“Kendali sepenuhnya ada di tangan Anda!” Kabar apa lagi itu?

Saya punya teman yang selalu bicara soal kemiskinan. Setiap tulisan di mana saja (termasuk facebooknya), selalu saja dia berkutat seputar masalah ini. Seputar mak-mak penjual sayur yang digusur Satpol PP, yang tak tahu dimana harus berjualan lagi, karena lapaknya sudah dimusnahkan. Tentang sohibnya Udin (bukan temannya Afdel dan Temon, lho), yang tengah dicarinya, karena si Udin ini tidak tidur lagi di emper-emper kaki lima dimana dia biasanya tidur. Tentang Pak Karto yang mati, akibat tak punya uang untuk mengobati sakitnya karena banyak berjemur ketika mengemis. Wah.. Hidup ini benar-benar berat baginya! Kemana pun dia memandang, yang ada cuma kekurangan!


Temanku yang lain justru sebaliknya. Dia selalu menulis atau bicara soal keberlimpahan anugerah yang Tuhan karuniakan untuknya, untuk keluarga dan teman-temannya. Tentang udara yang gratis yang jumlahnya tak berbatas, yang membuat setiap insan merasakan nikmatnya hidup. Tentang kesehatan prima yang membuatnya mampu menunaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk sempurna di muka bumi. Tentang anak-anaknya yang lucu yang bertumbuh membanggakan dan membahagiakan. Tentang cinta dan kasih sayang yang tulus yang terlahir dari hati yang terus dibersihkan, yang mengalir di setiap pori-pori sang kehidupan yang di percayakan Sang Pencipta kepadanya. Tentang rasa syukurnya yang tak terhingga karena sampai saat ini Sang Khalik selalu bersamanya menemaninya dalam suka duka kehidupannya, mengabulkan setiap lafaz doanya, dan terkadang menundanya untuk kebaikannya. Pendek kata, kemana pun mata si teman ini memandang yang ada di sana hanya keindahan. Ada cakrawala yang berhiaskan pelangi! Ya, pelangi sehabis hujan yang menyejukkan.

Kontradiktif, bukan? Meski pun mereka tinggal di kota yang sama, dengan keadaan perekonomian yang relatif tak jauh berbeda. Sama-sama baru mulai “kehidupan”, dan latar belakang keluarga yang sangat mirip – sama2 punya anak dua, sama-sama sarjana (yang pertama S2, yang kedua justru S1), dan sama-sama guru, malah yang pertama sempat tinggal di benua yg lain – tapi sayangnya yang mereka lihat adalah realitas kehidupan di sekitarnya yang bertolak belakang. Lalu saya membatin (sebagai pengamat yang selalu terpana), “Siapa sejatinya yang benar?”

Dari cerita di atas saya menjadi ingat kisah dua orang napi yang memandang ke luar melalui jeruji besi sel mereka, mereka merenung, karena minggu depan mereka sama-sama akan dibebaskan. Napi yang satu memandang lumpur yang kotor dengan hati yang miris, penuh dengan kesedihan menghadapi kenyataan hidup yang mungkin akan dihadapinya nanti di luar penjara. Yang lainnya memandang langit yang biru dengan awan putih yang begitu cerah, hatinya bergelora dengan rasa syukur yang tak terhingga, menanti hari yang bersejarah dalam hidupnya. Kebebasan! Ya, kebebasan!

Menurut Anda napi yang mana yang kemudian menjadi ustad dan siap yang kemudian masuk lagi penjara karena kasus yang sama?

Ada yang menasehati saya seperti ini, “You can complain because roses have thorns, or you can rejoice because thorns have roses.” (Anda bisa mengeluh karena mawar ada durinya, atau Anda bisa bergembira karena duri ada mawarnya).

Nah, jadi berbahagia sajalah, karena hidup adalah masalah pilihan, life is just a matter of choices! Pandang lumpur atau pandang langit dari jendela rumah kehidupan Anda, semuanya sama-sama tersedia dihadapan Anda, dan kendalinya sepenuhnya ada di tangan Anda. Kedua kondisi ini sama-sama nyata. Itu adalah realitas yang tak tersangkalkan yang sedang terjadi di depan mata. Yang mana yang fakta? Kedua-duanya! Yang mana yang realitas? Ya, kedua-duanya. Persepsi saja yang berbeda. Persepsi akan bermuara pada ucapan dan perilaku. Ucapan dan perilaku yang berulang akan memformat habitus dan lalu menjadi nilai-nilai (values) kehidupan, yang pada gilirannya akan mempertemukan kita dengan Sang Nasib.

Baik, lupakan saja sang nasib tadi. Perkenankan saya mengulangi kalimat, “Kendali sepenuhnya ada di tangan Anda!” Kabar baikkah itu? Tentu saja itu kabar baik, walau kadang kebanyakan teman-teman saya (mungkin saya juga) tidak menyadari ini, dan akhirnya melepaskan kendali pada stimulan dan kondisi di luar diri. Kita menjadi responsif, bukan proaktif. Kita menjadi objek, bukan subjek, kita menjadi victim Sang Nasib, lalu dengan jengkel mencari si Nasib Simarmata (ini kawan kuliahku) untuk disalahkan!

Ah, mari menjadi subjek saja. Bagaimana? Mari menjadi raja atas hati dan jiwa kita. Mari menjadi penentu nasib kita. Tak bosan-bosannya aku mengingatkan diri tentang ini. Ya, tak bosan-bosannya kata-kata ini keluar dari mulutku, yang seperti tak mau diam! Semoga ketidakbosanan ini lalu memformat nasib! Nasib, tapi bukan Nasib Simarmata, teman kuliahku di Fakultas Hukum, dulu.. sudah lama. Ya, cukup lama aku tak bersua dia.[]

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP