Caleg, Oh, Caleg (Curhat di akhir Januari)

Cerita apa yang bisa kita diskusikan diakhir Januari ini? Oh, ya, mungkin ada baiknya kita masih cerita seputar caleg. Karena ini masih benar2 current issue. Nah.. ada apa lagi tentang calon legislatif kali ini? Baik kita akan bahas sedikit.
Kemarin, seperti biasanya aku berjogging-ria start dari rumah (di seputaran kampus utama Bina Darma) ke salah satu sarana olahraga yang tergolong mewah di kota ini (Jaka Baring Sport Stadium). Aku memilih rute ini karena memang udaranya pada sore itu lumayan bersih dan sejuk, karena habis hujan.

Di sepanjang jalan khususnya di Jl. Gubernur Achmad Bastari, banyak sekali spanduk2, banner2 yang mengampanyekan caleg. Gambar2 orang yang sebelumnya tak dikenal tiba2 bermunculan di mana2.

Dengan kata-kata yang “luarbiasa” sekaligus barangkali perlu untuk kita highlight. Ada yang menulis besar-besar di atas gambarnya, “Mari Bung rebut kembali!” Ada juga yang menulis, “Serahkan pada pemuda.. Pasti!” atau ada yang dengan yakinnya mengedepankan kalimat “Muda, Cerdas dan berwawasan!” di atas photonya, yang membuatku tercenung adalah ada seseorang ibu2 dengan over confidence mengklaim, “Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!” Wah, wah…

Aku terus mengayunkan langkahku menuju sport stadium, tempat para pahlawan bola kaki kita kerap berlatih (yang pada saat tulisan ini dibuat, Sriwijaya FC dan Pelita Jaya sedang bertanding).

“Ah, ternyata banyak juga ya orang yang ingin mengurus rakyat di kotaku?” Aku membatin di dalam hati. Kata-kata yang tertulis di spanduk, banner dan baliho mereka membuatku terus ngomong sendiri di dalam hati.

Kira-kira suara hatiku berbunyi begini;

“Mari bung rebut kembali!”
Ah, kawan yang satu ini mengibaratkan jabatan legislatif bak sebuah benda yang kalau terlepas harus direbut lagi. Memang tak banyak orang yang cukup arif memberikan kesempatan pada yang lainnya untuk menduduki sebuah posisi, tatkala dia pernah berada di situ. Mungkin dia berpikir jabatan itu sesungguhanya secara premordial merupakan miliknya. Hak milik yang harus direbut dari tangan-tangan orang lain yang menurutnya bukan pemilik yang syah! Ibarat invasi yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain. Ini (barangkali) menurutnya tak lebih dari pertarungan harga diri! Atau bisa saja disebabkan karena lagu favoritnya “Halo halo Bandung”? Ya, Bisa saja.

*****

“Serahkan pada pemuda… Pasti!”
Nah kalimat ini benar-benar sulit dipahami. Khususnya bagi kita-kita yang right hemisphere (otak kanan)nya belum terlalu terlatih. Banyak di antara kita (termasuk saya) bertanya-tanya, kalau umpamanya aku memberikan atau menyerahkan suaraku kepada anak muda ini, pasti akan apa ya? Karena dia cuma mengatakan “pasti!” Wah, mungkin “pasti” kacau, “pasti” hancur atau “pasti” bingung.. wah, yang jelas pasti bingung kayaknya!!

Kalimat ini sungguh sangat bersayap, semuanya bisa saja terpikirkan, tergantung sepenuhnya kepada kemampuan seseorang untuk berimajinasi (domain otak kanan). Untuk orang-orang yang beraliran positif (positivism), pasti dia akan berpikir yang positif, tapi bagi kawan-kawan yang beraliran negatif (negativism) – yang masih dianut oleh mayoritas kita – pasti mereka akan skeptis, dan tak berhusnuszhon, sementara bagi teman-teman lainnya yang tak memiliki aliran (positif tidak, negatifpun bukan), pasti akan nyegeh bae! (Untuk pembaca yang bukan orang Palembang, artinya kira2 “Menyengir saja”).

*****

“Muda, Cerdas dan berwawasan!”
Rakyat jelas tidak butuh ini. Tidak butuh orang2 yang hanya muda usia, hanya cerdas dan berwawasan secara intelektual (IQ). Rakyat butuh orang-orang yang bisa merasakan beban hidup yang mereka rasakan. Rasa empati terhadap penderitaan. Ikut menangis ketika mereka menangis dan ikut pilu ketika mereka merasa pilu, bukan orang-orang yang tak pernah mengasah ketajaman nuraninya, yang hanya melatih dan mengedepankan intelektualitasnya, dan tak pernah tahu betapa rakyat disini harus berkelahi antar saudara hanya untuk sesuap nasi. Menebalkan muka meminjam uang kesana-kesini hanya untuk bayar sekolah. Sementara dia ke sekolah mana pun di seantero dunia tinggal tunjuk saja.

Kawan, aku melihat orang yang harus ribut dulu hanya untuk makan pagi, tepat di depan terali pintu kamarku. Kemarin, anaknya yang bungsu menyelinap ke pintu sebelah rumahku, untuk meminjam uang. Aku dengar percakapan mereka, “Kak, minjam duet Rp 50 ribu kata Bapak, untuk bayar sekolah..” Aku tak tahu apa diberi pinjaman atau tidak… tapi kulihat tak berapa lama, anak tersebut berlari-lari membawa kantong hitam yang berisi makanan. Lalu dari rumahnya yang tak jauh dari pintu kamarku kulihat mereka sekeluarga bergembira menyantap makanan yang dibawa oleh anak yang membawa kantong hitam tersebut. Lalu bertaburanlah mereka dengan berseragam sekolah melangkah dengan penuh semangat menuju ke sekolahnya. Bayangkan, bagaimana mereka belajar dengan perut yang kosong, kalau seandainya dia tak diberi pinjaman oleh tetanggaku..

Ah, kawan.. Anda boleh cerdas, Anda boleh muda dan berwawasan, namun tolong asah kepekaanmu.. Rakyat kita tak banyak yang bernasib sepertimu, yang semuanya serba tersedia. Mereka merintih.. mereka menjerit di dalam hati.. (air mata kerap menitik melihat semua ini).. kalau jabatan hanya untuk ajang pamer kekuasaan dan kesempatan emas untuk menumpuk harta, atau hanya ingin melestarikan kekuasaan yang turun temurun, sudahlah, berhenti sajalah. Sekali lagi hentikan sajalah niatmu, karena rakyat sudah sangat tak butuh itu lagi!

*****

“Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!”
Sekarang kita mengulas sedikit kata-kata dari seorang caleg yang berbunyi, “Saatnya amanat diserahkan kepada ahlinya!” Wah, ini benar2 perlu ada pelurusan. “Ahli”, kapan seorang dianggap ahli? Kapan seorang berhak untuk menyebut dirinya “Ahli”. Sebenarnya kata-kata ini sangat berbahaya. Mengapa berbahaya? Ini ada kesombongan di dalamnya, ujub dan sangat tak memberdayakan! Sekali lagi mungkin ada yang bertanya, “Mengapa tak memberdayakan?”

Seorang yang merasa “ahli” biasanya tak mau mendengar pendapat dan masukan dari orang lain (yang dianggapnya tidak atau kurang ahli darinya). Harga dirinya terlalu tinggi. Dia enggan dikoreksi! Ada harga diri yang tercabik-cabik kalau ada orang yang memberikan masukan, feedback atau apa pun namanya. Dia biasanya sangat dogmatis, kaku dan antiperubahan. Ini sebenarnya musuh progresivitas. Orang seperti ini akan tergerus oleh laju zaman, akan termakan oleh gelarnya “ahli” tadi. Itulah mengapa kusebut orang yang merasa ahli seperti ini laten. Apalagi orang yang menyebut dirinya sendiri “ahli!” itu sudah maha laten.

Coba simak kata2 Syunriyu Suzuki, “Dalam benak pemula ada banyak sekali kemungkinan, sebaliknya dalam benak seorang ahli (pakar) hanya sedikit saja.”

Saya juga menulis di salah satu buku saya, yang berbunyi seperti ini, “Sebanyak apa pun pengetahuan kita tentang sesuatu hal, milikilah selalu sikap seorang pemula. Karena di diri seorang pemula segalanya serba mungkin, segalanya serba kesempatan, segalanya serba peluang, segalanya menjadi proses pembelajaran! Ini akan membawa diri kita pada taraf hidup yang lebih berkualitas!”

Nah, sungguh kontradiktif, apa yang dituliskan oleh teman-teman kita ini dengan apa yang rakyat inginkan. Namun bagaimana pun juga teman-teman kita ini punya hak untuk melakukannya, itu syah-syah saja. Dan saya juga syah-syah saja melanjutkan jogging saya… udah ya, sampai ketemu di bilik pemilihan nanti ya…

*****


home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP