ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

Hutan yang baik tidak tumbuh dengan mudah,
semakin kencang angin di sana,
semakin kuat pohon-pohonnya.
(J. W. Marriot)


Pada postingan kali ini, kita akan membahas mengenai kecerdasan adversitas (adversity quotient). Konon kecerdasan ini berperan penting dalam menuntun kesuksesan seseorang, terlepas profesi apa pun yang sedang ditekuni.

Menurut Paul G. Stoltz, dengan kecerdasan ini kita dapat mengubah hambatan menjadi peluang, karena kecerdasan ini merupakan penentu seberapa jauh kita mampu bertahan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup.

Tapi terus terang, kita akan mengeksplor jenis kecerdasan ini melalui penghayatan dari perjalanan hidup itu sendiri, bukan yang terlahir dari riset para pakar yang berbelit-belit dan kadang terkesan dibombastis, sehingga mengerutkan otot-otot berpikir kita. Mari kita membahasnya dengan cara yang positif, mencerahkan, ringan dan bahasa hati. Tidak perlu menjadi pakar, untuk menulis dan memahami ini. Karena ini adalah milik kita semua, terlepas apa pun latar belakang pendidikan yang kita miliki.

ADVERSITAS HIDUP
Pernahkah Anda merasa hidup begitu menakutkan? Hidup begitu tak menyisakan apa-apa selain rasa cemas yang berlebihan terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi? Uang tinggal sedikit, sementara penghasilan tidak menentu? Kesulitan datang bertubi-tubi mendera jiwa Anda. Pernahkah Anda mengalami ini?

Pernahkah Anda kebingungan sendiri melihat semua hal seperti tak sesuai dengan yang Anda rencanakan? Semuanya seperti meleset dari rencana? Kelam seperti menyelimuti kehidupan Anda? Dingin seakan membekukan kalbu Anda? Kala segalanya seperti tak berpihak? Anda seperti tengah terhimpit di dasar kehidupan Anda? Roda kehidupan Anda tengah melindas diri dan jiwa Anda? Anda tak punya pilihan? Pernahkah Anda merasa seperti ini? Atau saat ini justru perasaan seperti itu yang tengah Anda rasakan?

TANYA JIWA
Calm down, my friend! Itulah adversitas (kesulitan) yang sangat akrab dengan hidup! Semakin tinggi tingkat kesulitan yang sedang kita hadapi, semakin besar pelajaran yang bisa dicermati. Sejalan dengan ini John Gray, berkata, “Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh.”

Yang perlu dilakukan hanyalah satu, perkuat fighting spirit Anda! Teruslah melangkah menuruti kata hati Anda. Tetapkan jiwa Anda untuk selalu fokus pada berkah dan kemuliaan hidup. Lumuri kalbu Anda dengan segala kebaikan. Ingat, pasti masih banyak rahmat yang patut kita syukuri. Sekarang perkenankan saya bertanya ke jiwa Anda. (Berikan tanda √ pada setiap pertanyaan).
• Apakah Anda masih bebas menghirup oksigen?
• Apakah Anda masih bisa melihat?
• Apakah Anda masih bisa mendengar?
• Apakah Anda masih bisa membaca?
• Apakah Anda masih bisa berjalan?
• Apakah Anda masih bisa tersenyum?
• Apakah Anda masih sehat?
• Apakah Anda masih bisa makan?
• Apakah Anda masih memiliki seseorang yang Anda cintai?

Apabila sebagian besar pertamyaan itu Anda conteng, “Selamat!” Karena masih banyak yang lain yang tak seberuntung kita. Tersenyumlah dan bergembiralah pada segala karunia hari ini. Tidakkah matahari masih bersinar? Tidakkah burung-burung masih berkicau? Tidakkah kita masih bebas menikmati segala rahmat dari alam? Inilah core dari sebuah kecerdasan mengungguli rintangan hidup. Sebuah kebulatan hati untuk terus mendaki, meski tapak kaki bak tersayat belati!

Inilah kecerdasan yang harus kita miliki agar kita mampu mengubah kesulitan menjadi sebuah tantangan, dan hidup ini akan menjadi lebih berkualitas. Senada dengan ini Mihalyi Csikzentmihaly menulis, “Dari semua sifat yang bisa kita pelajari, tidak ada watak yang lebih bermanfaat, lebih penting bagi kelangsungan hidup, dan lebih besar kemungkinannya untuk memperbaiki mutu kehidupan, daripada kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan yang menyenangkan.”

REJOICE BECAUSE THORNS HAVE ROSES
Kita mengalami kesulitan? Sekali lagi, bersyukurlah! Itu berarti kita diberi kesempatan untuk mengasah kembali kepekaan, ketajaman dan kecerdasan kita. Bukankah kita survive sampai saat ini, salah satunya disebabkan karena kita telah menghadapi banyak sekali tantangan hidup di masa lalu? Terimalah segala corak hidup yang datang menghampiri kita dengan penuh keikhlasan.

Berbahagialah! Hidup adalah masalah pilihan, life is just a matter of choices! Apa pun yang terjadi di luar diri kita tidak akan melunturkan semangat juang dan daya tahan kita, asal kita mampu memaknainya secara tepat. Bila kita mampu melihatnya dari perspektif yang baik dan mencerahkan. Ziggi, bertutur, “You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.” (Anda bisa mengeluh karena mawar ada durinya, atau Anda bisa bergembira karena duri ada mawarnya).

Ingat saja, kehakikian makna ketegaran diri yang merupakan indikator dari kecerdasan adversitas (adversity quotient), justru terletak pada kerelaan kita menerima segala hal dengan lapang dada. Ini adalah langkah pertama kita untuk bangkit dan mendaki gunung-gunung adversitas kita! Sejalan dengan ini Professor William James, seorang Bapak psikologi terapan, berkata, “Be willing to have it so... be willing to have it so, because acceptance of what has happened is the first step in overcoming the consequences of any misfortune.” (Bersedialah menerima apa pun dengan ikhlas, karena penerimaan terhadap apa pun yang terjadi adalah langkah pertama dalam mengatasi akibat dari segala kemalangan).

Pada saat kita mampu merespons segala kepahitan hidup dengan cara yang konstruktif. Dan meyakini bahwa reaksi kita terhadap apa pun yang terjadi, pada prinsipnya ada di bawah kendali kita. Ini akan berefek pada meningkatnya kekebalan tubuh kita terhadap penyakit, karena otak akan mengalirkan hormon-hormon pendorong kesehatan seperti catacholamine, corticosteroid, bersama dengan neurotransmitter-neurotransmitter lainnya dalam kadar yang tepat, ke seluruh tubuh kita.

SEMUA ADA ENDING-NYA
Tegapkan badan! Tatap hidup langsung ke jantungnya. Setiap gelap pasti berakhir. Bukankah di perujung malam selalu ada fajar? Bukankah badai selalu saja berlalu? Bukankah cerita pasti ada ending-nya? Bukankah setiap pertunjukkan pasti akan usai? Bukankah setiap pesta pasti akan bubar? Bukankah setiap pangkal pasti ada akhir? Tidakkah hal-hal ini suatu kebenaran nyata. Tak perlu ada penelitian tentang hal ini. Tak perlu pendapat para pakar untuk mendukung pernyataan ini. Anda dan saya sudah sangat memahaminya. Jadi sesungguhnya tak ada kesulitan yang bersifat permanen. Pemahaman ini merupakan parameter dari seseorang yang tinggi kecerdasan adversitasnya (AQ).

Banyak hal dalam hidup yang tak terelakkan. Suka atau tidak, hal itu akan terjadi. Sebaik apa pun kita, sedahsyat dan seluar biasa apa pun pikiran kita, semulia apa pun hidup yang kita jalani, tetap saja terkadang nestapa akan menghampiri. Bila kita rela menerimanya, maka kebahagiaan pun akan menghias hati dan pikiran kita. Epictetus, berkata, “There is only one way to happiness, and that is to cease worrying about things which are beyond the power of our will.” (Satu-satunya cara untuk bahagia adalah jangan pernah mengkhawatirkan segala hal yang terjadi di luar kemampuan kita).

Ada kata-kata Henry Ford, yang mungkin perlu saya dan Anda renungkan, “When I can’t handle events, I let them handle themselves.” Kata-kata ini hampir mirip dengan ucapan teman konyolku, Bojang, yang dengan gurauan khasnya, dan bahasa tubuh yang theatrical nan memukau, berkatalah dia dengan lantangnya, “Stop! Aku tak ingin lagi memikirkan hidup yang sulit, biarlah hidup, sekarang, yang memikirkanku!” Lalu kami semua tertawa mendengarnya. Ini seperti kalimat cerdas yang keluar dari seorang filusuf, padahal ini keluar dari mulut seseorang yang SD pun tidak tamat.

Keikhlasan kita menerima hal-hal yang tak bisa dihindari memberikan kekuatan pada jiwa untuk dengan tenangnya mengambil langkah-langkah yang bisa membawa kita pada pencapaian yang jauh lebih tinggi. Setelah jiwa kita berpelukan mesra dengan adversitas (kesulitan) maka kejernihan akan mengalirkan segala kedamaian. Kita kemudian menjadi pengontrol dari respons kita terhadap setiap aral yang merintang di jalan kita. Ini pada gilirannya akan berpengaruh positif dan menyehatkan tidak hanya bagi jiwa tapi juga raga kita. Kita akan menjadi raja atas hati kita. Kita adalah penguasa atas perasaan Kita!

(Diambil dari The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers by Dani Ronnie M)

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP