Mimpi Diperujung Tahun

Pagi ini aku sungguh merasa sangat tersentuh. Aku melihat sebuah kenyataan yang terkadang tak mampu kita elakkan. Banyak episode-epsode dalam kehidupan yang kerap mengharuskan airmata harus berjatuhan. Kerasnya hidup kerap membuat batin harus meronta, membuat bulir-bulir lembam kepedihan harus menghiasi sekujur tubuh kita. Aku tak tahu harus berkata apa lagi tatkala aku melihat banyak ketidakberuntungan disekitarku. Banyak lara yang harus ditanggung oleh sesamaku. Banyak dera yang harusnya belum saatnya dirasakan oleh jiwa-jiwa mereka yang masih belia.

Anak2 yang ‘terlahir’ di tengah-tengah keluarga yang tak mampu, di tengah-tengah keluarga yang serba kekurangan. Anak-anak yang mestinya tak harus mencuri hanya untuk menjalankan roda kehidupan keluarganya. Anak-anak yang tak perlu berperilaku yang aneh-aneh hanya membantu makan keluarganya sehari-hari. Anak-anak yang harus mencari jalan pintas untuk sekadar mendapat uang untuk diberikan kepada neneknya, agar mereka bisa sekadar makan ala kadarnya hari itu.

Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini? Ketimpangan perekonomian ini sudah melampaui ambang batas. Sementara para koruptor dengan bebasnya membelanjakan uang rakyat dengan tidak berperasaan sama sekali. Menghambur-hamburkan uang bepergian ke negeri-negeri indah di ujung dunia. Berpestapora, seakan pestanya tak akan pernah usai. Membuang-buang uang yang jumlahnya hanya bisa menjadi mimpi rakyat kebanyakan. Jumlah fantastis yang tak akan pernah mereka miliki sepanjang hidup mereka. Bangsaku benar-benar sedang sakit!! Bangsaku sedang kena borok di kedua kakinya yang benar2 harus diamputasi.

Siapakah yang harus aku salahkan? Pemerintahkah? Nasibkah? Sistem dalam menjalankan roda raksasa negeri inikah? Atau justru aku yang salah? Aku yang tak mampu memberikan yang terbaik untuk bangsaku. Aku yang tak bisa sedikit mengambil peran agar ketimpangan perekonomian bangsa ini tidak seperti jurang yang menganga Aku yang hanya bisa menangis pilu tatkala peristiwa-peristiwa ini terjadi di depan mataku.Seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa melihat ketidakadilan di depan matanya. (Tapi sungguh aku bukan anak kecil lagi. Mereka salah kalau mereka berpikir demikian).

Ya, ini kesalahanku. Tapi mungkin juga ini sekadar mimpi burukku! Kawan, tolong bangunkan aku!

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP