanannya.
Saya selalu mengingatkan anak tersebut  untuk terus belajar. Saya tanamkan keyakinan di dalam jiwa anak tersebut agar memiliki kepribadian yang tangguh. Saya tidak hanya mengajar mata pelajaran yang dia tidak bisa tapi juga saya mengajarinya untuk tangguh!

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP