UPS AND DOWNS Seorang Guru (Bag 2)

MENDUNG ITU MENGHAMPIRIKU

Setelah beberapa bulan mengikuti training di Lembaga Bahasa Inggris yang berskala nasional ini, akhirnya mulailah aku mengajar di depan siswa-siswaku. Aku diberi kesempatan untuk mengajar tidak hanya anak-anak tapi juga remaja dan orang dewasa. Bukan hanya kelas di dalam (general classes), tapi juga aku sering di kirim ke perusahaan-perusahaan (in-company training)

Aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk siswaku, by hook or by crook!

Karena tingkat mobilitasku yang tinggi, berangsur-angsur kondisi tubuhku pun mulai menurun. Staminaku mulai kedododoran. Aku menikmati pada waktu mengajar pagi, namun pada malam hari, aku mulai capek dan loyo, sehingga kualitas mengajarku pun tak memuaskan. Setiap mengajar aku aktif. Aku terbiasa untuk tidak duduk. Bagiku guru adalah pelayan. Pelayan yang melayani siswa sebaik-baiknya.

Suatu hari aku ingat sewaktu aku masih mengajar di keluarga Kanada-Thailand yang kuceritakan di postingan sebelumnya. Aku pernah juga merasakan capek, dan waktu itu mereka memberiku "minuman" yang katanya bisa memulihkan tenagaku. Aku minum sedikit, dan memang khasiatnya luar biasa.

Aku coba cari minuman itu. Ternyata tersedia di banyak toko. Setiap mengajar aku selalu meminumnya. Pada awalnya kadarnya hanya seperempat botol saja, dan staminaku memang terasa prima bahkan untuk satu hari beraktivitas.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku menjadi terbiasa meminumnya, dan aku merasa caraku mengajar pun semakin baik. Setelah satu tahun aku merasakan khasiatnya mulai berkurang, sehingga aku harus menambah kadarnya.

Sampai suatu saat, untuk mengajar satu kelas, aku harus meminum satu botol. Karena malu dilihat teman, akhirnya saya membeli beberapa botol di rumah dan dikemas ke dalam kantong plastik. Saya meminumnya di toilet, beberapa menit sebelum kelas di mulai, supaya reaksinya lebih lama. Setelah satu kelas usai, saya harus meminum lagi untuk kelas selanjutnya. Kalau saya tidak minum, saya merasa gemetar dan takut kepada siswa saya sendiri. Yang aku baru tahu sekarang, itu lah yang disebut paranoid (parno)

Bayangkan kalau saya mengajar 3 atau 4 kelas satu hari, konsekuensinya aku harus minum 3 atau 4 botol yang sudah aku masukkan ke beberapa bungkusan plastik. Kalau tidak rasa takut yang aneh, menyelimuti diriku.

Perasaan takut ini tidak hanya saya alami sewaktu mengajar. Di rumah pun saya tidak bisa hidup normal. Kalau ada tamu atau teman saya main ke rumah, saya minum dulu di toilet sebelum menemui mereka. Saya menyediakan beberapa botol agar kalau teman saya atau pacar saya datang saya ada stok untuk menghadapi mereka. Yang ikut direpotkan adalah adik atau keponakan saya. Mereka harus pontang-panting membeli minuman itu untuk saya. Saya tidak berani membeli sendiri, karena ngomong dengan pelayan toko pun saya takut. Berkarung-karung botol minuman di gudang rumah saya, menjadi saksi bisu ritual ‘gila’ ini.

Sampai suatu saat, saya tak sanggup menahannya lagi. Saya harus berhenti. Saya harus menghentikan aktivitas ‘aneh’ ini. Saya harus memperbaiki dan berbenah diri. Kemudian dengan keterpaksaan yang luar biasa, akhirnya saya mengundurkan diri dari tempat saya mengajar, karena tak mungkin saya mengajar sambil ketakutan. Saya lalu menjadi penganggur. Saya memutuskan semua interaksi dengan orang luar, termasuk pacar saya, dan memang dia sudah fed up terhadap saya.

Saya hanya mengurung diri. Saya tidak menemui siapa pun. Saya gemetar dan takut, bahkan dengan keponakan saya sendiri. Orangtua saya sudah pasrah. Ibu saya sudah tak berharap banyak lagi. Dia tak tahu harus bagaimana menghadapi masalah yang aku rasakan, karena memang dia tak mengerti apa yang terjadi. Keluarga saya menganggap saya sudah tak ada harapan lagi. Hilanglah sang anak yang mereka banggakan!

Saya berhari-hari, berbulan-bulan hanya di kamar saja. Saya berjuang agar hidup normal lagi. Saya teringat saat-saat di mana “Percaya Diri’ seperti nama tengahku. Dulu teman-temanku, kalau mau melakukan pertemuan dengan orang-orang yang dianggapnya hebat, selalu membayangkan apa yang aku lakukan kalau aku yang melakukan pertemuan itu. Tapi sekarang aku bertemu dengan pelayan toko pun tak punya nyali! Seperti kedapatan sedang mencuri saja layaknya.

To cut a long story short, beberapa bulan kemudian, sedikit demi sedikit saya berangsur pulih. Saya mulai punya nyali ngobrol dengan keluarga saya. Saya mulai berolahraga, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah masa-masa penenangan diri, akhirnya saya mulai merasa normal kembali. Saya mulai berani bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku.

KEMBALI MENGAJAR
Tebersit keinginan saya untuk mengajar lagi, karena saya rasa inilah panggilan hidupku. Terus terang saya mengalami “keanehan” ini pun, pada dasarnya dilandasi oleh niat baik, yaitu hasrat untuk memberikan pelayanan paripurna ke para pembelajar, hanya saja caranya salah dan tak baik.

Karena keinginan menggebu untuk mengajar lagi, akhirnya saya mengiklankan diri di koran-koran. Ada satu-dua tanggapan dari perusahaan-perusahaan di kotaku. Siswa-siswa yang dulunya pernah belajar denganku pun, memintaku untuk mengajar di perusahaannya. Akhirnya aku pun mengajar lagi. Pencarian pada cara mengajar efektif pun di mulai. Tapi sekarang saya bersumpah, saya hanya akan melakukan hal-hal yang baik-baik saja.

Akhirnya saya pun menghentikan kebiasaan merokok. Ini tak lain demi pemaksimalan upaya dalam rangka menghadirkan atmosfir belajar-mengajar yang berkualitas. Ini suatu kenikmatan, suatu kebahagiaan, walau mungkin bagi banyak sahabat ini adalah sebuah pengorbanan, disiplin dan kerja keras.

Disiplin dan kerja keras itu tak ada. Pengorbanan tak akan menjadi pengorbanan pada saat kita menyukai apa yang kita lakukan. Orang menganggap Thomas A. Edison itu adalah pekerja keras, tapi dia merasa tak pernah bekerja sedetik pun. Baginya melakukan penelitian di laboratoriumnya, tak lebih dari permainan yang seru yang begitu mendebarkan! Berbicara tentang disiplin, tanya Ade Rai. Disiplin yang luar biasa hanya akan muncul pada saat kita menyatu dan mencintai apa yang kita kerjakan. Love your job and you’ll never work a day! Demikian kata orang bijak.

Setelah aktif mengajar lagi, akhirnya saya hijrah ke Jakarta. Ternyata Jakarta menawarkan banyak sekali pilihan. Saya sempat mengajar di lembaga pendidikan yang berskala internasional (EF-Tebet) selama tiga tahun, mengajar di beberapa perusahaan besar dan instansi-instansi pemerintah, dan sempat juga mendirikan lembaga pendidikan dan penerbitan sendiri (ALTI). Kemudian, takdir menggiring saya untuk menjadi seorang penulis (PT Elex Media Komputindo, PT Mizan Publika dan ALTI Publishing). Ah, hidup ini memang menantang, sahabat! Masih banyak tantangan yang menanti kita di depan sana. Any idea?

Apa pun pekerjaan yang kita tekuni, landasilah dengan niat yang sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya, semulia-mulianya. Segala hal yang kita mulai dengan niat baik, akan berbuah kebaikan. Kebaikan itu layaknya aroma mewangi yang kita tebar, keharumannya juga kita rasakan, bahkan sampai ke ceruk jiwa kita. Menurut Anda?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP