Apa ya?

Kadang kalo aku baca lagi, blogku ini, aku mikir, wah, ini terlalu serius, sampai-sampai aku agak males nulisnya, apa lagi yang baca ya, hahaha... pasti tambah males. Ada yang berkata, apa yang kita rasakan pada saat menulis, itu akan dirasakan juga oleh si pembaca. Tatkala kita sedih atau disaat kita sedang berbunga-bunga, itu bisa terbaca kendati tak tersuratkan, seperti ada gelombang elektromagnetik yang tak kasat mata yang terpancar dari kata-kata kita dan ditangkap oleh sel-sel saraf siapa pun yg membacanya. Entahlah!

Makanya setiap aku menulis, aku upayakan suasana hatiku lagi nyaman, agar pembaca juga merasakannya. Tapi tentu saja tidak selamanya kita berada di suasana seperti ini, bukan? Bukankah hidup ini terdiri dari beragam rasa? Kadang sedih, kadang bersemangat, tak jarang takut, acap gentar, dan ada pula was-wasnya. Tapi itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih asyik, lebih nikmat, dan lebih membuat kita bersemangat. Bukankah demikian?

Oops, nah khan kata-kataku serius lagi, aku gak ngerti mengapa setiap aku menulis, pasti terkesan berat, sok hebat, sok ngasih petuah, sok arif dan kadang-kadang seperti menasehati, itu bukan hanya terjadi saat ini saja. Itu sudah terjadi sejak aku kecil lho, sejak di kelas 6 SD.

Diaryku selalu saja berbicara tentang hidup, kecamuk rasa hati, dan solusi yang kutawarkan untuk diri sendiri (maklum, aku jauh dari ortu). Teman-temanku selalu bilang, wah, topik percakapanmu berat banget, Dan! Cerita yang lain aja!

Aku sungguh gak mengerti, koq bagiku, gurih, asyik dan perlu, tapi sebaliknya bagi kebanyakan teman-temanku, itu materi yang berat, bikin pusing dan gak enak dibahas. Bagiku bermanfaat, namun untuk orang lain it's just wasting time! Apa ya penyebabnya? Apa karena aku suka merenung ya? Ah, bingung juga!

Udah itu aku cepat sekali lupanya? Aku suka baca, tapi kadang aku lupa dengan apa yang aku baca. Jadi pada saat aku baca ulang sebuah buku, sepertinya itu baru pertama kali kubaca! Wah, aneh ya? Aneh, gak? Apa ada sel saraf yg putus ya di pusat pikirku (brain)? Ada ide? Entahlah? Tapi setelah aku renungkan lebih dalam, ini kudu aku syukuri. Mengapa? Karena konsekwensinya, aku selalu bersemangat membaca setiap buku-buku yang kukoleksi. Yang gilanya lagi, Anda mau tahu?? Aku lupa dengan buku-buku yang aku tulis sendiri. Walhasil, setiap aku baca tulisanku sendiri, aku juga merasa itu baru aku ketahui, hah!!?

Dan ini energi yang hebat bagiku untuk tak bosan2nya mengedit naskah buku yang sedang aku tulis, sampai2 aku gak perlu jasa editor lagi, karena aku selalu mengedit karyaku dengan semangat 45 (emang ada semangat 45?) terminologi itu aku dapat dari mana ya? Nah, khan aku lupa lagi??? Aduh.. ini benar-benar blessings in disguise bagiku... lupa, lupa dan lupa... (apa perlu minum susu yg mengandung IgG, ya?)

Kadang yang anehnya lagi, pada saat aku mengajar, selalu saja ada jawaban terhadap setiap pertanyaan yang diajukan para pembelajarku, selalu saja! Aku tak tahu, entah itu keluar dari mana? Akibatnya murid2ku merasa aku pinter bener... bahkan mereka anggap aku jenius, (maaf agak narsis, boleh khan?), padahal, aku juga gak tahu mengapa aku tahu... like this morning, one of my students asked me, "Sir, what do you call "petinggi" in English?" Then what do you think I was doing at that time? I just smiled and walked to the whiteboard slowly and wrote, "d-i-g-n-i-t-a-r-y".

Tahu gak, friend? Waktu dia tanya itu, aku belum tahu persis apa jawabannya, tapi aku tersenyum saja, aku berjalan pelan dengan keyakinan bahwa sesampai di papan tulis pasti jawabannya akan muncul secara otomatis... dan ternyata memang muncul... sesampai di rumah dengan perasaan ingin tahu, apa benar ya jawabanku itu, aku bolak-balik kamusku untuk mencari tahu, dan ternyata memang benar! Lalu aku bertanya dalam hati, kapan aku belajar ini, ya? Kapan? Kapan? Entahlah?

Ini seringkali terjadi... menurut Howard Gardner paling sedikit ada 9 jenis kecerdasan manusia, bahkan 11 kalau ditambah kecerdasan adversitas, emotional, spiritual. Terserahlah mau berapa jumlahnya, yang penting setiap orang pasti ada beberapa kecerdasan yang paling menonjol dalam dirinya. Aku agak bagus di kecerdasan linguistic/verbal, intrapersonal/intuitif (merenungi diri dan hidup), dan (mungkin) cerdas secara emosional, (ini hasil evaluasi dari menjawab pertanyaan dari test kecerdasan)

Tapi aku kurang cerdas dalam hal:
1. musikal-ritmik
Itulah mengapa aku selalu terpesona dengan teman2 yang bisa bernyanyi, sampai kadang2 - hush, jangan bilang2 ya - air liurku keluar tanpa terasa, hahaha... dan aku paling senang dengan si Andy-Riff, khususnya waktu dia nyanyi di ultah ke-70 Titik Puspa (nonton gak?). Melihatnya waktu itu membuat aku begitu merinding (dan tentu saja melahirkan ide pribadi yang sulit kujabarkan di sini, yang pasti aku menyimpulkannya dalam 3 kata the power of one)
Sekarang pun di TV, Slank lagi nyanyi, yg memubuat hatiku berdetak lebih kencang..
"terlalu manis untuk dilupakan...
kenangan yang indah bersamamu...
tinggalah mimpi...."
Ah, hebatnya anak-anak bangsa ini!

2. visual-spasial,
makanya kalo ngajak aku jalan-jalan jangan ditinggal, pasti pake acara nyasar. Ini sering kali terjadi apalagi kalau aku berjalan sendirian. Makanya kalo aku lagi melakukan perjalanan jauh (pembaca buku ku pasti tahu hobbyku) aku selalu bawa peta.

3. kinestetik-fisik,
kecerdasan yang dimiliki oleh para penari dan pesenam dll, makanya aku gak pintar dance apa lagi goyang inul, wah, jangan ngajak2 ya untuk menghadiri pesta atau apa pun yang ada acara beginiannya, ampuuun, boss.

Inilah kekuranganku, disamping bejibun kekurangan2ku yang lain, Tapi yang pasti aku bersyukur, aku terima ini dan aku fokus saja pada segala anugerah yang diberikan Tuhan sekecil apa pun itu. Fokus saja pada rahmat (bukan bpk yang jual gado-gado itu lho!), dan niscaya berkah akan melumuri hidup kita!

Eh, ngomong-ngomong, aku sedang menulis apa ya? Koq, jadi sampai membahas ini. Padahal tadi waktu aku menulis judul, saking bingungnya, kutulis, "Apa ya?" Aduuh, alangkah bermisterinya hidup ini, apa yang terjadi kadang tak bisa diprediksi.... Ada saran?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP