Caleg, Oh, Caleg.. (Asah Nuranimu!)

Postingan kita kali ini adalah tentang CALEG (calon Legislatif) yang sedang marak-maraknya saat ini. Kemana pun pandangan mata kita tertuju, ketika sedang berada di jalan-jalan raya (khususnya di kota Palembang) pasti kita akan mendapati gambar orang-orang yang berharap bisa terpilih menjadi legislator.

Sadarkah kawan2 kita ini bahwa menjadi legislator bukanlah perkara yang mudah. Asal ada duit saja, atau asal anak pejabat atau asal putra-putri tokoh masyarakat saja. Sadarkah mereka tanggungjawabnya amat sangat besar dan luar biasa?

Tiba-tiba aku membatin sendiri, “Hey, Dan, coba renungkan seandainya kamu salah satu di antara mereka. Hal2 apa saja yang ingin kamu lakukan untuk negeri ini, propinsi ini, atau kota ini, atau paling tidak untuk konstituenmu?”

“Mungkinkah Engkau mampu mengayomi dan mewujudkan keinginan dan aspirasi mereka? Aspirasi orang-orang yang telah bersusah-payah memilihmu? Apakah tugas2 yang akan diberikan padamu mampu engkau tunaikan dengan penuh tanggung-jawab? Sudah tulus dan luruskah niatmu?”

“Dani, bila sebagian pertanyaan tadi tak bisa kamu jawab dengan sebaik dan semulia-mulianya, maka ada baiknya kamu jangan coba-coba. Kasian rakyat yang telah memilihmu. Kasihan mereka yang yang telah menaruh harapan besar di pundakmu!”

*****

Kawan, mengapa kita mau menjadi wakil rakyat, tatkala kita sendiri tak memiliki keunggulan untuk mampu menyuarakan hati nurani mereka? Bahkan kita sendiri mungkin tak pernah mengasah gergaji kepekaan dan kecerdasan nurani kita?”

Bagaimana mungkin kita tahu derita rakyat, manakala kita sendiri tak punya kualitas untuk berempathy? Tak tahu betapa mahalnya harga kebutuhan hidup sehari-hari? Tak pernah merasa betapa nyerinya lambung yang sedang lapar? Tak pernah melihat betapa rakyat yang kita wakili harus menghutang sana-sini untuk bertahan hidup?

Bagaimana mungkin kita tahu keluh kesah mereka, manakala sebagian dari kita sejak terlahir sudah tidur di kasur yang empuk dan ranjang yang mewah di dalam rumah yang megah(*), sementara rakyat yang kita wakili, tak jarang harus menggigil karena tidur di atas papan yang kasar, di bawah atap rumahnya yang bocor, dengan dinding yang hampir roboh?”

Tidakkah kita merasa berdosa karena nun jauh di kedalaman diri kita tahu bahwa sesungguhnya kita tak cukup kompetensi dan integritas untuk menjadi the agent of changes bagi mayoritas rakyat kita yang terpuruk?”

Ah, kawan, tidakkah kita sedikit merasa bersalah ketika ada bisikan halus di diri kita yang berbisik malu-malu, “Inilah kesempatanku untuk menjadi makmur, untuk menguras sebanyak2nya materi, untuk menjadi hebat dan untuk memiliki status terhormat di masyarakat!”

Ah, kawan, luruskan niat kita! Itu saja pesanku untukmu dan untukku bila kita ingin menjadi wakil rakyat! Itu saja, tidak lebih, tidak kurang!”

---------------------
(*) Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar caleg itu anak pejabat atau anak orang kaya.

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP