Menulislah Seperti Engkau Bernafas!

Palembang, Hari kesepuluh tahun kesepuluh!

Pagi ini ada tetangga – yang senang sekali menulis – menginginkan tulisannya bisa diterbitkan. Tema tulisannya memang tak sama denganku. Dia menulis fiksi remaja. Sangat berbeda dari jenis tulisan yang biasa aku terbitkan yaitu nonfiksi (ilmiah popular). Melihat keseriusannya menulis, aku terkesan sekali.

Aku belum menjawab, apakah aku mau atau tidak menerbitkan tulisan-tulisannya. Aku mau melihatnya terus bermetamorfosis menjadi penulis sesungguhnya. Besar sekali kansnya, karena bila dia terus menerus menulis maka kualitas tulisannya pasti akan semakin terasah (mengingat usianya yang lumayan muda).

Secara pribadi, menulis itu bagiku seperti belajar keahlian yang lainnya. Seperti kita belajar bersepeda, berkendaraan roda dua atau roda empat, bahkan seperti kita belajar Bahasa Inggris. Mengerti hakikatnya dan yang pasti terus menerus melatihnya. Banyak membaca karya orang lain untuk memperkaya wawasan kita, adalah tip lainnya dalam memperindah tulisan kita. Menulis intinya harus terus menerus diasah, melalui menulis, merenung, membaca dan menuliskannya lagi.

Bagaimana melatihnya? Mungkin ada diantara Anda yang bertanya seperti ini. Baik, kawan, tuliskan saja apa pun yang ada dibenakmu. Tak usah segan-segan. Tuliskan apa pun yang ada di hati . Apa pun itu. Bila kita tengah jengkel dengan suatu keadaan, tuliskan saja, sambil kita mencari penyelesaian, melalui kontemplasi yang kita tuangkan lewat tulisan tersebut. Ini ada langkah yang biasanya aku lakukan, ketika melatih menulis. (sampai sekarang aku masih melatih menulis lho.. he.. he..)

Banyak sekali permasalahan hidup yang kita - Anda dan saya - alami, yang justru kemudian menjadi berkah bagi kita, karena itu merupakan kesempatan kita untuk berkontemplasi dan mencari solusi lewat aksara.

Jaman tekhnologi canggih seperti saat ini, kita bisa menyebarkan dengan mudah apa saja bentuk dan tema guratan aksara kita, melalui blog, misalnya! Tengah malam pun kita bisa dengan leluasa menyampaikan apa pun uneg-uneg di hati kita, dan real time! Tak ada yang bisa menghalangi kita untuk menyampaikan apa pun!

Tapi tulisan yang bagus akan mendapat tempat di hati pembaca. Sebaliknya tulisan yang tak bagus tidak akan dihiraukan.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana membuat tulisan kita bagus? Bagaimana membuat tulisan kita dilirik orang? Atau bahkan dilirik penerbit untuk menerbitkannya?. Saya pun masih mencari-cari. Tapi yang saya yakini kebenarannya adalah menulislah dari hati. Menulislah secara jujur dan ikhlas. Menulislah untuk membuat orang lain menjadi terinspirasi. Menulislah seolah-olah kita tengah bercerita dengan seseorang yang kita sayangi.

Punyakah Anda dan saya orang benar-benar disayangi? Kalau tidak punya, (tapi biasanya punya) cari saja seseorang yang Engkau kagumi baik di dunia nyata, mau pun di dunia maya ini. Lalu menulislah seolah-olah Engkau menulis untuk dia. Maka tulisanmu otomatis akan bermakna, penuh warna dan menyempurna!

Yang perlu dihindari adalah menulis sesuatu yang mengandung kebohongan! Jadi jangan bohong! Jangan ada keinginan-keinginan yang tak baik, karena itu bisa terbaca kendati tak tertuliskan di tulisan kita.

Terus terang, kerapkali terlintas dipikiran bahwa tujuan kita menulis agar orang menghargai kita secara intelektual (niat seperti ini pun akan menjadi noda dalam tulisan kita), atau yang tak kalah seringnya, kita ingin menunjukkan kepada pembaca betapa kita ini hebat dalam merangkai kata. Ini juga noda yang merusak susu sebelanga.. he..he..he.

Hakikat mulia dari menulis adalah membuat pembaca lebih baik, membuat mereka menjadi terinspirasi, atau setidaknya membuat mereka termotivasi. Inilah sebenarnya inti dari eksistensi sebuah tulisan yang baik, dan serig dilupakan oleh penulis-penulis kebanyakan (termasuk saya).

Kita bisa menulis panjang-panjang bahkan puluhan ribu kata, tapi tak satu pun penerbit berminat untuk menerbitkannya. Mengapa? Ya, itu tadi. Esensi mulia dari menulis itu terabaikan. Apa esensi mulia itu? Sekali lagi ya, esensi mulia menulis itu menurutku (Mungkin, pakar2 seperti Pramudya Ananta Toer (alm), Arswendo Atmowiloto, Prie GS, atau Gola Gong, dll bisa lebih lengkap lagi) adalah kejujuran, keihklasan dan niat baik tatkala kita menulis.

Okay, balik ketetangga saya yang minta karyanya saya terbitkan. Akhirnya di FB-nya saya menulis begini (dalam bahasa Palembang):

Terus be nulis, ye. Semangat terus, jangan pernah berhenti! Bayangkan tulisanmu seperti tulisan Pipit Senja, Fira Basuki, atau bak Andrea Hirata.

Dulu waktu aku nulis buku pertamoku, supayo semangat, aku ambil satu paragrap tulisan Gede Prama (walau katek hubungan dengan topik bukuku), aku ketik tulisan beliau ini di atas tulisan yang hendak aku tulis, aku amati kato-katonyo, "Ah.. biaso be!" pikirku. Ngapo aku dak biso nulis seperti itu! Ah, pasti biso.. pasti biso! Dan ternyata akhirnya biso nian jadilah buku dan diterbit Elex Media Komputindo (Gramedia Group) Jakarta 2005!

Coba amati Andrea Hirata, dio berani menjadi diri sendiri dalam arti pemilihan kata (diksi). Itu penting. Be yourself! Ini akan membuat tulisan kito punyo karakter!! (kejujuran dalam menulis)

Okay, kawan kayaknya itu dulu postinganku hari ini. Semoga ada manfaatnya!. Terimakasih. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya. Mudah-mudahan saya diberi kekuatan untuk melakukan apa yang saya pikirkan ini ya..

Klik :Tulisan sebelumnya

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP