Aku Menulis dari LP ke LP!

Setiap orang harus membiasakan menulis. Apa pun cerita dan temanya, menulis harus dijadikan sarana untuk mengasah hati dan jiwa. Tak ada yang mudah, pada awalnya, namun yang tak mudah itu kemudian akan menjadi mudah, apabila sudah menjadi kebiasaan, atau bagian dari diri kita.

Sejatinya menulis harus dijadikan bagian dari kehidupan keseharian kita, kalau kita tidak mau tergerus oleh laju perubahan zaman. Budaya lisan adalah budaya lama. Budaya yang dikenal manusia sejak zaman primitif/prasejarah, sebelum dikenalnya aksara. Namun dengan perkembangan zaman yang luar biasa ini, menulis juga harus dimaksimalkan agar kita tetap "survive."

Motto "Tiada hari tanpa menulis" harus benar-benar termanifestasi dalam kehidupan keseharian kita. Tulis apa saja. Luangkan sedikit waktu untuk menulis apa pun. Pemikiran, perenungan, bahkan uneg-uneg di hati kita. Ini sangat menyehatkan baik mental mau pun fisik kita (Anda bisa baca di blog ini tentang itu).

Dulu waktu saya memberikan pelatihan bahasa Inggris di salah satu perusahan karet terkemuka di kota saya (PT Badja Baru Trad. Co'y), ada semacam adagium management (atau apalah istilahnya) yang berbunyi "Do what you write and write what you do!" Saya yakin itu tidak hanya berlaku bagi sebuah perusahaan sekaliber itu, namun juga perusahaan kecil, bahkan sampai ke kehidupan pribadi.

Betapa beruntungnya kita yang dikaruniai Tuhan blessing untuk melek huruf. Kemauan untuk membaca dan skill untuk mengekspresikan pikiran dan suara hati kita dalam bentuk tulisan.

Lihat saja sampai saat ini kebanyakan orang, bahkan teman-teman saya masih memegang teguh budaya lisannya. Mereka mengalami illiteracy yang akut (Illiteracy dalam arti, “ignorance resulting from not reading”, bukan yang maksudnya “an inability to read”, alias buta aksara). Membaca dan menulis menjadi sesuatu yang sangat berat bagi mereka. Yang mereka lakukan hanyalah berbicara dan berbicara, tanpa banyak mengalokasikan waktunya untuk mendengar, membaca apalagi menulis.

Hal ini sungguh tak berkontribusi banyak terhadap perkembangan kematangan jiwa dan kemajuan hidup seseorang, karena budaya lisannya yang sangat dominan, sehingga sulit baginya untuk berkembang secara maksimal. Tak mudah baginya untuk mengaktualisasikan segala potensi kecerdasan yang dia miliki. Tak ada kesempatan untuk mengisi relung2 pusat pikirnya. Dari hari ke hari yang dia lakukan hanyalah cuap sana, cuap sini, kritik sana, kritik sini, gosip sana, gosip sini. Perbuatan yang sia-sia dan kerap tak berkualitas.

Mengapa segala pemikiran dan kritikannya tak dituliskan saja? Ada banyak hal yang terjadi pada saat kita menuliskan segala yang hendak kita ceritakan kepada orang lain. Ada proses retrospect yang membuat kita menjadi lebih aware pada sesuatu yang hendak kita ekspresikan itu. Ada proses yang luar biasa yang tak kita dapati pada saat kita langsung lisankan itu. Ada pemerkayaan, ada pemurnian, ada penyadaran dan ada juga perenungan yang membuat jiwa kita lebih cerdas dan kaya. Anda tidak percaya? Saya sering mengalaminya.

Pernah suatu ketika saya "marah", pada cara teman-teman saya mengajar, baik untuk teman-teman saya di LP (Maksudnya Lembaga Pendidikan, bukan LP yang lain lho!) di mana saya bekerja (LIA Kebayoran Baru), mau pun ke teman-teman saya yang bekerja untuk saya, kebetulan saya juga punya kursus bahasa Inggris. Kekesalan saya ini lebih banyak tak tersalurkan, khususnya ke teman2 saya yang seprofesi, karena memang saya guru biasa, bukan supervisor, apalagi Direktur, bahkan ironisnya supervisor pun tak mengerti bagaimana seharusnya proses belajar mengajar itu diselenggarakan di kelas. Pemikirannya tak sampai ke inti persoalan.

Akhirnya pemikiran dan kekesalanku ini kucurahkan ke halaman demi halaman kertas, yang pada gilirannya kurangkaikan dalam sebuah buku yang kuberi judul, "Seni Mengajar dengan Hati (Don't Be A Teacher Unless You Have Love To Share!" Sudah pernah membacanya? Buku ini akhirnya sempat menjadi buku literatur di Akta 4, dan banyak institusi2 pendidikan lainnya memakai sebagai sarana untuk mencetak para guru.

Nah, kalau saya saja bisa memetakan kemarahan, kekesalan dan uneg-uneg hati ke dalam bentuk tulisan, mengapa Anda (dengan segala keunikan Anda) tidak bisa? Saya sungguh yakin dengan kemampuan dan potensi Anda, seperti juga saya yakin dengan kemampuan dan potensi para pembelajar saya di kelas.

Saya sangat percaya pada kenyataan bahwa ras kita "Manusia" adalah makhluk yang diciptakan luar biasa oleh Sang Maha Pencipta. Ini bukan basa-basi (seperti iklan rokok saja nih), tapi ini sudah didukung oleh fakta ilmiah yang tak tersangkalkan yang dikemukakan para pakar di bidang ini (Tony Buzan, Gregory Lozanov, dkk).

*****

Bagaimana? Belum cukup memberikan enlightenment? Baik akan saya ilustrasikan dengan cerita saya yang lain.

Sekitar di tahun 2000, terjadi percakapan yang serius antara aku dan temanku. Dia bercerita banyak tentang kehidupan. Pemikiran-pemikirannya bagiku saat itu sangat luar biasa. Dia mengulas sebuah topik tentang diri dan manusia dengan sangat baiknya. Lalu aku berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib di sana.

Setelah sekitar 6 tahun di Jakarta akhirnya aku dipaksa oleh takdir untuk kembali tinggal dan menetap di tanah kelahiranku Palembang, melalui sebuah kecelakaan fatal yang menghabiskan “biaya” yang sangat-sangat mahal, bahkan hampir mengorbankan nyawaku.

Kemudian, pendek cerita, aku dan temanku ini bertemu lagi, tentunya setelah aku pulih. Kami bercerita banyak tentang pengalaman hidup yang sama-sama kami lalui. Teman saya ini sudah mengalami kebangkrutan. Usaha pendidikan yang dia jalankan sudah tak beroperasi lagi. Kami ngobrol lagi seperti beberapa tahun yang lalu.

Topik pembicaraanku sudah mulai agak (sekali lagi, agak) sedikit kaya dan berwarna. Aku sudah menulis 4 buku. Temanku ini, kembali bercerita dengan menggebu2, karena memang lebih dari 7 tahun kami tak bertemu. Apa yang dibicarakannya? Anda bisa tebak? Ya, dia berbicara persis seperti dulu di tahun 2000.

Topik yang dulu aku anggap hebat itu ternyata mulai memudar kehebatannya. Aku melihat ada perspektif yang lebih komplit tentang hal itu.

Apa yang terjadi? Harus ada analisa yang lebih dalam tentang ini. Ya, inilah budaya lisan. Budaya yang tidak akan mengalami 'pemerkayaan'. Budaya yang akan ditinggalkan zaman, apabila tak diseimbangkan dengan budaya membaca dan menulis. Anda punya pendapat?

Baik, kita eksplor ini dari sudut pandang lain. Pada galibnya banyak variabel yang mempengaruhi aktualisasi diri seseorang, banyak sekali. Eksposure terhadap pengetahuan itu juga tak kalah penting, bahkan pola pikir orang2 di sekelilingnya termasuk yang dikenal mau pun tidak. Mengapa?

Saya meyakini ada interaksi tak kasat mata antara setiap orang baik secara langsung, mau pun tidak. Ada vibrasi pemikiran yang tak terlihat, yang tak kasat mata, yang dimediasi oleh semesta.

Dulu pamanku berkata, “Orang yang tinggal di lingkungan pantai, akan berpikir seperti orang pantai. Orang yang tinggal di gunung akan berpikir seperti orang gunung.” Jadi apa yang dimaksudkannya adalah akan terjadi perbedaan yang besar corak berpikir antara orang yang satu dengan yang lainnya dilihat dari variable di mana dia hidup dan berinteraksi. Tapi menurutku seharusnya ini bisa disiasati! Saya tidak begitu sependapat.

Tatkala dia dihadapkan untuk tidak bisa memilih dimana tinggal, maka harus ada usaha ekstra untuk membentuk pola pikir. Exposure harus dengan sengaja dikondisikan. Terus kembangkan diri. Terus kembangkan khasanah berpikir. Jangan menjadi objek (korban) lingkungan, tapi berusaha untuk menjadi thoughtsetter (istilah saya sendiri dengan merujuk pada kata trendsetter), dan tentu saja dengan mengingat apa yang dikatakan oleh Alex Inkeles, guru besar sosiologi di Harvard university yang intinya adalah salah satu kriteria orang modern adalah orang yang mempengaruhi dan bukan dipengaruhi lingkungan. Dengan bahasa saya tadi yakni menjadi thoughtsetter, yang kemudian barulah bermuara pada behaviorsetter, trendsetter, dan setter2 yang lainnya.

Ini hanya bisa dilakukan bila budaya lisan, tidak mendominasi budaya membaca dan menulis! Mungkin kalau saja Bung Karno, Bung Hatta, Buya HAMKA, Soetan Syahrir, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Amir Syarifuddin, sampai ke Pramoedya Ananta Toer masih bisa dimintai pendapat, mereka akan 1000% setuju. Kebanyakan dari mereka ini adalah orang2 yang tak menjadi korban lingkungan. Mereka tetap merasa menjadi orang bebas meski berada di balik jeruji. Bahkan hasil-hasil karya mereka justru lahir dari balik jeruji itu! Mereka hebat, bukan? Ya, sehebat Anda dan saya!

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP