Happiness?? Buku Oh Buku...

Hari ini dari pagi aku membaca buku yang barusan aku beli. Semakin jauh halaman-halamannya kubaca, semakin aku menyadari betapa "tinggi hati"nya sang penulis buku ini. Sebenarnya aku belajar banyak dari penulis yang bertipe seperti ini, yaitu sebagai penulis (apalagi pemula seperti saya) harusnya mampu dengan penuh kasih menyapa setiap pembaca kita. Bak kita sedang berbicara langsung dengan mereka. Dan kita memosisikan mereka sebagai orang-orang yang benar-benar kita cintai. Yang rasa hormat kita melebihi hormat bahkan kepada diri kita sendiri. Layaknya kita sedang jatuh cinta kepada mereka.

Pernahkah Anda jatuh cinta dengan seseorang dalam kehidupan Anda? Saya yakin pasti Anda pernah mengalaminya. Saya bahkan berulang-ulang. Banyak gadis-gadis yang aku cintai dalam kehidupanku, namun sebanyak itu pula yang menolak cintaku. Ada beberapa yang sempat menjadi kekasihku, tapi lebih banyak yang menolakku dengan cara mereka masing-masing.

Waktu SMA, aku mencintai adik kelasku. Rambutnya yang panjang mengingatku pada gadis-gadis klasik di belahan bumi yang lain. Tatapan matanya sampai membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Ada banyak kata yang hendak kuutarakan, namun tak sanggup terucapkan. Banyak puisi yang terlahir dari rasa cintaku ini, namun hanya tersimpan dan tak sempat dikirimkan. Kata-kata yang keluar dari hatiku seperti punya jiwa. Kata-kata yang membuat aku bak seorang pujangga.

Setiap pagi ketika Ia melewati rumahku selalu saja membuat hatiku berpacu. Langkahnya gontai bagai sekelebat tarian nan anggun. Senyum yang semeringai membuat alam ikut berseri. Tawa renyahnya bagai alunan musik merdu yang terus bergema di telingaku.

Bayangkan, kekuatan yang begitu dasyat akan menggerakkan energi kemanusianku untuk menulis dan menciptakan sebuah karya. Tajmahal pasti dibangun oleh rasa seperti ini. Kalau kita mengondisikan diri seperti ini, pasti buku kita akan terangkai dengan kata nan indah dan renyah. Pasti akan langsung masuk ke jiwa yang membacanya. Tidak seperti buku yang aku baca saat ini. Meski pun demikian aku harus berterimakasih kepada penulisnya. Mengapa? Mungkin Anda bertanya-tanya. [Harga buku ini cukup mahal untuk buku dengan kemasan seperti ini, Rp. 72.500,-].

Ideku yang paling penting adalah:
1. Penulis harus berani merendahkan hatinya ketika menulis. Jangan menulis kalau hanya ingin menjatuhkan orang lain. Di buku ini dia menyinggung banyak orang, beberapa di antaranya Julia Perez dan Tukul. Mereka dianggap oleh sang penulis seperti orang yang tak ada apa-apanya. Bahkan menjadi contoh yang memberikan sumbangsih terhadap sampah-sampah di pikiran kita. Dia sungguh merasa seperti malaikat yang bebas dari kekurangan (padahal malaikat pun punya kekurangan). Kalau memang pikirannya sudah bebas dari sampah-sampah (terminologi yang dipakainya), pasti ini tak akan dia tuliskan. hal ini Kalau pun dia ingin mencontohkan, pasti dia mengambil dari sisi yang lain, atau paling tidak dia tak menyebut nama. Ini perlu kearifan.
2. Merasa pintar dari hampir setiap orang. Sungguh ini pelajaran yang berharga bagiku, bukan hanya sebagai penulis (pemula) tetapi juga sebagai manusia. Jangan pernah merasa pintar dari orang lain, karena akhirnya kita pasti tak banyak belajar.
3. Dia banyak menyalahkan orang. Ini juga perlu dijadikan pembelajaran bagi kita. Mengapa? Karena ini adalah ciri hidup “below the line.” Mencari kesalahan dari pihak luar hanya membuat kita tak tercerahkan, dan tak akan pernah mendapatkan jalan keluar terhadap permasalahan yang tengah kita hadapi.
4. Dia merasa seperti pakar kebahagiaan, tapi mengapa justru bukunya ditulis tatkala dia [sepertinya] tengah tak berbahagia (Maaf, saya seperti punya sixth sense, yang mampu membaca perasaan seseorang melalui tulisannya, saya yakin banyak juga teman-teman yang mampu melakukan ini di luar sana. Seorang yang biasa menulis, pasti akan peka merasakan ini).
5. Sudut pandangnya terhadap topik yang dia bicarakan tak terlalu dalam. Karena pasti banyak orang yang mampu menguraikan topik ini secara lebih lengkap lagi, yang lebih menginspirasi dan memampukan!

Namun, saya tetap berterima kasih kepadanya, paling tidak dia telah memberi contoh yang membuatku terbuka mata terhadap dunia kepenulisan. Tapi tetap saja aku merenung, “Mengapa ya buku ini laku?” Ada yang bisa menolongku menjawabnya? Ah..

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP