Aku Menulis Suatu Yang Tak Tertuliskan!

Setelah sibuk utak-atik software di komputerku, edit sana edit sini, hapus sana hapus sini, akhirnya aku kembali ke blog ini dalam rangka mengasah ketajaman menulis.

Aku tak mengerti apa2, tapi keinginanku untuk terus menyuarakan hati begitu besar akhir-akhir ini. Aku seperti terpanggil untuk menulis dan menulis (Walau tak semuanya kutuangkan di sini). Aku tetap saja menulis, meskipun aku tak punya ide sedikit pun untuk ditulis. Bahkan aku menuliskan ketiadaan-ide ini. Aneh bukan?

Bagi seseorang seperti aku (yang bukan sastrawan, apalagi pujangga), itu cukup aneh, menuliskan ketiadaan yang dijadikan ada. Itu tentu saja bukan mengada-ada. Itu sekadar pemancingan ide yang sebenarnya ada namun terbungkus oleh ketidakadaan dipermukaannnya, yang terpendam dalam di lembah jiwa yang bermisteri.

Aku tembus ketiadaan itu agar menjadi ada. Seperti tulisan ini sendirii yang pada awalnya tidak ada kemudian ada dengan sendirinya, akibat aksara yang terangkai menjadi kata. Kata lalu terkumpul dan menghasilkan makna yang kemudian membentuk sebuah topik yang mungkin di luar pridiksiku, siperangkai kata.

Itulah upaya menembus batas-batas ketiadaan. Aku tak mengatakan bahwa ini hanyalah bualan dari orang yang tak bersentuhan dengan inti ide yang ada dibenaknya, namun sekali lagi ini proses penggalian sesuatu yang “mahal” yang tersembunyi jauh di kedalaman dirinya.

Sesuatu yang mahal itu hanya bisa digali dengan cara terus menerus menggali. Tanpa lelah. Tanpa takut hasil yang hampa. Upaya pantang surut yang dibalur oleh keyakinan bahwa sesuatu yang mahal ini akan terurai lambat atau cepat, justru inilah cangkul ajaib yang akan mampu mengangkatnya kepermukaan.

Sesuatu “yang mahal” yang terkubur, akan tetap hidup di dalam kuburannya, sampai ia digali. Tak akan pernah ia mati, selama siempunya belum mati. Dia akan terus ada dipusaranya meski tak pernah diketahui dimana dia disemayamkan oleh Sang Mahapencipta.

Takdir yang merupakan muara antara siempunya dengan sesuatu yang mahal itu adalah ketidakmenyerahannya pada kenyataan! Ya, pada kenyataan betapa kerasnya lahan yang harus digalinya. Lahan yang akan membawanya pada kesejatian dirinya! Pada sebuah kualitas paripurna yang dimiliki oleh seorang makhluk yang berlebell MANUSIA! Ah, lagi-lagi aku terkesima!

(Maaf, aku menulis apa ya?)

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP