Coba berhenti sejenak. Renungkanlah. Anda dan saya adalah satu. Apakah ini kabar baik bagi kita, atau sebaliknya?

Seperti yang Anda ketahui, bahwa apa pun yang ada di semesta raya ini tersusun oleh energi. Energi vibrasi yang dikenal dengan sebutan quanta. Ini merupakan bahan dasar dari partikel, yang kemudian membentuk atom, dan atom lalu menjadi molekul, yang kemudian menjadi benda-benda apa pun yang ada di muka bumi ini, termasuk Anda dan saya, termasuk tulisan yang ada di depan Anda saat ini.

Energi quanta, yang bergerak sangat cepat kemudian menjadi segala sesuatu yang tak kasat mata, yang tak bisa kita amati dengan lima indera manusiawi kita. Tapi energi kuanta yang gerakan lambat akan membentuk Anda, saya, tulisan yang tengah Anda baca ini, dan semua yang nampak oleh panca indera kita.

Energi kuantum ini adalah energi ilahi, yang sangat luar biasa, yang dasyatnya melebihi segala sesuatu, yang kekuasaannya mampu mengakhiri bumi ini, yang bisa memulai dan mengakhiri semuanya, dan abadi. Saya berasumsi inilah alasan mengapa kita manusia tak luput dari penglihatan dan pengamatan Tuhan, karena energinya berada dimana-mana, bahkan ada diujung rambut kita. Kita memang tak bisa bersembunyi dari matanya yang Arrahman dan Arrahim. Dengan jelinya Seng Maha Kuasa mengamati ulah kita, mengamati kenaifan dan kadang kekonyolan kita. Yang acap membuat dia tersenyum, bahkan mungkin saja, sekali lagi mungkin saja terpingkal-pingkal. Maaf, bukan saya mau berbicara tentang Agama, namun semakin dalam pemahaman dan pengungkapan fakta-fata ilmiah dari para ilmuwan dunia tentang bumi dan semesta raya ini, semakin nyata bahwa Tuhan itu sungguh ada dan Maha Kuasa.

Tapi baiklah kita tak akan berbicara soal itu sekarang. Yang ingin saya sampaikan adalah saya menyayangi Anda. Saya menghormati Anda. Saya berbahagia bahwa kita ditakdirkan untuk saling berhubungan melalui tulisan ini. Anda membaca pemikiran yang saya tuangkan di dalam blog ini. Saya sangat berterimakasih. Itu artinya apa? Itu artinya saya membaca pemikiran saya sendiri. Saya menyayangi diri saya sendiri. Saya berterima kasih pada diri saya sendiri. Disaat yang bersamaan Anda juga memikirkan pemikiran Anda sendiri. Anda mencintai diri Anda sendiri, dan Anda membaca blog ini karena Anda menghargai diri Anda sendiri. Anda paham, maksudku?

Maksudnya adalah kita ini satu. Anda adalah saya, dan saya Adalah Anda, karena kita ini sebenarnya menyatu. Kita dihubungan energi yang sangat luar biasa. Energi Ilahi. Apabila saya tak suka kepada Anda, sejatinya saya tak suka kepada diri sendiri. Apabila saya membeci Anda hakikatnya saya membenci diri saya sendiri, atau bila saya menyintai Anda siapa pun Anda, maka saya menyintai diri sendiri. Mengapa? Karena alasan yang tadi itu, saya adalah Anda. Anda – di mana pun tulisan ini dibaca – adalah saya. Anda adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri saya. Bagian yang tak terpisahkan, yang semakin diperkuat dengan aksara yang tengah Anda sematkan ke relung jiwa Anda ini.

Intinya, mengapa harus ada perang, mengapa harus membunuh, mengapa harus mencuri, mengapa harus menipu, mengapa harus mencaci, padahal itu sesungguhnya kita lakukan kepada diri kita sendiri. Ah, betapa naifnya! Mengapa tidak saling menyayangi saja? Mengapa tidak saling menyintai saja (dengan difinisi cinta yang melampaui batasan tentang cinta yang dikenal oleh kebanyakan manusia). Mengapa tak berbagi saja, bukan sebaliknya, berebut. Berebut untuk sesuatu yang sebenarnya berlimpah, tapi sayang mata kita tertutup oleh awan prasangka tak sehat (biasanya karena terjadi lateralisasi fungsi dua belahan hemisfir otak, kecenderungan dimana otak kiri yang mondominasi, atau tidak koherennya antara otak kiri dan kanan dalam memberi respons terhadap stimuli di luar diri).

Orang semua ingin menjadi yang nomor satu. Orang selalu ingin menjadi pemenang dengan segala cara. Orang ingin mengalahkan dengan telak yang lainnya. Padahal sungguh ini pembunuhan diri sendiri. Harusnya masing-masing sadar bahwa ada takdir yang memainkan peranan dalam kehidupan manusia. Kita memiliki peran masing-masing yang tak tergantikan? Cobalah memainkan peran kita dengan sebaik-baiknya, semualia-mulia, sehebat-hebat yang kita mampu. Demngan cara mengalir saja. Mengalir dengan keyakinan bahwa Sang Maha Kuasa akan membimbing kita. Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah, bukan karena dia memperebutkannya, namun karena memang Beliau punya kualitas luhur, seperti siddiq, amanah, fatonah, tabligh. Bukan karena beliau melakukan segala cara untuk mendapat gelar yang mulia itu. Tidakkah demikian?

Biarkan kita menjadi pemimpin di setiap lini dan jenjangnya secara alami, bukan dengan mengalahkan dan menyudutkan apalagi memfitnah orang lain. Kita menjadi sesuatu karena kita memang dianggap pantas oleh sesama kita. Mandat diberikan sepenuhnya kepada kita karena memang kita memiliki kualitas. Bukan karena akal-akalan. Saya tidak mengingatkan siapa-siapa, saya hanya mengingatkan diri saya sendiri.

Pemahaman kita akan hal ini membuat kita mampu memaknai profesi apa pun sesuai dengan fitrahnya, hakikatnya. Percaya atau tidak, apa pun yang ada dimuka bumi ini harus dipahami secara sempurna. Proses penelitian yang dilakukan oleh para peneliti terkemuka di dunia, pada galibnya untuk mencari hakikat dari kehidupan ini. Karena pemahaman kita pada hakikat sesuatu akan membawa kita pada kualitas hidup yang menyempurna.

Tulisan ini bagi orang-orang tertentu, tak ada gunanya sama sekali, hanya seonggok kata yang tak ada pesan yang berarti. Tapi bagi Anda yang mencoba memahami hakikat dari membaca, ini akan menjadi bermakna, kalau bukan sangat bermakna. Mengapa? Karena Anda mengerti, karena Anda memahami diri Anda, paling tidak mencoba memahami diri.

Sampai disini, mudah-mudahan kita mulai terinspirasi. Coba berhenti sejenak. Renungkanlah. Anda dan saya adalah satu. Apakah ini kabar baik bagi kita, atau sebaliknya?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP