Every second counts!

Every second counts!
The time goes bye! Time is money! Time and tide wait for nobody. Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini. Entah disadari atau tidak seringkali ini hanya sebatas kata-kata yang sepertinya tak menyiratkan makna apa-apa. Terlepas apakah kita menyadarinya atau tidak, waktu memang akan berlalu. Detik akan digantikan oleh detik yang lain. Detik yang akan datang lalu menggantikan detik yang sekarang, yang kemudian menjadi detik yang usang.
Setiap detik yang datang dan berlalu ini harus terisi dengan sesuatu, tak peduli hal itu konstruktif atau justru kegiatan yang kontraproduktif. Sebuah kata kerja (verb) harus, dan sekali lagi, harus menyertainya. Kata-kerja itu bisa saja; tidur, membaca, makan, mandi, berpikir, ngobrol, duduk, melihat, mendengar, minum, membersihkan sesuatu, memasak, bernyanyi, olahraga, melamun, mengamati, main biliar, atau kongkow-kongkow saja, dan lain-lain. Tidak melakukan apa-apa sekalipun, sejatinya.. kita sedang berkutat dengan sebuah kata kerja, misal duduk termenung atau berbaring bermalas-malasan. Sungguh apa pun dan bagaimana pun cara kita menyikapi waktu, kita dihadapkan pada sebuah kata kerja yang siap untuk dipilih.

Terlepas apakah positif atau negatifnya pilihan ini, hitam atau putih warna yang kita goreskan, setiap detik itu secara alami akan berlalu tanpa bisa kita hentikan. Sebuah natural law yang tak seorang pun mampu menisbihkannya.

Bertolak dari hal tersebut, mengapa kita tidak membulatkan hati untuk memilih kata kerja yang produktif yang berdampak positif pada detik-detik selanjutnya. Persis seperti yang Anda lakukan detik ini, detik demi detik berlalu dan Anda telah memutuskan untuk mengisinya dengan hal-hal yang konstruktif guna pengembangan pengetahuan dan wawasan berpikir Anda (melalui membaca blog ini). Sementara banyak yang lainnya melalui detik yang sama ini dengan hal-hal yang kontraproduktif, seperti nonton TV berlama-lama, sekadar duduk-duduk tanpa ada juntrungannya, gambling, membuang-buang waktu dengan menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, sehingga tertutup matanya untuk melihat karunia detik yang sekarang.

Selamat! Dan penghargaan yang luar biasa kepada Anda yang dengan bijaksana menggunakan detik ini secara konstruktif.

Kesuksesan pada dasarnya dirintis dari detik ke detik. Apa yang kita lakukan pada detik ini merupakan rangkaian dari apa yang telah kita lakukan pada detik sebelumnya. Keputusan dan tindakan apa pun yang kita ambil pada detik ini, akan berdampak pada detik-detik selanjutnya. Yang pada akhirnya berakumulasi dan mengukir NASIB dan masa depan kita. Bukankah kalau detik tidak ada, tidak akan pernah ada menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dasawarsa, abad dan millennium? Bukankah semua unit waktu, dimulai dari sebuah “Detik”. Mari kita fokuskan diri pada “Detik”.

Pertanyaan-pertanyaan renungan (Questions To Ponder)


Kenyataan bahwa setiap detik itu begitu menentukannya, setiap detik itu begitu berharganya, tiba-tiba, entah mengapa, saya dihadapkan pada beragam tanya yang menggelitik hatiku, dan menari-nari di benakku. Memaksa nurani untuk mencarikan jawabannya. Yang pada gilirannya justru melahirkan gelitikan dan tarian baru yang membuatku makin terpesona.

Mari kita sama-sama menyimaknya, siapa tahu Anda mendapat pesan-pesan yang tersirat, atau mungkin Anda punya solusi pribadi terhadap teka-teki ini?


  • Mengapa kita tidak tanam hal-hal yang indah dan bermakna pada setiap pergantian detik yang kita lalui, padahal sungguh kita akan menuai apa pun yang kita tanam?
  • Mengapa kita tidak menghormati orang lain di setiap kesempatan yang ada, meski pun kita tahu, ini sebuah kualitas yang membawa kita pada derajat yang lebih baik?
  • Mengapa kita tidak melembutkan hati di sisa usia kita, agar makna hidup lebih terasa dan ternikmati?
  • Mengapa kita tidak berempati kepada sesama dari waktu ke waktu, bukankah “empati” adalah salah satu prasyarat untuk sukses dalam karier atau profesi apa pun yang kita geluti?
  • Mengapa kita tidak rendah hati di sepanjang hari, sementara kerendahan hati membuat seorang lebih dicintai?
  • Mengapa kita tidak mengasihi sesama pada setiap kesempatan yang tercipta, meski kita tahu ini akan membawa kita ke surga dunia dan akhirat?
  • Mengapa kita tidak terus menimba ilmu dan menambah wawasan kita dari waktu ke waktu, padahal justru hal inilah yang sanggup membuat kita “survive” dan “progress” dalam bisnis apa pun yang kita jalani?
  • Mengapa kita tidak mencintai pekerjaan kita dari hari ke hari, padahal itu adalah kunci ketenteraman pikiran?
  • Mengapa kita sulit untuk jujur pada saat kita berinteraksi dengan sesama, padahal ini adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan di bisnis dan pekerjaan yang kita tekuni?
  • Mengapa kita tidak menjadi diri sendiri pada setiap helaan napas kita, padahal itu akan membuat kita lebih bermartabat?
  • Mengapa kita tidak murah senyum manakala kita bersua tatap dengan orang lain, padahal senyum adalah ibadah yang termurah dan berdampak luar biasa bagi diri sendiri, sesama dan Tuhan?
  • Mengapa kita tidak murah hati, padahal sungguh memberi adalah jalan tercepat menuju kebahagiaan?
  • Mengapa kita tidak menyikapi apa pun dengan sikap mental positif, padahal ini akan membawa kita pada taraf hidup yang lebih baik?
  • Mengapa kita tidak proaktif meski pun kita sadar bahwa sikaf reaktif hanyalah menghasilkan kekecewaan?
  • Mengapa kita tidak menciptakan kebiasaan baru yang produktif, meski pun kita sadar hal itu sangat signifikan dalam upaya pencapaian kita di karier, bisnis, kehidupan sosial bahkan kehidupan pribadi kita?
  • Mengapa kita tidak menjadi pendengar yang baik, padahal itu “value” yang memberikan sumbangan pada “wisdom” yang selayaknya dimiliki oleh setiap orang yang ingin sukses?
  • Mengapa kita seringkali tidak tepat waktu pada saat kita berjanji dengan seseorang, padahal itu cerminan dari kredibilitas, dan kepribadian kita?
  • Mengapa kita tidak berani membuka diri untuk sesuatu yang baru, dan memperluas wilayah comfort zone kita agar hidup ini terasa lebih berwarna dan menggairahkan?
  • Mengapa kita tidak tampil sebaik dan sepantas mungkin, padahal itu akan meningkatkan self-confidence kita?
“Mengapa-mengapa” lainnya yang tak akan cukup sepuluh buku bila semuanya hendak dipostingkan disini. Saya berkeyakinan bahwa setiap kita tahu nilai-nilai positif (positive values) yang manfaatnya sangat mengagumkan bila kita ukirkan pada setiap detik kehidupan kita yang datang dan berlalu. Namun tetap saja ada rasa enggan yang luar biasa untuk mengusungnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian kita. Mengapa demikian?

Be The Best You Can

Bahan renungan kita selanjutnya adalah mungkinkah ini kita biarkan? Mungkinkah pertanyaan-pertanyaan di atas akan terus menjadi pertanyaan tanpa tindak lanjut? Mungkinkah pola-pola yang tidak positif ini mengendalikan hidup dan membentuk “takdir” kita? Seperti apa yang dituturkan oleh Anthony Robbins dalam “Awaken The Giant Within”:
“You see, in life, lots of people know what to do, but few people actually do what they know” (Banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tapi sedikit saja yang melakukannya). Mudah-mudah kita tidak termasuk salah satunya?

Mari kita analisa bersama. Saya berpendapat bahwa hal ini terjadi jelas didasari oleh kecendrungan manusia untuk didrive oleh kesenangan sesaat (a short-term pleasure), dan membayangkan bahwa kualitas-kualitas di atas didapat dengan mengorbankan kesenangan-kesenangan tersebut. Ada semacam “penderitaan” (pain) yang ingin dihindari, walau pun memang itu hanya penderitaan sesaat (a short-term pain). Ditambah lagi sifat alami seseorang yang selalu ingin instan, akibatnya kesenangan sesaat ini menjadi menu favoritnya. Kemudian hal ini justru menjebak seseorang pada pola perilaku yang kontraproduktif, yang mengikat, dan pada tahapan selanjutnya membentuk suatu kebiasaan destruktif yang mengakar. Yang perlu usaha yang tidak ringan untuk mendobrak polanya.

Upaya pendobrakan pola ini jelas harus dilakukan kalau kita mau menjadi yang terbaik. Bukankah dengan profesi apa pun yang kita miliki, guru, tukang sapu jalan, karyawan, presiden, penulis, aktor, artis, pengusaha, salesman, jurnalis, penyanyi, ibu rumah tangga atau bahkan seorang pemulung sekali pun, be the best you can. Dengan kemampuan kita untuk berpikir jangka panjang, memfokuskan diri pada hasil setelah “penderitaan” ini berlalu, merupakan kiat yang perlu dipertimbangkan. “Kualitas kehidupan seseorang berbanding lurus dengan komitmennya untuk memberikan yang terbaik, apa pun bidang usaha yang mereka pilih.” Demikian kata Vince Lombardi seorang pelatih rugby yang sukses. Yang menunjukkan bukan hanya cara berhasil menang dalam permainan rugby, namun juga bagaimana menang dalam permainan kehidupan.

Harus disadari juga bahwa sebagai manusia, makhluk yang berakal-budi (ratio), berhati nurani (conscience), dan berkehendak (desire), dengan suatu usaha secara sadar, pasti kita mampu meraih apa pun yang “benar-benar” kita inginkan. Kualitas diri kita ditentukan oleh seberapa besar usaha kita untuk terus menjadi baik dari waktu ke waktu. Henry David Thoreau dalam bukunya Walden, berkata, “I know of no more encouraging fact than the unquestionable ability of man to elevate his life by a conscious endeavour.”
(Saya tahu tak ada fakta yang membesarkan hati selain kemampuan manusia untuk mengangkat hidupnya dengan suatu usaha secara sadar.)

Kalau memang nilai-nilai di atas merupakan values yang harus kita miliki untuk mengangkat harkat dan martabat kita sebagai insan. Sarana guna meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang kita impikan. Mengapa tidak kita putuskan saja untuk menjadikannya sebagai bagian dari jati diri kita? Menjadi karakter kita? Menurut Anda?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP