UPS AND DOWNS Seorang Guru*

Orang yang tak pernah
membuat kesalahan berarti
tak pernah mencoba sesuatu
yang baru.

—Albert Einstein

Pelajaran Dari Perjalanan Diri

Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Keunikan perjalanan dirilah yang kemudian membuat kanvas hidup menjadi berwarna, kaya dan mendebarkan. Pada postingan kali ini perkenankan saya menuangkan sepenggal kisah “menarik” yang saya alami sebelum saya menjadi guru bahasa Inggris dan di tahun-tahun pertama saya menggeluti profesi ini.

Dulu waktu saya masih belajar bahasa Inggris di kursus kecil di kota saya, saya merasa senang, semangat saya menggelora jika ada kesempatan berdiri di depan kelas untuk menggantikan guru bahasa Inggris kami yang sering absent. Saya merasakan ada getar-getar nikmat di hati, melihat teman-teman begitu terserap memperhatikan saya menjelaskan topik tertentu. Tak kalah berbunga-bunganya saya sewaktu mereka berhasil mempraktekkan topik yang disampaikan hari itu. Mengamati mereka practice diselingi oleh senda gurau yang tak direkayasa, sungguh keindahan yang tak terperi.

Teman-teman saya banyak yang berkomentar bahwa penjelasan yang saya berikan, gamblang dan mudah dicerna. Mereka lebih menyukai belajar dengan saya ketimbang dengan guru yang sebenarnya. Betapa tersanjungnya saya mendengar pujian ini. Kelas menjadi sangat solid dan begitu akrab. Saya melihat dari mata-mata mereka bahwa ada penghargaan dan kebanggaan di hati mereka terhadap saya. “Ah, aku juga bangga dengan kalian!”

Guru kursus saya lebih muda 5 tahun dari saya. Dia masih kuliah di FKIP bahasa Inggris, sementara saya sudah lulus Fakultas Hukum, dan sudah menganggur 2 tahun. Teman-teman saya mayoritas anak-anak yang tamat SMA dan pengangguran, mahasiswa, atau karyawan-karyawan di perusahaan swasta.

Hampir setiap kali guru saya absen saya yang mengambil alih kelas. Teman-teman saya senang dengan keadaan ini, saya pun tak kalah excited-nya. Setiap saat saya pergi kursus, saya berharap semoga gurunya tidak datang, agar saya bisa mengajar teman-teman lagi. Inilah awal dari ketertarikan saya di dunia keguruan. Komentar teman-teman pun kian membulatkan hati saya untuk menjadi seorang guru.

Sekarang saya tahu mengapa teman-teman menyukai cara saya mengajar waktu itu. Rupanya, dan ini penting:

Mengajar itu akan efektif apabila kita menyatukan hati dan diri dengan para pembelajar kita. Kita tahu persis apa yang mereka rasakan dan inginkan, karena kita memang berada di pihak mereka. Setiap gerak hati dan suara-suara yang tak terlisankan dari jiwa mereka bisa kita tangkap dengan akuratnya. Kita tahu persis bagaimana membuat mereka senang, dan apa yang harus dilakukan agar mereka termotivasi, karena kita adalah mereka dan mereka adalah kita. Kita guru sekaligus pembelajar yang antusias. Ini, sekali lagi, sangat penting!

Belajar Tak Mengenal Usia

Saya begitu termotivasi untuk belajar bahasa Inggris. Bagi saya bahasa Inggris sangat penting, dan skill yang asyik untuk dipelajari. Sebenarnya menurut teman-teman almamater saya, saya sudah benar-benar terlambat untuk belajar. Sudah tidak mungkin. Saya memang waktu itu sudah berumur 27 tahun. Mereka benar, bila saja hati saya mengamininya, tapi saya berpendapat lain. Saya tahu banyak orang-orang sukses, sebenarnya bisa mengemukakan alasan mereka untuk tidak sukses, tapi mereka memilih untuk tidak mencari alasan itu, apalagi mengemukakannya. Kalau mereka bisa, saya percaya kita pun, pasti bisa! Keyakinan ini membuat saya ingin membuktikan bahwa belajar itu tak mengenal usia. “Usia boleh tua, tapi hati harus tetap muda!” bisik hatiku.

Ternyata menurut penelitian terbaru, kemauan sepanjang hayat untuk belajar bahasa itu sangat sehat, karena kegiatan ini dapat membantu menjaga dendrit sel otak kita agar tetap pada kondisi yang baik, dan bahkan hal ini akan menghindarkan kita dari penyakit Alzheimer! Jadi walaupun kita sudah tua, tetaplah jaga hasrat kita untuk terus mengembangkan kemampuan berbahasa kita. Ini akan membuat kondisi otak kita memberdaya.

PINDAH KOTA
Sayangnya, saya tak lama belajar di kursus kecil ini, hanya kira-kira 8 bulan. Dengan berat hati saya tinggalkan teman-teman untuk pindah ke kota lebih kecil. Saya mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi dan operator komputer di sebuah oil company di kota ini.

Dasarnya saya suka bahasa Inggris, maka saya selalu menyempatkan diri untuk latihan. Saya juga menjalin persahabatan dengan orang-orang asing yang ada di sana, dan mereka juga senang, karena di kota kecil itu tidak banyak penduduk asli yang bisa berbahasa Inggris.

MENJADI GURU PRIVAT
Pada suatu hari tiba-tiba ada orang asing (Kanada) datang ke kantor saya. Ia ingin bertemu saya. Kebetulan, saya tidak ada di tempat. Dia kemudian meninggalkan nomor telepon, dan berpesan agar saya menghubunginya.

Sore itu saya menghubunginya. Ternyata dia adalah kenalan saya, sewaktu saya melatih bahasa Inggris saya. Pernah suatu hari saya dan Bapak ini (namanya Alan Trentham), bertemu di lapangan golf. Saya mendekatinya dan kita ngobrol. Pembicaraan kita topiknya hanya mengenai kegemaran dan pekerjaan. (Saya ke sini bukan untuk bermain golf, saya hanya senang ngobrol dalam bahasa Inggris, dan dia bersedia saya temani).

Dia mengundang saya untuk datang ke rumahnya. Rumahnya tak jauh dari kediaman saya. Setelah tiba disana tahulah saya bahwa dia sedang membutuhkan guru bahasa Inggris untuk anaknya. “Bapak ini orang Kanada, koq, butuh guru bahasa Inggris?” Pikir saya.

Seperti membaca pikiran saya, akhirnya dia bercerita bahwa istrinya orang Thailand, mereka memiliki seorang anak perempuan berusia 10 tahun, Tjatraphorn Trentham, yang cuma bisa bahasa Thailand, karena selama ini memang mereka hidup terpisah. Dia di Indonesia sedang istri dan anaknya berada di Thailand. Mereka baru saja satu minggu berkumpul kembali di kota ini. Dia berharap saya mau mengajari anaknya agar mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. “Menjadi guru! Wah, hebat sekali!” bisik hati saya.

Setelah negosiasi mengenai waktu dan biayanya, akhirnya kami sepakat untuk mulai pelajaran keesokan harinya, sehabis jam kantor, setiap hari kerja. Dulu, sewaktu masih di kota kelahiran saya, saya biasanya mengajar bahasa Inggris ke teman-teman saya, tanpa di bayar sedikit pun, dan saya merasa senangnya bukan main! Kini saya mengajar cuma berapa jam saja setiap hari, tapi fee-nya jauh lebih besar, bahkan dari gaji yang saya dapatkan di kantor dengan 8-9 jam sehari selama satu bulan. Wow, luar biasa! Tapi kemudian muncul keraguan saya, bagaimana mengajar bahasa Inggris kepada orang yang tidak bisa bahasa Indonesia, apalagi Inggris? Apa yang harus saya lakukan? Ini pertanyaan yang membuat saya terus-menerus berpikir.

Akhirnya saya mendapat ide. Saya harus meng-exposure sebanyak mungkin kata-kata bahasa Inggris, kepada dia (Tjatraphorn Trentham). Tak peduli bagaimana tulisannya yang penting dia bisa melafazkannya dan mengerti maksudnya. Kita berkeliling, bermain, memanfaatkan apa pun yang ada di sekitar kita untuk dipakai sebagai medium belajar.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, mulai kelihatan hasilnya. Pak Alan dan istrinya, Jureephorn Trentham senang sekali, saya pun senang. Dia sudah berbicara bahasa Inggris dengan bapaknya. Mereka sekeluarga pun semakin suka padaku.

Di kantor aku tak terlalu serius lagi. Aku merasa bosan dengan pekerjaanku mengetik dokumen-dokumen yang bukan kehendak sakral jiwaku. Pekerjaanku jadi tak menentu. Aku bekerja tapi pikiranku membayangkan apa yang akan aku ajarkan ke murid kesayanganku. Komputer dihadapanku menjadi saksi bisu, bahwa aku tak banyak mengerjakan tugasku lagi, tapi aku mengetik bahan-bahan yang akan kuberikan kepada muridku.

Pada saat boss-ku mengecek, aku memencet tombol tertentu di keyboard dan yang tampil adalah tugas-tugas kantor yang sedang aku kerjakan. Pada saat dia berlalu, aku pencet tombol lain dan tampillah materi yang akan aku ajarkan hari itu. Wah, ini sungguh tak baik. Mungkin, boss-ku ini sudah tahu, tapi dia biarkan saja, karena dia tahu aku di bayar sangat murah, dan rasanya tak seimbang dengan gelar sarjana dan skill yang aku miliki. Apalagi anaknya pun menjadi murid privatku. Jam 5.00, aku langsung cabut dengan gembiranya, dan langsung ke rumah teman Kanadaku untuk mengajar anaknya!

Sayangnya setelah beberapa bulan kegiatan mengasyikkan ini berlangsung, mereka memberitahuku, bahwa mereka berencana untuk pulang ke Calgary, sebuah kota kecil (county) di Kanada. Aku sedikit kecewa, tapi itulah kenyataannya. Suka atau tidak, aku harus terima.

Setelah mereka pulang ke negerinya, saya juga mengundurkan diri dari pekerjaan, karena memang saya bertahan di kota kecil itu, hanya karena saya mengajar di keluarga ini. Saya pulang ke kota kelahiran saya. Jadi saya bekerja di perusahaan minyak itu tak lebih dari empat bulan saja. Boss saya menelpon saya agar bekerja lagi, tapi saya menolaknya secara halus. Saya rasa, kita harus berani mengikuti kata hati, follow my heart, karena di sana ada suara Tuhan.

Saya kembali lagi ke teman-teman saya di kursus kecil itu, saya disambut dengan gembira, lalu kami pun bersenda gurau dan belajar bersama lagi. Ah, bahagianya!

MENJADI GURU LAGI
Tak berapa lama kemudian di kota saya, dibuka lembaga pendidikan bahasa Inggris yang berskala nasional, yang berpusat di Jakarta. Lembaga itu memang lagi hebat-hebatnya di Indonesia waktu itu. Setiap guru yang mengajar di situ sungguh teruji kemampuannya. Menjadi guru untuk lembaga ini merupakan suatu prestise dan prestasi bagi siapa pun.

Waktu itu mereka membuka lowongan untuk semua sarjana S1, yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Teman-teman men-support-ku. Ada yang bilang, “You’ve got it in you to be a teacher there, Bro!”

Saya melamar, mengikuti test, dan...diterima. Saya satu-satunya yang berasal dari Fakultas Hukum. Di sinilah pengalaman mengajarku mulai diasah. Di sini pula proses pencarianku pun mulai dipicu. Aku begitu menikmati bekerja di sini. Bagiku ini seperti mimpi yang menjadi nyata.

(Bersambung ke postingan selanjutnya)

*Diambil dari buku The Power of Emotional & Adversity Quotient for Teachers-yang hak terbitnya sudah diserahkan kembali Oleh Mizan Publika ke Saya.

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP