Adakah Shakespeare lebih berhak daripada HAMKA untuk menulis?


Sudah 7 hari di tahun yang sangat baru ini. Apa ceritaku ya? Oops..wait.. ada sms nih dari pembaca bukuku.  Wah, lumayan nih untuk tambah2 cerita di hari Kamis ini. Mungkin perlu kutulis di sini ya smsnya.. Begini isinya:

Saya Ayik di Jogja, 42 th, Ibu 4 anak, saya baru baca buku Anda Menyibak Tabir Hidup. Saya sangat menghayati setiap kata di buku Anda, luar biasa! Buku Anda sangat insfiratif bagi pembaca, khususnya saya pribadi, setiap kata, setiap kalimat sangat bersinergy dengan pemikiran saya. Saya tunggu buku Anda selanjutnya.


Salam kenal, matur sembah nuwun.
+6281579847xx

Terus terang respons seperti ini bagi seorang penulis adalah seperti bensin. Bensin yang mengobarkan semangatnya untuk terus menulis dan menulis. Tak ada yang lebih indah dari apresiasi yang disampaikan oleh pembaca yang keluar dari hati mereka yg terdalam. Tapi.. oops ada tapinya nih..,,

Tapi hinaan atau kritik dari pembaca, kerap tak kalah bermanfaatnya. Ini sarana bagi penulis untuk memperkaya wawasan menulisnya. Seperti beberapa hari yang lalu. Ada seorang pembaca yang mengirim sms seperti ini:

Saya Caecil.  Siapakah sdr Dani?? Saya baca bukumu yang tentang pendidikan. Saya ingin tanya, dengan bendera apa anda mengamati dunia pendidikan?? Trim..

+62813255846xx

Ini jelas tidak bernada sanjungan, bukan? Hatiku berdegup.. detakannya lain, tapi kadar kenikmatannya lebih tinggi dari yang bernada pujian.

Dari sms seperti inilah aku banyak belajar. Banyak berkontemplasi untuk terus mencari jawaban tentang siapakah aku ini. Siapakah gerangan diri ini? Aku lalu bertanya ke hatiku.

Aku barangkali hanyalah segumpal darah, daging dan tulang belulang dan serangkaian organ-organ tubuh yang bekerja secara harmonis dan membentuk sosok, lalu memiliki ruh. Ruh atau jiwa yang ditiupkan oleh Sang Mahapencipta, sehingga menjadi makhluk yang bernama manusia, human, atau “jolma” (hayo bahasa mana itu?).

Siapakah aku? Aku adalah aku, sekaligus aku adalah Engkau, Aku adalah udara, api, air dan tanah. Aku adalah pohon-pohon, rumah yang engkau tempati, bahkan aku adalah hatimu.. Karena aku tak lebih dan tak kurang darimu.. karena kita tercipta dari bahan yang sama, unsur yang sama, unsur cinta kasih sang Mahapengasih. Engkau tak kurang dan tak lebih dariku!

Jadi kalau aku adalah anasir yang juga membentuk dirimu, bahkan membentuk alam semesta ini mengapa kita harus bertanya lagi? Adakah Shakespeare lebih berhak daripada HAMKA untuk menulis? Atau Soekarno lebih berhak untuk mengatakan "Aku adalah penyambung lidah rakyat," daripada Pak Ahmad penjual sayur? Padahal dia adalah rakyat yang sebenarnya?

Mengapa menulis hanya dikonotasikan dengan jabatan-jabatan, kedudukan, atau gelar-gelar  akademisi atau sosial yang tak jarang hanya omong kosong?

Lalu, tiba-tiba hatiku dari kisi yang lain berbisik, “Kawan, dia hanya kebingungan, jadikan semangatmu untuk mencari jawabnya tentang siapa kamu!”

Kemudian jiwaku berbisik, Saudari Caecil, aku ucapkan terima kasih atas pertanyaannmu. Semoga kita sama-sama tercerahkan untuk menjawab tentang siapakah diri kita ini, karena ini pertanyaan yang sangat penting dalam memaknai perjalanan hidup yang sementara ini. Bukankah demikian?

home

ADVERSITY INTELLIGENCE

EMOTIONAL INTTELLIGENCE

Spiritual Intelligence

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang (c) All Right Reserved
Dilarang Memperbanyak (copy paste) Sebagian atau Seluruh Isi Blog Ini
Tanpa Izin Resmi dari Pemiliknya.

Terima Kasih.

  © DANI RONNIE M A TEACHER, BOOK WRITER And PUBLIC SPEAKER Supported by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP